Dr.Wigih : Jerawat Kedua


Sudah dua bulan terakhir ini, muka saya jerawatan. Parah. Jerawat batu-batu merintis di area dahi yang super lebar ini. Biasanya, mrintis akan hilang dengan sendirinya. Tapi, ini beda.  Hilang satu, tumbuh seribu. Begitu terus. Kalau lagi keringetan, dahi rasanya kayak digigit semut. Clekit-clekit sakit nya sampai ke dasar jiwa. (haha, abaikan).

Lalu, apa kabar krim wajah? Krim sun block masih banyak, tapi sudah enam bulan ini saya abaikan. Males sangat. Sampai kadaluarsa bok. Jadi? Yes, muka telanjang tanpa sun block saat kerja semakin terbiasa. Apalagi saya tipe yang nggak suka pakai make up apapun. Bisa bayangkan muka ini kayak apa? Sudahlah, jangan dibayangkan. hehe. 

Sampai akhirnya kemarin di Surabaya, selesai mandi saya ngaca. Wow. Udah parah nih. Harus segera perawatan lagi. Setelah dapat ijin suami, saya pun meluncur ke Dr.Wigih (lagi).

Continue reading “Dr.Wigih : Jerawat Kedua”

Pengalaman Mengurus Surat Pindah KK dari Sidoarjo ke Surabaya


Selesai married, nambah lagi satu PR yang harus dituntaskan segera. Ya, mengurus surat pindah KK. Buat kalian yang tinggal di satu kota, bersyukurlah karena tidak perlu mengurus surat pindah macam ini. Tapi, buat kalian yang seperti saya – rumah suami beda kota sama rumah orang tua saya, ya mau nggak mau harus mengurus surat pindah. Beda kota, padahal Cuma Sidoarjo ke Surabaya doang ya. Haha..

Kenapa?

Semakin cepat suami dan istri berada di satu KK (kartu keluarga), semakin baik. Nanti, kalau punya anak – akte kelahiran bisa diurus lebih cepat. Atau, nanti kita butuh mengajukan dana tertentu ke bank juga lebih mudah karena data suami dan istri sudah berada di satu KK. Atau juga, mengurus surat-surat terkait identitas warga Negara juga lebih mudah.

Gimana rasanya? Haha.. agak takut ruwet di awal. Sempat kepikiran mau pakai jasa calo. Tapi sayang duwitnya (ngirit bin pelit). Akhirnya bertekad, pasti bisaaaa…!! Coba urus sendiri deh, kalau masih ribet – baru pakai jasa calo.

Dan, ternyata tidak seseram yang saya pikir sebelumnya. Cukup mudah. Hehe. Selama, kita mengikuti prosedurnya. Tapi saya nggak sendirian sih. Saya dibantu sama ibu dan suami. Bagaimana caranya?

