Dicari! Guru Privat! (Freelancer)


sumbergambardarigoogle

Syarat :
1. Muda – Cerdas – Komunikatif – Fleksibel
2. Terbuka untuk mahasiswa / alumni  Perguruan Tinggi Negeri & Swasta
3. Ada kendaraan sendiri
4. Mau mengajar di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo
5. Calon murid : temen-temen kecil dari TK – SD – SMP – (SMA coming soon)

.

.

Silahkan kirim CV & ekspetasi gaji ke alamat email : bimbelzui@gmail.com

Lowongan ini berlaku hingga 31 Nopember 2013

Tips Hemat Nge-Kos di Jakarta (Bukan Pelit)


Apa bedanya hemat sama pelit?

Hemat itu mengatur pengeluaran sebijaksana mungkin, demi kepentingan bersama dan jangka panjang. Kalau uang kita sisa, bisa buat yang lain. Seperti nolongin temen, atau bantuin orang tua, atau bantuin saudara. Masih ada pemikiran untuk menolong sesama.

Kalau pelit? Pelit itu, mengatur pengeluarkan seminimalis mungkin dan memaksimalkan bergantung pada traktiran orang lain. Ehm..parasit. Pelit itu mikirin diri sendiri aja. Misal, punya duwit, tapi bilang nggak punya duwit. Semacam itu lah.

Hemat dan jangan Pelit!
Hemat dan jangan Pelit!

Dan tips ini, untuk hidup hemat. Kalau mau biaya hidup tinggi, saya rasa nggak perlu tips ya. Tinggal buang-buang duwit aja di jalan, ntar juga habis duwitnya. Hehe. Yang perlu tips itu biasanya untuk temen-temen yang mau berhemat. Saya bagi tips yang biasa saya pakai ya (bisa cocok bisa juga enggak). Inget, ini untuk hemat. Hemat bukan berarti pelit! Di bold ya, HEMAT DAN BUKAN PELIT.

  1. Biasakan hidup sederhana. Masalahnya, standard hidup sederhana tiap orang beda-beda ya. Ada yang sebelumnya biasa naik mobil, coba-coba disini naik motor aja. Selain menghindari macet, juga lebih hemat bensin. Ada juga yang biasanya naik motor, disini milih jalan kaki aja. Selain nggak perlu keluar duwit buat beli bensin, juga lebih sehat *dan kaki lebih gede*. Ada juga yang biasa naik helikopter, begitu tiba disini ganti naik helicak. *ehmm..ignore it.*

    Yang sederhana-sederhana saja, justru membuat hidup kita lebih bahagia
    Yang sederhana-sederhana saja, justru membuat hidup kita lebih bahagia
  2. Cari kos an yang sederhana aja sih. Budget untuk kos an, biasanya maksimal 20% – 30% dari gaji yang kita terima. Yang penting bisa buat tidur. Toh aktivitas kita nggak melulu di kos an toh? Tinggal di apartemen oke-oke aja, tapi lebih baik sharing dengan teman. Sekamar bertiga atau berempat. Karena biasanya sewa apartemen juga nggak murah. Kita mesti spare duwit untuk bayar air, listrik, keamanan, dan lain-lain. Hampir sama kayak ngontrak rumah si bro. Kalau ditanggung rame-rame, jatuhnya lebih murah. hidup-sederhana
  3. Sedekah. Setelah dapet gaji, langsung minimal 2,5 % persen nya sedekahin bro! Wajib wajib wajib! Tanya kenapa? Jangan tanya saya. Tanya ke pak ustad aja.

