Tag Archives: hobi

Punya Anak, Apa Kabar Hobi?


Dari sebelum menikah, saya punya beberapa hobi. Salah satunya, koleksi komik-komik jadul. Komik-komik ini sudah pernah saya baca, waktu masih kecil. Saya pinjam dari tetangga. Wah, senangnya luar biasa. Rasanya ingin memiliki semua komik-komik ini. Karena waktu itu nggak mampu beli komik, jadi saya pendam aja dalam hati. Nanti, kalau sudah kerja, aku beli semua komik-komiknya!

Setelah punya uang sendiri, saya sisihkan budget untuk berburu komik di toko-toko buku bekas, karena komik lawas tidak dicetak ulang lagi. Saya sampul komik-komik itu kembali dengan rapi. Biar tampak baru dan bersih. Mungkin sekarang ada 200 an komik di rumah orang tua saya. Dan, itu belum termasuk komik yang ada di rumah suami. Dan, komik yang ada di Jakarta sekarang.

Continue reading

Advertisements

Ketika Hasrat Memasak Kembali Muncul….


Setelah beberapa waktu vakum dari dunia masak-memasak, akhirnya sekarang saya memulainya lagi. Walaupun bukan masak masakan heboh ala koki-koki di tipi. Tapi sudah cukup membuat saya bahagia karena saya sudah semangat memasak.

Awal bulan menikah, saya on fire sekali memasak untuk suami. Alhasil, lumayan bisa menaikkan berat badannya barang sekilo – dua kilo. Lalu karena ada panggilan kerjaan yang lumayan menyita waktu, saya meninggalkan segala bentuk wajan, panci, dan alat-alat dapur lain. Termasuk meninggalkan bapak-bapak penjual sayur. Suatu saat kita akan bertemu lagi Pak..

Sekarang? Saya memaksa menyempatkan diri memasak, walaupun hanya akhir pekan. Haha. Di satu sisi saya senang, karena hasrat untuk memasak sudah muncul lagi. Di satu sisi, saya sedih juga karena hasrat itu baru bisa terlaksana di hari Sabtu dan Minggu.

Yang seharusnya pekerjaan rumah tangga ini dilakukan setiap hari, malah bisanya saya Cuma di akhir pekan. Itu pun sudah bersyukur sekali, karena terkadang akhir pekan pun aktivitas memasak masih bisa dikalahkan oleh nglencer dan jalan-jalan. Ujung-ujungnya sampai rumah sudah capek. Lagu lama..

Untungnya, (masih untung) saya dan suami sedang tidak berada di satu kota. Perasaan bersalah karena tidak memasak sedikit bisa dikaburkan. Tapi tetap, ketika saya pulang atau suami berkunjung – saya akan selalu pasang badan untuk memasak. Hehe.

Jujur, memang tidak mudah menjalani peran wanita karir sekaligus melakukan pekerjaan rumah tangga.  Ada satu yang terpaksa “dikalahkan”, karena badan saya Cuma satu dan waktu yang saya punya hanya 1 x 24 jam dikali 7 hari. Dan, lebih dari separuh waktu saya sudah habis untuk kerja selama lima hari.

Kadang, saya iri mampus dengan mereka-mereka yang bisa mendalami perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Karena mereka punya waktu penuh untuk mengabdi pada keluarga dan totalitas merawat keluarganya dengan baik. Bisa memasak setiap pagi, menyiapkan bekal makan siang, bersih-bersih dan menata rumah, mencuci dan menyetrika baju. Setiap malam menemani anak-anak belajar.  Walaupun mirip-mirip babu, tapi ini pekerjaan yang selalu saya idam-idamkan. Hehe.

Tapi karena keadaan dan lain hal, saat ini saya belum bisa meluangkan waktu sepenuhnya (malah adoh-adohan) untuk keluarga. Saya dan suami pun sepakat untuk saling bertoleransi. Saling menghormati dan tetap sadar dengan hak dan kewajibannya masing-masing. Yang pasti, tetap penuh cinta. Ahay…

Jadi, sembari memasak – saya memikirkan ini. Kapan ya, saya bisa totalitas ada di rumah dan selalu ada untuk suami?