Tag Archives: makassar

Nikmatnya Pallu Basa Serigala


Antara soto daging, dan coto Makassar. Begitulah lidah saya mendeskripsikan rasa Pallu basa ini. Sepintas memang, Pallu basa mirip dengan Coto Makassar. Tapi irisan dagingnya seperti irisan daging ala soto yang pernah saya coba. Yang tidak bisa dibandingkan dengan coto Makassar dan soto daging, adalah taburan kelapa parut yang disangrai serta kuahnya yang kental menggigit, dan berasa sampai di perut.

cof

Dagingnya sih IYES, tapi telur nya NO (karena saya nggak suka telor mentah)

Saya bisa merasakan ketumbar, jinten, asam jawa, pala, dan gula merah di dalam kuah pallubasa ini. Aroma rempah-rempahnya begitu kuat, dan bikin makin lapar. Serius, kalau ada kesempatan ke Makassar lain waktu, saya pasti akan makan Pallu basa ini lagi. Nagih bos!

cof

Parutan Kelapa. Kacang Mente yang hampir selalu ada di semua tempat makan di Makassar

Continue reading

Advertisements

Sisa Kemegahan Fort Rotterdam – Makassar


This slideshow requires JavaScript.

(Iseng-iseng ngeblog, sambil nungguin nginstall GNUradio, yang luamaa bangett.. -di kantor-)

Minggu lalu, baru saja saya melancong ke Makassar. Bukan ‘rekreasi’ ya tema-nya, tapi ada urusan kerjaan disana. Meskipun cuma semalem, boleh dong saya share disini. Hihi (Niat pamer nya, nggak ketulungan deh ah #kidding).

Pertama kali melakukan perjalanan ke luar pulau, (selain Madura & Bali) rasanya menyenangkan. Makassar. Perbedaan waktu, satu jam dari Jakarta. Karena memang untuk kerja, jadi waktu buat main-main nya nggak banyak. Saya tidak sendiri. Ditemani, mz wiwi (temen senior di PSN, temen CSM (entah lupa namanya) , Deni & Andi – temen MCI, Franco – temen Indosat, dan Mba Uya & Mba Ana – temen Kominfo).

Sebelum pulang, kita sempet jalan ke Fort Rotterdam (Benteng Rotterdam). Nah, ini spot yang oke punya cuy buat foto-foto. Lumayan lah ya, ada kenang-kenangan foto sebelum pulang. :p. Katanya, disitu juga ada penjara bawah tanah nya. Ruangan yang dipakai untuk menahan Sultan Diponegoro. Cuman, saya nggak sampe sana. Slaen waktunya mefeet (*mepet) , juga agak buru-buru ngejar pesawat.

Saya agak penasaran, sama rotterdam ini. Let’s check it first. Menurut wikipedia Benteng ini peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo, dan ada yang menyebutnya Benteng Ujung pandang. (silahkan buka buku sejarah, bagi yang lupa :3).Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Kita juga bisa mengunjungi dua musium, I Lagaligo Sejarah dan I Lagaligo Budaya yang berada di dalam benteng. Begitu masuk ke dalam benteng ini, nuansa peninggalan sejarah sangat terasa sekali. Ada taman hijau, yang berada diantara 13 bangunan. Beberapa pengunjung ada yang duduk-duduk sambil menikmati sore, ada juga yang berpose seperti saya dan teman-teman. Katanya, di benteng ini juga biasa dijadikan tempat berkumpulnya komunitas dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan lhoo.

Kebanyakan orang memilih duduk sambil ngobrol di tembok benteng yang lebarnya sekitar 3 meter mengelilingi gedung-gedung sejarah. Kebetulan waktu itu, memang saya kesana saat sore hari. Tapi ngga lihat sunset nya. Mungkin temen-temen lain, bisa mencoba kemari dan menikmati sunset. Karena, katanya kita bisa lihat pemandangan yang indah saat tenggelamnya matahari bisa disaksikan dari benteng ini. Di sebelah, utara, timur dan selatan benteng, keindahan Kota Makassar menjadi pemandangan menakjubkan. Nggak sunset aja udah bagus, gimana pas sunset yaa… hihihi.

Untuk makanannya, saya nggak sempet kuliner banyak. Cuma, waktu malam sebelumnya saya sempat menjajal salah satu makanan khas Makassar. Pisang EPE, namanya. Semacam pisang kepok dibakar, trus di tuangin gula merah yang sudah dimix sama durian, trus ditambah parutan keju.  Saya beli seporsi, 7 ribu dengan isi 3 buah pisang kepok.

Berharap rasanya enak. Salah satu teman sekantor, cuma senyum doang. “Kalau nggak dirasain sendiri, nggak afdol.”, katanya. Setelah saya makan, ehmm.. rasanya, menurut saya agak aneh. Mungkin karena, lidah nya beda. Hihihi. (Agak tidak sesuai dengan kodratnya, gula merah dengan rasa durian). Tapi, tetep seru lah.

Bandara Ujung pandang. Salah satu bandara yang saya anggap sebelas-dua belas sama bandara Juanda-Surabaya. Bersih, rapi, dan bagus deh. Bandara soekarno-hatta mahh..lewaat jauhhh..

Makassar cuma semalam, kurang lama kali ya….

So. Can’t wait to the next journey.