  1. Siapkan hati yang lapang, dan iklash. Bismillah dulu ya. Haha.. eh beneran deh, karena mengurus surat-surat begini itu berhubungan dengan banyak orang. (pak RT, pak RW, camat, lurah, dll) Dan, setiap orang itu kan karakternya beda-beda. Ada yang galak, ada yang sibuk, ada yang nyebelin. Semoga kita nggak dipertemukan dengan karakter orang yang seperti itu, dan selalu dikondisikan dalam keadaan baik. Dan, dengan begitu banyaknya berkas – kadang kita lupa. Atau ada yang keselip trus hilang entah kemana. Mudah-mudahan, ktia selalu diingatkan dan dijauhkan dari lupa. Jadi, mengurus surat-surat pun bisa lebih cepat dan mudah. Lebay ya? Tapi penting lho. Hehe.
  2. Next! Siapkan dulu berkas-berkas sebagai berikut :
    1. Duwit : 100ribu. Buat apa? Haha. Ya buat biaya kita sendiri guys. Tenang aja, di kelurahan, kecamatan, dispenduk – kagak ada biaya. Alias free!! Tapi, tetep kita butuh duwit untuk :
      1. Fotocopy
      2. Cetak foto
      3. Bensin
      4. Biaya administrasi di KUA.
    2. Foto 4×6 = 20 lembar (saya pakai bg. Biru). Buat apa foto sebanyak itu?
      1. u/ arsip kelurahan & kecamatan asal
      2. u/ membuat SKCK
      3. u/ arsip dispenduK
      4. u/ arsip kelurahan & kecamatan tujuan
      5. u/ jaga-jaga. Haha.
    3. Foto 3×4 = 10 lembar (saya pakai bg. Biru). Saya lupa, untuk apa aja. Tapi disiapin aja lah, daripada bolak-balik cetak foto gara-gara kurang.
    4. Surat keterangan pindah KK dari RT & RW & fotocopy = 10x.
      1. Fotocopy KK asal = 10x
      2. Fotocopy akte kelahiran = 10x
      3. Fotocopy ijasah = 10x
      4. Fotocopy & legalisir surat nikah = 11x. Ganjil ya? Ya, karena 1 lembarnya akan diminta KUA nya buat arsip. Oh ya, siapin duwit juga. Biasanya, ada biaya administrasi. Kalau di KUA tempat saya, biaya seiklashnya. Saya sendiri kasih 20 ribu. Kalau di KUA tempat suami saya, dikenakan biaya 50ribu.
      5. SKCK
    5. Fotocopy KK tujuan = 10x
    6. Fotocopy KTP kepala keluarga tujuan = 10x
    7. Fotocopy NPWP = 10x
  1. Mengurus surat keterangan pindah dari RT – RW
    • Waktu : 1 jam (karena kebetulan sekretaris RT, Pak RT, dan Pak RW sedang available semua)
    • Biaya : 0,-
      1. Bawa fotocopy KK & KTP lalu datang ke sekretariat RT untuk dibuatkan form / surat keterangan.
      2. Menuju ke Pak RT, buat minta tanda tangan & stempel RT.
      3. Menuju ke Pak RW, buat minta tanda tangan & stempel RW.
  2. Mengurus surat keterangan ke Kelurahan asal.
    • Waktu : 1 hari jadi.
  3. Lanjut ke kecamatan asal.
    • Waktu : 1 hari jadi
  4. Menuju dispenduk asal.
    • Setelah itu, kita akan mendapatkan satu bendel dokumen yang sudah dikelompok-kelompokkan. Satu dokumen untuk diserahkan ke kelurahan tujuan. Satu dokumen untuk diserahkan ke kecamatan tujuan. Satu dokumen untuk diserahkan ke dispenduk tujuan. Semua dokumen ini, dibawa aja semuanya. Nanti, petugas kelurahan tujuan yang akan membantu memilah-milah.
    • Waktu : 3 minggu. (ini nih yang bikin lama!)
    • Setelah itu, KTP Asal akan dikembalikan dan diplong (dilubangi) dan nama kita resmi dicoret dari KK lama.
  5. Selamat! Selama fase menunggu pindah KK di tempat baru, anda tidak punya identitas resmi. Horeee!!
  6. Menuju ke kelurahan tujuan.
    • Waktu : 1 hari jadi. Ini cepet kok. Cuman naruh dokumen-dokumen di atas aja untuk minta tanda tangan dan rekomendasi menuju kecamatan. Sebenarnya, bisa ditungguin atau diambil sorenya. Tapi, karena waktu itu – Lurah nya sedang ada meeting di kecamatan, butuh waktu agak lama. Daripada nungguin boring, mending saya tinggal dan lanjut kerja deh. Dan, besok baru saya ambil lagi.
    • Biaya : 0,-
    • Dan, saya suka dengan Bu Alvi –salah satu pegawai kelurahan yang membantu dengan sangat ramah dan jelas. Nggak bertele-tele, dan ibu nya sabar banget meladeni pertanyaan-pertanyaan saya. an dengan kelurahan. Saya semakin semangat untuk mengurus surat pindah ini sendiri tanpa menggunakan jasa calo atau menyuruh orang lain.
    • Saya sendiri dua kali ke kelurahan, karena ada beberapa dokumen yang belum lengkap. Seperti :
      1. Legalisir surat nikah = 4x.
      2. Foto 4×6 = 4x
      3. Surat penjamin tempat tinggal = dibantuin ngisi sama pegawai kelurahannya. Butuh dua penjamin. Yang pertama, dari si kepala keluarga di rumah yang kita tempati nantinya. Dalam hal ini, ya suami saya sendiri. Dan kedua, bisa dari tempat kerja (kantor) domisili tujuan. Caranya? Minta tanda tangan doang di atas materai men! Gampang.
      4. Materai = 4 buah
      5. Fotocopy KK tujuan
  7. Setelah itu, kita akan dikasih tahu apa saja yang harus dilengkapi di kecamatan nanti.
  8. Menuju ke kecamatan. Ngapain?
    1. Siapkan lagi dokumen-dokumennya. Dan pastikan, tidak ada yang tertinggal atau belum difotocopy.
    2. Sama seperti di kelurahan, naruh dokumen doang. Minta tanda tangan dan minta rekomendasi untuk menuju ke dispenduk.
    3. Waktu : Maksimal 1 hari. Kalau suasana di kecamatan sedang agak luang, mungkin bisa ditunggu.
    4. Dari kecamatan, kita akan diarahkan untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang nanti akan diminta di dispenduk. Cuma fotocopy aja kok, bukan membuat baru.
  9. Menuju Dispenduk
    1. Menyerahkan :
      1. dokumen dari kecamatan
      2. KTP asal – asli
      3. Fotocopy dokumen dari kecamatan.
      4. Boleh diwakilkan, tapi lebih baik datang sendiri kesini. Petugas dispenduk akan lebih ramah jika kita mau mengurus sendiri
      5. Waktu : tidak tentu tergantung tingkat keramaiannya, tapi 1 hari jadi. Ditungguin ya. Kita akan mendapatkan nomor antrian. Setelah dipanggil oleh petugas dispenduk, kita akan diminta untuk menunggu. Jadi, kamu-kamu yang bekerja – sebaiknya siapkan cuti atau ijin satu hari untuk ke dispenduk.
      6. Setelah itu, kita diminta menunggu selama 7 hari kerja. Dan, dokumen bisa diambil ke kecamatan tujuan.