    Mensucikan harta dan membuka pintu rejeki lainnya
    Berbagi kepada sesama itu kewajiban kita
  4. Investasi di awal. Buat saya, yang boros ampun-ampun, menyisihkan investasi di awal itu wajib banget. Karena berapapun duwit yang dipegang, biasanya nggak bersisa. Tapi untuk temen-temen yang bisa menyisakan duwit di akhir, silahkan tempatkan poin ini di urutan terakhir. Dan kenapa investasi? Karena investasi membuat duwit kita bisa bertambah banyak. Ya nggak ujuk-ujuk nambah banyak sih. Tetep ada aktivitas di dalamnya yang bisa membuat uang kita aktif. (ada banyak cara untuk investasi. cari yang halal bro bro, insya Allah)

    investasi itu penting!
    investasi itu penting!
  5. Belanja seperlunya. Contoh, Mie instant itu perlu, tapi nggak sampe beli sekerdus juga kalik bro. jangan berlebihan. mentang-mentang pengin hemat, tiap hari makan mie instant terus. Hemat nya sih iya, tapi badan penyakitan mau??

    membuat daftar belanja perlu untuk menghindari membeli hal-hal yang nggak perlu
    membuat daftar belanja perlu untuk menghindari membeli hal-hal yang nggak perlu
  6. Refreshing murah dan meriah. Kalau bosen di kos an tapi enggan keluar duwit banyak, berkunjung ke rumah sodara, teman, atau lihat pameran. Mempererat tali silahturrahmi kan bagus, main lah ke rumah sodara atau teman. Tapi jangan keseringan, biar nggak dikira numpang gratisan. Diselingi juga lihat-lihat pameran di Jakarta, selain suasananya lebih seru, juga hemat di kantong. Dapet wawasan, senang, tanpa ngabisin uang.

    Ikutan car free day rame-rame sama temen-temen juga seru kok!
    Ikutan car free day rame-rame sama temen-temen juga seru kok!
  7. Butuh atau pengin? Kalau butuh, langsung beli. Kalau pengin, tunda dulu. Biasanya “pengin” itu cuma sesaat, Dengan menunda kepenginan kita, sekaligus membuat kita berpikir panjang. Kalau sudah ditunda, ternyata masih kepengin juga, ya baru dibeli. Daripada kena siksa batin. Kalau pas balik ternyata kehabisan, ya berarti bukan rejeki kita. Haha. Take easy bro. Kalau ada diskonan, boleh juga tuh. hehe.Want_vs_Need_by_rogaziano-antara-butuh-atau-ingin
  8. Makan sehat. Inget, makanan sehat nggak selalu mahal! Makan di warteg deket kos an yang tempatnya bersih dengan menu sayur dan tempe juga bisa dibilang sehat. Buat makan siang di kantor, bisa bawa bekal dari kos an. Kalau nggak bisa masak, bisa beli di warteg di deket kos an untuk makan siang di kantor, karena biasanya lebih murah dibandingkan beli makan siang di daerah perkantoran. Yang pasti, Sisakan duwit di rekening untuk makan selama sebulan. Kasih target berapa rupiah untuk makan. Kenapa? Karena biasanya, paling banyak ngabisin duwit di makanan. Ingat! Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.
  9. haha... balada anak warteg
    haha… balada anak warteg
  10. Nabung. Nabung disini buat hal-hal yang nggak terduga. Misal kalau kita sakit, atau keluarga butuh duwit. Atau ada temen resek, punya duwit, tapi lagi hemat, akhirnya nyusahin kita. Mau nggak mau, spare duwit tak terduga juga kan.flat_green_dollar_bill_cartoon_character_flexing_his_arm_muscles-280x300
  11. Prinsip nih! Anti koar-koar kalau lagi bokek, nggak punya duwit, miskin, anak kos an, atau apapun yang bertujuan bikin orang lain kasihan sama kita. Belum tentu kasihan, malah nyukurin iya. Di luar sana, masih banyak orang yang lebih nggak punya duwit dari kita dan patut dikasihani.  
    No more
  12. Perbanyak teman, kurangi pacar. Haha. Kalau banyak temen itu enak bro. Susah senang selalu bersama. Banyak info yang didapet kalau kita banyak teman. Mulai dari info kerjaan, info acara-acara seru, sampai info makanan murah meriah, auw auw..  Dan, kalau  ada apa-apa dibantuin. Tuh..bermanfaat kan. Kalau kayak saya, *pacar jauh di mato*, susye kan.  Kalau banyak pacar juga susah lho. Pacaran itu pake duwit juga cin. Saya bersyukur sih pacar jauh, lebih hemat juga. Jarang pacaran, jarang keluar duwit. Mending ditabung buat kawin, daripada buat pacaran doang. *eehh…*
  13. mari berkawan...
    mari berkawan…
  14. Ibu kos bukan Ibu Tiri. Bagi saya, ibu kos itu udah saya anggap keluarga. Kalau ada apa-apa, yang tau duluan pasti ibu kos. Kalau butuh apa-apa yang urgent, larinya ke ibu kos. Saya anggak sodara sendiri deh. Misal, lagi nggak ada beras dan warung-warung tutup. Akhirnya ke ibu kos, minta nasi. Haha. Pernah beberapa kali seperti itu. Jadi, berbaik-baik lah dengan ibu kos!

