Marhaban Ya Ramadhan


1,8 billion Muslims all around the world are ready to welcome the holy month of Ramadan which begins on May 6. One of the most holy months of the year in the Islamic calendar. Because the calendar is lunar, the month of Ramadan shifts from year to year.

I have to say so far, a few days into Ramadan, it has been a lovely time. There is a sense of peacefulness in the air. The mosques have been more crowded, and i can’t wait to hear children in the street making noise to wake people up for makan sahur, the pre-dawn meal which is eaten before imshak, when the alert sounds that it is almost time for subuh, the dawn prayer and the fast begins.

Continue reading “Marhaban Ya Ramadhan”

Jus Tombu – Buavita ala Rewinnita

Buat saya, menu buka puasa itu harus ada pendamping minuman yang seger-seger. Tapi, karena saya lagi hamil – pilihan minuman yang segar pun terbatas. Nggak bisa minum sembarangan. Minuman seger yang dikonsumsi harus higienis sekaligus sehat.


Buat saya, menu buka puasa itu harus ada pendamping minuman yang seger-seger. Tapi, karena saya lagi hamil – pilihan minuman yang segar pun terbatas. Nggak bisa minum sembarangan. Minuman seger yang dikonsumsi harus higienis sekaligus sehat.

Nah, kali ini… karena lagi hore-hore di rumah sendiri di Surabaya, saya eksperimen bikin jus yang segar sekaligus sehat, bersama Buavita. Kenapa Buavita? Karena, Buavita adalah jus yang terbuat dari buah asli, tidak seperti minuman rasa buah yang tidak mengandung buah. Buavita ini adalah produk minuman, dengan kandungan vitamin C, A, B1, B2, B3, B6 yang juga berguna untuk tubuh kita.  Jumlah kandungan vitamin nya pun telah disesuaikan dengan  kebutuhan tubuh dalam sehari.

6

 

Continue reading “Jus Tombu – Buavita ala Rewinnita”

Resep : Jus Tombu – Buavita ala Rewinnita


Buat saya, menu buka puasa itu harus ada pendamping minuman yang seger-seger. Tapi, karena saya lagi hamil – pilihan minuman yang segar pun terbatas. Nggak bisa minum sembarangan. Minuman seger yang dikonsumsi harus higienis sekaligus sehat.

Nah, kali ini… karena lagi hore-hore di rumah sendiri di Surabaya, saya eksperimen bikin jus yang segar sekaligus sehat, bersama Buavita. Kenapa Buavita? Karena, Buavita adalah jus yang terbuat dari buah asli, tidak seperti minuman rasa buah yang tidak mengandung buah. Buavita ini adalah produk minuman, dengan kandungan vitamin C, A, B1, B2, B3, B6 yang juga berguna untuk tubuh kita.  Jumlah kandungan vitamin nya pun telah disesuaikan dengan  kebutuhan tubuh dalam sehari.

6

Continue reading “Resep : Jus Tombu – Buavita ala Rewinnita”

Sahur Pakai Abon-nya Bu Sarti Padmosusastro


Hai Guys…

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya. Semoga puasa tahun ini bisa membawa hikmah dan berkah bagi kita semua. Amin.

Setiap bulan puasa saya jadi ingat jaman masih nge-kos dulu. Setiap kali sahur selalu sedia abon di kosan. Ya, karena abon ini paling praktis, enak dan hemat. Abon jadi penyelamat perut, apalagi saat belum gajian. haha. Tapi, meski hemat tetap bergizi lho, kan abon nya dari daging sapi. hehe.

Saat itu – sebelum tidur, saya biasanya masak nasi menggunakan rice cooker. Saat sahur tiba, sambil merem tuang abon di atas nasi trus makan deh! Nyam-nyam. Kenyang. Solat subuh lalu tidur lagi.

Nah, sekarang saya pengin nostalgia menikmati santap sahur pakai abon. Ehm. Santap sarapan lebih tepatnya. (Maaf, karena kondisi lagi hamil – selama dua hari ini saya belum berpuasa). Karena lagi pengen banget, saya nitip suami di Surabaya untuk mencarikan abon yang dulu saya makan saat masih ngekos. Dan akhirnya ketemu. Pas ada temen lagi nitip abon juga. Ya udah sekalian aja beli banyak.

abon2

Abon nya ini spesial, karena khas dari Surabaya. Emang Surabaya punya abon?? Lho..lho… Jangan salah, Surabaya punya abon legend yang sudah terkenal kelezatannya dari 19 tahun yang lalu lho. Olahan daging sapi ini bisa ditemukan di sepanjang jalan Padmosusastro. Ancer-ancer nya ada di dekat Gelora Pancasila, tembusan mall Sutos (Surabaya Town Square) ke arah jalan Darmo. Lebih lengkapnya bisa cek di Google Map. Hehe.