Nah, saya baru sampai tahap ini sekarang. Masih lama ya? Haha.. Nggak kok. Setelah ini, saya akan menuju kecamatan untuk mengambil dokumen-dokumen yang sudah diverifikasi oleh dispenduk.

Menjalani proses yang panjang diatas, saya membutuhkan waktu hampir dua bulan. Yang lama di Sidoarjo nya malah. Fyuh.. Semoga tetap dilancarkan sampai saya bisa pindah ke KK baru dan mendapat KTP baru.

Selanjutnya? Akan saya share di postingan selanjutnya.

 

 

Jerawat!


Aduh… setelah sekian tahun, akhirnya saya ke dokter wajah lagi. Bukan karena kemendel… .___.

ya.. ini gara-gara mendadak wajah saya jerawatan. Akk… >____< . Bête kalau ngaca. Ngeliat muka sendiri yang berantakan, bikin suasana hati nggak bagus. Haha… Bayangin gimana kalau orang lain yang liat ya??

Padahal untuk perawatan muka, masih sama. Halah… bukan perawatan yang kayak mbak-mbak cantik itu. Yang simple-simple aja. Sebelum pergi pakai sunblock (kalau pagi/siang) dan membersihkan muka saat mandi seperti biasa. Produk nya juga pasaran kok… sunblock dan pembersih wajah dari Olay. Nggak pake facial rutin, kalau lagi pengin aja baru facial. Gitu-gitu lah…

Saya agak heboh, karena jerawat yang ini aneh… muncul jerawat satu per satu (tapi pasti) dan menyebar di area pipi, dagu, dahi, dan hidung. (Kalo diliat-liat, Modelnya kayak kena cacar air versi mini) Jerawat ini, cukup unik karena awalnya memerah, linu, trus memutih di ujung tapi bentuknya kecil dan lama kelamaan menghitam. Dan dibiarkan pun juga nggak hilang. Kalau habis mandi, dilap pake handuk..langsung clekit clekit…

Saya kasih minyak tawon juga nggak hilang. (*biasanya, kalau jerawat saya dikasih minyak tawon langsung kempes lho! Teori ngawurisasi). Dan merintis-merintis semakin banyak. Jadi.. saya pun makin gemes buat mencet jerawat ini. Ketika dipencet, keluarnya lagi-lagi jerawat yang keras membatu.