    i love bu dewi..!
    i love bu dewi..!

Yaaapp….. sedikit-sedikit itulah tips dari saya. Kalau ada salah dan nggak cocok, maap-maap yee. Mau berbagi tips yang lain? Boleh..boleh banget! Ditunggu yaa..!

Biaya Hidup di Jakarta, Mahal?


Ciyee… Selamat buat temen-temen yang baru ikut wisuda minggu lalu. Ciye-ciye… Status mahasiwa nya udah ganti jadi “graduated” dong ya. Hehe. Mumpung masih nuansa fresh graduated, mau bagi-bagi cerita dikit nih tentang hidup di jakarta.

Biaya Hidup

Untuk perantau, mengetahui biaya hidup di tempat yang akan jadi tempat singgah hukumnya wajib. Seperti, ehm, saya yang merantau ke Jakarta. Beberapa teman pernah menanyakan tentang ini ke saya. “Biaya hidup di Jakarta berapa sih?” . Pertanyaan yang Wajar. Dan setiap kali menjawab pertanyaan itu, saya cuma bisa jawab gini :

Biaya Hidup bergantung dari Gaya Hidup

Karena ada beberapa teman, yang takut ke Jakarta karena biaya hidup. “Biaya hidup di Jakarta kan tinggi.” “Gaji banyak, tapi pengeluaran juga banyak.” “Ahh.. ngapain ke Jakarta, sama aja kayak di kota sendiri.” “Jakarta macettt…!! bikin pusing..!” Ya, itu hak mereka. Saya? Selama nggak ada yang tanya pendapat saya, ya senyumin aja. Mau komentar apa coba? Hahaha. Talk less do more aja. *eng ing engg.. nggak nyambung*

Apa karena saya di Jakarta, lalu saya menganjurkan teman-teman lain untuk ke Jakarta juga? Tidak. Apa saya melarang mereka untuk ke Jakarta? Juga tidak.  Selalu ada konsekuensi, enak dan nggak enak nya. Saya nggak pernah ngajak siapapun untuk ke Jakarta dan saya nggak pernah melarang siapapun untuk ke Jakarta. *Lagian siapa eike cin? Eike bukan siapa-siapa cinn…*

Saya cuma nggak suka, sama mereka-mereka yang sudah memutuskan untuk merantau tapi masih saja mengeluh. Hello bro, nggak ada yang nyuruh dan maksa kamu buat jauh dari rumah.  Itu pilihanmu. Jalani dengan tanggung jawab dan jangan mengeluh!  

siapa suruh datang jakarta?
siapa suruh datang jakarta?

Kembali ke biaya hidup. Ngomongin biaya hidup itu sensitif tapi penting.  Biaya hidup kita, dimanapun itu bergantung pada gaya hidup kita sendiri.  Semakin tinggi pemasukan, biasanya pengeluaran juga semakin besar. Karena setiap orang pasti pengin meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik kan? Tapi ya kembali ke diri sendiri lagi, mau nya hidup dengan cara bagaimana. Kadang ada yang rela mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan fasilitas  enak , nyaman, nggak sumpek sana-sini. Tapi ada juga, yang rela hidup susah disini demi keluarga di rumah.