Di sepanjang jalan Padmosusastro ini, mayoritas warga menjual abon daging sapi. Tempatnya seperti rumah biasa, dan sangat-sangat sederhana. Abon daging sapi di tempat ini memang unik karena toko yang digunakan untuk  berjualan, memiliki multifungsi sebagai dapur untuk membuat abon daging sapi juga. Jadi saat membeli abon, kita bisa melihat proses pembuatannya secara langsung.

Meski sederhana, cita Rasa abon sapi di sepanjang jalan Padmosusastro ini sudah menggema dimana-mana. TOP banget. Bahkan sudah jadi icon oleh-oleh Surabaya yang wajib dibawa pulang oleh pendatang.

Dari sekian banyak, ada satu merk abon yang sangat saya gemari yaitu Abon Daging Sapi Bu Sarti. Pembeda dengan abon lainnya, Abon Bu Sarti memiliki ciri khas tekstur abon yang gurih dan crispy. Terasa kress..saat dikunyah. Rasanya gurih, manis, dan cocok banget disantap bersama nasi hangat yang mengepul. Dibuat cemilan juga enak. Aduhai..

abon6

 

Buat kamu yang suka pedas, abon Bu Sarti juga menyediakan varian rasa Pedas. Pedasnya pas di lidah, Nggak bikin meradang. Hihi.  Saya berani cerita karena sudah coba sendiri dan jadi pelanggan setia dari Abon Bu Sarti ini.

Abon kemasan ini dijual dalam tiga pilihan, yaitu abon sapi berat 100 gram, abon sapi berat 250 gram, dan abon sapi berat 500 gram. Sekali lagi, hanya ada dua varian rasa, manis dan pedas. Karena fresh from the oven, abon bu Sarti dijamin selalu baru setiap hari dan bisa tahan selama 6 bulan sejak tanggal produksi.

Buat temen-temen yang jauh dari Surabaya, kita bisa sediakan abon Bu Sarti dan langsung kirim dimanapun kalian Berada. Sebagai warga yang ingin melestarikan buah tangan kota tercinta ini, kita kasih harga murah meriah. Ada potongan harga khusus untuk yang mau beli borongan. Tertarik? Silahkan hubungi nomor dibawah ini.

0877.5969.9059 – via WA / SMS / telegram aja ya 

Buat kamu yang lagi di Surabaya, jangan lupa mampir ke Jalan Padmosusastro. Abon Daging Sapi Bu Sarti sudah menunggu~~~~

Harga Abon Daging Sapi Bu Sarti (Eceran):

5Berat 100 gram                    : IDR.28.000,-

Berat 250 gram                    : IDR.60.000,-

Berat 500 gram                    : IDR.110.000,-

Expired Date                        : 6 bulan setelah tanggal produksi

Kemasan                              : Plastik dengan lambang sapi dan ada logo Bu Sarti

Pengiriman                       : JNE/TIKI/Gojek

 

NB : 

Untuk pembelian abon Bu Sarti, juga bisa dilakukan di lapak ane gan… 

  1. Tokopedia
  2. Bukalapak
  3. OLX

Akhirnya, ketemu Ramadhan lagi!


Akhirnya, bisa nulis lagi!

-maafkan, karena kesibukan yang lumayan padat jadi blog ini hampir terlantar-

Begitu nulis di blog ini, tiba-tiba udah mau bulan Ramadhan aja. Marhaban Ya Ramadhan.

Oups, nggak terasa juga ya, sudah 8 bulan lebih saya disini. Hihihi.

Jadi inget, tahun kemarin masih nggembel banget di perantauan *sekarang juga nggembel, tapi beda level haha*.

Tahun kemarin, bawaannya sedih terus.  Mau sahur feeling so sad. Mau buka puasa feeling so sad, again. Looping terus kayak gitu sampai menjelang lebaran. Bukan karena “puasa” nya, tapi karena kondisi nya yang… ehm… kesepian. Ya, jujur – tahun lalu saya merasa kesepian. Bagaimana “kesepian” nya? Nggak perlu diceritakan. hehe.