Akhirnya, saya berniat ke dokter kulit yang pernah membantu menyembuhkan masalah kulit wajah saya jaman SMA dulu. Hampir 9 atau 10 tahun yang lalu. Waktu itu, karena wajah saya kering banget dan ada putih-putih (*tapi bukan panu lhoo), saya menyebutnya “tratak’en”. Dan waktu itu juga ada jerawat yang tumbuh berderet-deret di sekitar hidung dekat mata. Ya… kata ibu saya itu disebut jerawat batu. Jerawat yang cukup menyebalkan, karena mereka bisa bertahan disana selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Alhamdulillah.. cukup sekali aja ke dokter itu dan sembuh. Cocok dong ya?

Saya Cuma ingat, namanya Dokter Wigih. Itu aja. Kartu nama yang dulu diberi pun lenyap entah kemana. Saya tanya ke klinik yang dulu, ternyata sudah lama tidak praktek disana (kebetulan klinik nya di deket rumah – Klinik Citra Gading Rewwin). Saya browsing di google, nimbrung di forum-forum, observasi… Ternyata dokter Wigih Wuryaningrum, Sp.KK praktek di Erha Clinic Surabaya dan Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru.

Akhirnya pun kemarin saya memutuskan untuk ke RS. Mitra Keluarga Waru (tempat bebi Ken lahir) untuk jumpa dengan Dr.Wigih. (Cari yang dekat rumah aja…..). Dokter Wigih praktek disana dari Senin – Jumat, pagi dan malam. Cuma sejam doing lho Alhamdulillah ketemu! Yeyy… Dokter Wigih masih sama cantiknya kayak dulu… Hihihi.. dan masih sangat ramah. Huuhuhu..suka deh! Katanya, jerawat di pipi ini tumbuh ke dalam. Dan, karena pernah dipencet-pencet, jerawatnya jadi nggak keluar semua…sisa jerawat jadi numpuk di dalam. Jadinya, menghitam. Hiks…

Lalu, jerawat-jerawat ini pun disuntik… Diberi obat, untuk mengeluarkan sisa jerawat yang ada di dalam. Dikasih obat aja pun bisa, tanpa harus disuntik. Karena saya penginnya cepet hilang, jadi okelah…suntik saja! Uhh.. untuk pertama kalinya, saya disuntik di wajah! Akk….disuntuk di titik-titik jerawatnya. Sakit? Ya..sakit nya pas kena jerawat yang agak besar aja. Kalau jerawat yang kecil-kecil, rasanya kayak digigit semut. Semut gede tapi nya… haha.. ya, sakit.
Selesai proses berdarah-darah itu, saya diberi beberapa resep obat untuk diminum dan krim wajah. “Sebulan ini jangan makan pedes sama goreng-gorengan dulu ya…” Kata dokter Wigih ramah. Hooo….oke.. sebulan puasa pedes & gorengan demi menghapus jerawat.
Saya pikir nggak terlalu mahal ya, untuk ukuran perawatan wajah intensif. Karena, dapet banyak banget krim sama obat nya. Buahaha… Ada dua krim yang dipakai waktu pagi hari, dan dua krim yang dipakai saat malam hari. Ada sabun wajah dan toner pembersih wajah. Untuk obat minumnya, saya diberi obat jerawat, obat anti jamur dan antibiotik. Ehmm… jadi muka saya ini berjamur? Gitu? Sampe dikasih obat anti jamur. Ihik..

Sampai rumah saya ngaca..wow..merah-merah bung.. bekas suntikan tadi. Eh, Tapi pagi tadi saya lihat, udah nggak merah, haha… beneran lho, jerawat langsung kempes pes pes…~ Tinggal ngilangin bekas-bekasnya aja. Semoga kulit wajah saya kembali seperti semula…Amin!
Untung pas long weekend, jadi selama tiga hari ini saya mau stay at home saja. Menyembunyikan wajah monster!
Oh iya, ada yang bermasalah kulit wajah juga? Ehmm.. saya rekomendasikan ke Dokter Wigih Wuryaningrum. Dokternya cantik, baik dan ramah banget. Ya…saya memang belum tau dokter yang lain kayak gimana sih *nggak bisa bandingin…* , soalnya kalo urusan wajah…nggak mau coba-coba. Sekali cocok ke dokter itu, ya kesitu aja. Hehe.
Dan, krim nya nggak mahal. Katanya sih bisa dipake untuk dua bulan. Dan dulu pun, krim yang saya pakai malah bisa dua bulan lebih. Tapi kalau lagi parah kayak wajah saya, mungkin ya…satu bulan. Tapi kalau udah sembuh, ya udah… nggak usah bolak balik lagi. Mau nya sih nanti kalau balik lagi, langsung ke tempat praktik nya sendiri aja.