Dan, saya mau share kira-kira berapa banyak nominal yang dihabisin untuk hidup sederhana di Jakarta. (*nggak maksud pamer lho! suwerr..! Just share aja, untuk referensi temen-temen lain yang mungkin mau merantau ke Jakarta juga*). Kondisinya ini untuk cewek (saya), tahun 2011 – 2013,  single (belum menikah) , ngekos dan nggak bisa masak sendiri kecuali masak mie instant dan masakan2 lain pake rice cooker.

  • Kos sederhana : 600 – 800 ribu. Kos tanpa AC. Kamar mandi dalem. Dapet lemari , kasur, ember, dan gayung. Sudah termasuk air, listrik, & keamanan. Di beberapa tempat ada yang menyediakan kamar kos dengan harga di bawah itu. Tapi jangan nuntut fasilitas lebih ya!
  • Belanja bulanan : sekitar 100 – 200 ribu  (beli air galon, sabun mandi, sabun cuci, de el el)
  • Makan sebulan : 600 – 900 ribu. Rata-rata harga seporsi makanan, sebut saja soto ayam lamongan sekitar 12 – 15 ribu, kalau mau makan di warteg bisa 5 – 10 ribu. Asumsi sehari habis 20 – 30 ribu. (Dikali 30 hari).
  • Tanpa kendaraan pribadi
  • Kemana-mana naik angkot (kopaja/metro mini)
  • Pulang ke rumah, setahun dua – tiga kali. Yang pasti saat lebaran dan idul adha.

Jadi, untuk bisa hidup aja di Jakarta kurang lebih menghabiskan sekitar 1.5 juta – 2 juta. Jadi, kalau nyari kerjaan di Jakarta dengan kondisi seperti di atas, minta gajinya di atas ini ya. *ting ting ting..!*

Bisa ditambahkan juga pengeluaran untuk lain-lain, karena kadang ada yang pengin lebih dari sekedar hidup dan untuk merealisasikan, juga membutuhkan uang lebih. Seperti  Jalan-jalan, beli A-B-C, njajan, dan laen-laen, itu kembali ke kebutuhan masing-masing. Dan Bisa dipastikan BEDA!

Yang terlihat indah, tidak selalu indah saat dijalani.
Yang terlihat indah, tidak selalu indah saat dijalani.

Saya tidak bisa bilang ini mahal atau murah. Karena ada yang bisa hidup lebih hemat dari ini, dan ada yang bisa lebih mahal dari ini. Seperti yang saya bilang, biaya hidup bergantung dari gaya hidup.

Kalau dibilang gaji di Jakarta lebih tinggi daripada di tempat lain ya sebanding dengan biaya hidupnya. Tinggal bagaimana kita mengatur pemasukan dan pengeluaran agar seimbang.

Oiya, Sesepuh-sesepuh yang lebih dulu berlabuh di Jakarta mengajarkan pada saya untuk menjalani semuanya dengan enjoy. Jangan terlalu mengekang diri. Nggak usah takut nggak punya duwit, nggak bakalan mati. Ngalir aja lah. Tapi jangan lupa diri juga. “Perhitungan” untuk diri kita sendiri itu boleh, tapi jangan sampai membuat kita jadi pelit dan jangan sampe lupa beramal. Wozz…beramal itu salah satu jalan untuk membuka pintu rejeki lho!

Yang pasti satu. Nggak usah iri sama gaji orang lain. Biasanya kan ada tuh yang suka ngomong, “Iyaa gajimu kan lebih besar dari aku. Jelas aja masih sisa banyak.”

*di- amin – kan saja. amin. Meskipun rasanya pengin nyobek-nyobek mulutnya. Tetep senyum dan bilang amin. Tetep amin. *.

Inget. Tuhan itu Maha Adil. Semua rejeki sudah diatur dengan sangat cantik dan seimbang.  Banyak juga kok gaji nya banyak, tapi hidupnya gitu-gitu aja. Dan banyak juga yang gajinya “pas-pas” an, malah taraf hidupnya lebih baik. Yang penting, selalu bersyukur! *hap hap hap! bawa pom-pom.*

Yaps, demikian.