Yang pasti, tahun ini saya bersyukur sekali karena tidak kesepian lagi. Dan nggak pakai -sedih-sedih- an lagi.

Setiap hari saya akan sahur dan berbuka bersama keluarga. Setiap sahur denger teriakan ibuk, “Bangunnnnn Bangunnnnn sahurrr!”, Dengan volume super melengking.

Shalat berjamaah di rumah. Shalat tarawih di masjid dekat rumah. Rebutan lauk sama adik saya yang super gendut. Fokus lihat TV menjelang bedug magrib. Nggak mikir -mau makan apa-, karena pasti sudah dimasakin sama ibuk. Dan, nggak mikir -mau makan dimana- karena disini banyak banget tempat makan enak dan murah. Dan, nggak mikir buat mudik. Best!

Bersama teman-teman disini

Bersama dia, yang selalu ada untuk saya.

Bersama sahabat.

.

Alhamdulillah.

Selamat Datang Ramadhan,

Selamat menjalankan ibadah puasa.

NB  :

Buat kamu yang di perantauan, jangan sedih. Anggap aja ujian. Allah sudah siapin hadiah super istimewa buat kamu-kamu yang berhasil melewati ujian di bulan Ramadhan di perantauan. Bismillah.

Hello Juli, Hello Ramadhan.


Akhirnya… aye aye.. akhirnya dateng juga Bulan Ramadhan (sebentar lagi). Ketiga kalinya saya melewatkan hari-hari pertama Ramadhan di Jakarta. Bosen? Nggak dong. Cuma kangen aja bisa puasa di rumah. Tapi nggak apa. nggak apa. 28 hari lagi, saya akan buka puasa di rumah. uhuuuyyy… nggak sabar deh ah.

Puasa di tahun ini sepertinya akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. *tiap tahun selalu beda sih*. Kenapa beda?? Pertama! Saya sudah kerja di tempat yang berbeda dengan tahun lalu. Kedua! Saya juga bersama dengan orang-orang yang beda dengan tahun lalu. Ketiga! Jam pulang kerja yang disini lebih cepet, jadi bisa prepare buka puasa di rumah (eh kos). *planningnya gitu, tapi faktanya – lihat saja nanti*. 

Saya tunggu-tunggu, dan lebih santai jalaninnya dibanding tahun kemarin. Menu sahur dan buka puasa, sudah nggak bingung lagi. Udah pengalaman dari tahun lalu. Ada mbak Yul , BuJil, Abon mahal, mie instant dan susu.  Insya Allah aman. Paling apes, kalau ketiduran, ya nggak sahur.

Sepertinya saya akan merindukan moment-moment ngabuburit bareng temen-temen di tahun lalu. Bisa-bisanya dari buka puasa sampe sahur lagi, nggak berhenti main. Dan setiap weekend selalu ada agenda seru. (itu tahun lalu). Untuk tahun ini, saya nggak tahu. Mungkin, saya akan banyak bergumul dengan sodara-sodara. (ehm..sepertinya dan belum pasti)

Oiya, Saya sudah diwanti-wanti sama si mamah, “Nggak pake kue kering. Nggak pake coklat kurma. Tahun ini nggak ada kue-kue di rumah. Banyak kue malah nggak ada yang habisin. Itu kue lebaran tahun kemarin, nggak kemakan sampe kadaluarsa.”. Oke, itu berarti saya bisa pulang kampuang dengan bawaan yang lebih enteng. Saya akan menjarah kue-kue punya tetangga saja. lol.

Dan setiap habis solat ied, biasanya ada open house di rumah tetangga. Kita bisa sarapan menu lebaran, semacam opor ayam, ketupat, dan lain-lain. Apakah di lebaran tahun ini akan ada open house lagi? Kita lihat saja nanti. 

Baju baru? Baju baru? Haduh….saya sepertinya sudah lupa kapan terakhir kali beli baju lebaran. Jaman SMA deh rasa-rasanya, jadi moment terakhir saya mendapat baju baru lebaran. Setelah itu, nggak ada baju lebaran. Seperti biasa, saya akan pakai baju lebaran favorit dari SMP. Luar biasa kan?

Mudik? Mudik? Nganjuk dan Malang, jadi tempat mudik tematik. Sepertinya nggak akan ke Malang, karena pasti so macet sekali. Mengingat tanggal libur lebarannya nggak terlalu panjang seperti tahun kemarin. Semoga di Nganjuk ada kue semprong kesukakan saya. 