Oh iya.. Dokter Wigih praktek setiap hari! Dan pastikan, udah bikin janji dulu. Maklum, Pasiennya banyak bro.. Untuk tempat praktek Dokter Wigih Wuryaningrum, Sp.KK ada di :

1. Ruko Tropodo Sidoarjo (arah ke bandara Juanda). Everyday. Praktek dari jam 19.00 – 20.00.

2. Rumah Sakit Mitra Keluarga, praktek dari jam 08.00 – 09.00 (senin s/d sabtu) dan  18.00 – 19.00 (senen-rabu-jumat).

3. Erha Clinic praktek dari Workday, jam 9.00 – 17.00 (kalo ga salah).

Dan No tlp nya : 031 – 8671323. Ada sih no Hp sama Pin BB nya. Hehe.. Yang minat, japrik aja ya…

Seandainya saya bisa menemukan “Gita”


Ahaha… Setelah melihat video ini, saya langsung ingat sama temen kecil dulu. Saya nggak tahu, dimana dia, seperti apa wajahnya, dan apa kesibukannya sekarang. Sagita  Rini Permatasari.  Bocah yang menemani tahun-tahun saya sampai di SD  kelas dua. Masih kecil sekali. Dan Gita adalah topik favorit saat ujian mengarang cerita di pelajaran Bahasa Indonesia saat SD, SMP dan SMA. Luar biasa kan? Saya tidak akan bosan menceritakan tentang Gita. Dan, nanti ketika saya punya anak, saya akan ceritakan tentang Gita. Haha…

Meskipun sudah lama berlalu, saya masih ingat semua yang kita dulu lakukan waktu kecil. Hihihi. Lucu. Ya, mungkin ada yang terlewat satu atau dua cerita. Dan, saya ingin sekali bertemu dengan Gita berharap dia mau memberikan lengkap cerita kita. Itupun kalau dia ingat.

01_you_and_i_were_childhood_friendsSaya nggak punya fotonya. Tapi dalam ingatan saya, Gita punya Kulit putih seperti kulit orang cina. Matanya juga sipit seperti mata orang cina. Badannya gemuk berisi. Rambutnya dipotong sama mama nya model bob pendek. Dan, dia selalu ceria. Ulang tahunnya, kalau nggak salah tanggal 26 atau 24 Desember. Yang pasti tidak jauh dari hari Natal. Gita, anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertama, namanya Ika. Yang ketiga, namanya Arya. Dan si bungsu adalah Ragil atau Agil (agak lupa).

Keluarga kami juga cukup dekat. Kita selalu bermain bersama.

Kita sering main lompat tali dan engkle bersama. Sepedaan bersama keliling komplek. Mainan favorit saya adalah lompat tali. Dan Gita pun juga suka. Kita pernah  main ibuk-ibuk an. Di atas tumpukan paving, trus menumpuk bata-bata paving itu dan menyusunnya seolah menjadi ruang-ruang dalam rumah. Lalu, kita juga pernah main masak-masakan yang hampir membakar halaman depan rumah orang entah punya siapa (rumah kosong). Dan, saya juga tidak lupa makan nasi goreng siap saji yang tinggal diseduh di dalam kemasan. Karena warnanya hijau tua, seperti warna baju tentara. Haha. Ayah Gita adalah seorang tentara (pikir saya waktu itu), dan setelahnya saya baru tahu kalau ternyata ayahnya bekerja di salah satu partai politik sebagai penjaga keamanan.

Saya yang dulu tidak mau pakai sepatu yang dijual oleh penjual sepatu keliling (karena malu), akhirnya mau pakai sepatu itu karena Gita juga memakainya. Lalu, saat orang tua saya tidak di rumah, saya selalu main ke rumahnya. Saya juga ingat, ketika Gita marah karena selalu dibanding-bandingkan nilai sekolahnya dengan saya. Sekolah kita bersebelahan. Saya sekolah di SDN Kepuh  Kiriman I dan Gita sekolah di SDN Kepuh Kiriman II. Rumah kita juga bersebelahan.

Halaman rumah saya, dipagari bunga matahari. Yang berasal dari halaman rumah Gita. Bagus sekali.  Sampai sekarang, bunga matahari jadi salah satu bunga favorit saya. Karena setiap melihat bunga matahari, saya selalu ingat Gita. Saya ingat, kita mengambil biji bunga matahari itu, dan memberikannya ke hamster, hewan peliharaannya.