Dan, selain santai (akan) jalaninnya. Mungkin, saya agak kesepian di awal bulan puasa ini. Karena si pacar selama 2 minggu (kurang lebih) akan melancong ke tempat jauh. Lhah, sekarang kan juga jauh? Tapi nanti lebih jauh lagi. Belum sanggup menembus dengan pulsa. Semoga saja ada koneksi internet disana. 

Saya nggak ada rencana apa-apa di bulan Juli ini. Tapi saya hepi! Hepi sekali! Karena akhirnya dateng juga bulan Ramadhan. Oh yaa… maap-maapin salah saya ya. Semoga di bulan Ramadhan ini membawa berkah bagi kita semua. Marhaban ya Ramadhan. ^_^

Ramadhan Mubarak di Kota Orang


Nggak terasa, udah hari ke-12 puasa Ramadhan 1433H. Udah mau setengah bulan, brooo….

Saya mau sedikit cerita, tentang puasa di kos an. Puasa jauh dari rumah, tanpa sodara ya. Tapi alhamdulillah, masi ada si “autis”, si “bunda”, dan si ” zaki”, yang meramaikan puasa Ramadhan tahun ini.

Seharian kerja, nggak terasa udah sore. Sore-sore jam 4 – jam 5, saat-saat otak saya sudah mulai mengendor alias ngga bisa mikir. Kerja jadi nggak efektif deh. *Alesan! Sebut saja, saya lapar. Pulang ke kos an, nggak ada apa-apa. Mau makan, ke warung dulu. Belum dengan kemuakan-kemuakan menu di warung mbak yulzz… yg ituu – ituu baeee…. Kucing-kucing yang meraja lela. Tempat warung yang…. nggak mendukung untuk menambah napsu makan. Yang awalnya laper, jadi nggak napsu. Tapi,warung mbak yulzzz ada warung terbaik yang menyediakan makanan dengan harga muraahh sekalii. Saya biasanya cuma habis 4500/porsi. Di tempat lain, bisa sampe 10 – 15 ribu.

Lanjut ke malem, karena nggak bisa tidur… akhirnya baru bisa merem skitar jam 1 – 2 pagi. Trus jam 3.30 sudah diteriakin sama si bunda. Biasanya tiap pagi dibangunin ibu, sekarang dibangunin tangisan si zaki dan celoteh si bunda yang ehhmm…. gimana ya…. gitu deh. Hehe.

“ITAA… ITAAA…. SAHURRR…SAHURR… “, mata langsung melek begitu denger suara si bunda satu itu.

Bangun, dan bersiap menuju warung (lagi). Mau makan apa? Tergantung dari menu di warung. Tapi, kita menuju warung yang berbeda waktu saur. Sebut saja, warung bu jilbab. Masakannya lebih enak, dan harga nya lebih mahal. Tapi, demi menghindari kemuakan-kemuakan karena bosan, harga mahal sedikit nggak apa lah.

Kalau weekend, dunia terasa lebih indah. Karena, nggak harus bangun jam 8 pagi. Karena, bisa pulas tidur sampe jam berapapun. *asumsi, zaki dalam keadaan damai, alias nggak nangis! Sempat, weekend kemarin saya pulas sekali tidur sampe jam setengah 1 siang. Rasanya…. segerrr dehh… Bales dendam, karena kurang tidur di hari biasa.

Tapi, alhamdulillah.. Puasa Ramadhan tahun ini, ada si autis yang selalu meghibur dengan kebodohan-kebodohannya. Dia nggak bodo, cuma macak bodo. Bersyukurlah, karena jadinya nggak terlalu sepi. Kalau weekend, ada dua cowok yang sama sekali nggak cowok, si bebek dan dani yang slalu menemani.

Jauh dari rumah, memang sangat bebas. Saya bebas melakukan apa saja. Tapi saya juga rindu dengan keluarga. Teriakan-teriakan ibuk, sholat jamaan bareng bapak, berebut makanan sama nanda & mas pras. OMG. Sebebas-bebasnya burung, dia tetap akan pulang. Pulang ke rumah.

Karena ini, saya rindu sekali untuk puasa di rumah. Sahur di rumah. Buka puasa di rumah. Dibangunin sahur. Disiapin makanan buka puasa. Nggak perlu bingung dah, mau makan apa. Hehehe. Rumaahh… tunggu akuu….. 2 minggu lagi, ku pulang!