January-15-1024x682(pp_w880_h586)Tertawa bersama, pun juga tidak luput bertengkar nya. Haha. Namanya juga anak-anak. Entah bertengkar karena apa, yang saya ingat kita pernah adu mulut.  Trus “nggak bolo an”. Bersumpah mati nggak akan pernah mau berteman lagi. Dan besoknya, kita kembali tertawa dan main petak umpet melupakan sumpah itu. Hhahaha.

Suatu ketika, dia bilang. “Itak, aku mau pindah rumah.”. Itu bukan yang pertama dia bilang seperti itu. Beberapa bulan dan tahun sebelumnya juga pernah bilang begitu. Tapi toh, tidak pindah-pindah juga. Jadi, saya anggap enteng saja. “Mau pindah kemana?”, tanya saya polos. “Nggak tahu, mamaku sudah diusir sama yang punya rumah. Katanya, belum bayar.”,kata Gita. Saya lupa bagaimana ekspresinya waktu itu. Karena keesokan hari nya, dia bersikap seperti biasa. Kita bermain bersama lagi. Dan ceria seperti biasanya. Dan dia tidak pindah kemana-mana.

childhood-friends-24

Sampai di hari lebaran. Saya kembali dari mudik, dan melihat rumah Gita masih “tutupan”. Saya pikir, Gita mudik juga ke rumah saudaranya. Saya tunggu. Sampai beberapa hari kemudian. Sampai berbulan kemudian. Dan saya tetap menunggu. Lalu, suatu hari mama nya Gita sempat datang ke rumah. Saya tidak tahu, ada urusan apa. Dan, mama Gita sempat menulis surat untuk Ibu. Sepertinya, keluarga Gita sedang menghadapi suatu masalah. Saya tidak tahu apa itu. Yang saya tahu, Gita yang saya tunggu tidak muncul.

Bukannya saya nggak mencari, saya sudah pernah ke rumahnya dulu (sekali) tapi kosong. Kata tetangganya, lagi pergi. Oke. Saya pernah kirim surat ala anak SD. Tapi tidak ada balasan. Bertahun-tahun berlalu. Orang tua saya pun juga sudah lupa dimana surat yang dikirim Mama Gita dulu. Barang kali masih ada alamatnya. Tapi saya juga nggak yakin, apakah sekarang ini dia masih tinggal disana. Dan tahun-tahun terakhir ini, saya mencarinya di Facebook, Twitter, Google, sampai Youtube. Sagita  Rini Permatasari. Dan, hebatnya adalah, tidak ada satupun muncul nama itu. Apakah Gita sudah tidak terjangkau lagi oleh internet? Owh..mungkin saya harus tanya ke bagian kependudukan. Saya baru kepikiran sekarang, untuk menuliskannya di blog. Berharap suatu saat dia membaca, dan muncul lagi.Haha..

Hei Google, bisa bantu saya?

Hhaha… kalian pikir ini hoax ? Saya juga berharap ini hoax. Tapi sayangnya, Gita itu nyata. Dan cerita masa kecil ini juga sangat nyata!

Kalau bertemu, saya ingin bilang. “Gita, sepatunya sudah jebol. Bunga mataharinya juga sudah tidak ada lagi. Aku cari-cari nasi goreng instant ala tentara itu juga sudah jarang sekali. Aku nggak main lompat tali lagi. Aku juga nggak main engkle lagi. Tapi, kamu masih jadi temanku. Teman baik dari dulu dan selamanya. Dimanapun kamu, baik-baik ya disana.. Aku sayang kamu.”

Dicari! Guru Privat! (Freelancer)


sumbergambardarigoogle

Syarat :
1. Muda – Cerdas – Komunikatif – Fleksibel
2. Terbuka untuk mahasiswa / alumni  Perguruan Tinggi Negeri & Swasta
3. Ada kendaraan sendiri
4. Mau mengajar di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo
5. Calon murid : temen-temen kecil dari TK – SD – SMP – (SMA coming soon)

.

.

Silahkan kirim CV & ekspetasi gaji ke alamat email : bimbelzui@gmail.com

Lowongan ini berlaku hingga 31 Nopember 2013