Mohon maaf kalau ada salah kata, salah hati, salah eja, dan salah salah lainnya. Buat temen-temen yang mau share cost living di Jakarta, boleh tulis kemari-dimari. Semoga bermanfaat!

Berkhianat di negeri Sendiri


Hari ini entah kenapa, saya mulai mengerti kenapa banyak aset bangsa lari ke luar negeri yaitu para generasi muda. Sebut saja dari yang paling terdesak hidupnya, TKI / TKW. Mereka merasa kurang dihargai. Kalau dari segi, “cinta tanah air” yang diajarkan PPKN dulu, seharusnya rasa itu tetap ada ya. Lha wong sudah diulang-ulang dari SD kelas 1 sampe SMA kok. Tapi, mau gimana lagi, roda hidup terus berputar, setiap orang ingin mendapatkan nasib yang lebih baik. Dapur harus tetap mengepul. Anak harus sekolah. Istri harus belanja. Dan saya, tidak tahu harus apa. *opo sih..

Diantara keadaan itu, nasionalisme bangsa semakin dipertanyakan. Mungkin benar, kalimat dalam novel 5 cm. Butuh “sesuatu” yang lebih untuk bisa survive. Butuh rasa cinta tanah air yang lebih banyak , untuk membuat para generasi muda pintar mau tetap tinggal membangun negara sendiri. Bisa dibilang, saya tidak termasuk orang pintar dan saya masih ada di negeri sendiri dan bekerja di salah satu perusahaan kebanggan negeri. Negeri ini apes ya, dapet generasi muda seperti saya? Hahaha. Harusnya, banyak orang yang lebih baik di luar sana menempati posisi ini. Tapi faktanya? Tidak bung. Mereka lebih bangga kalau bisa diterima di perusahaan asing. *Ya, saya pernah merasakan kebanggaan itu, nyaris.

Sebanyak apapun kita mau menuntut, apa yang kita dapatkan jangan dibandingkan dengan apa yang sudah diberikan oleh negara lain. Negara kita ini masih negara berkembang, jangan disamakan sama negara maju toh. Mereka bisa kasih dolar, dan disini dapet rupiah. Sebenernya, bisa aja rupiah digebrak melampaui dolar kalau saja anak-anak pintar itu mau tinggal disini dan menjadi penggebraknya. Walau gimana juga, kita lahir di Indonesia. Indonesia. Bangga dong. Hey, bangga lah. Ayo toh, bangga dikit kenapa sih. Lahirnya sampean dimana? *kata ‘sampean’ adalah kata paling saya hindari dalam setiap obrolan karena telinga merasa aneh dengerinnya.

Seandainya boleh memilih, mungkin banyak yang ingin lahir di negara-negara maju yang sudah mentereng dengan segala kemajuannya. Kalau saya, penginnya lahir di surga aja (nggak usah turun ke bumi), enak kan. Hehe.

Saat ini, bisa dibilang saya masih mempertahankan idealisme untuk berkontribusi di tanah air. Tapi besok – besok, saya tidak tahu apakah saya masih bisa tetap tinggal. Apakah saya termasuk pengkhianat? *Hati kecil mengangguk. Tapi ini bagian dari realistis. Semoga rasa realistis ini tidak meninggalkan kebanggaan saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia.

Tapi percaya deh, seenak-enaknya tempat orang lain, masih lebih enak rumah sendiri. Suatu saat nanti, saya yakin para generasi muda yang nyantol di luar sana bakal balik kemari. Pulang itu pasti ke rumah. Rumahnya ya Indonesia.  Biar deh, mereka babat alas di negeri orang. Karena, saya percaya mereka sedang bergerilya mengambil ilmu sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang. Suatu saat nanti, akan menggantikan posisi mereka-mereka yang disana. *tunjuk direktur gedung bertingkat, DPR ,MPR.  Dan, membangun negeri lebih baik lagi.

*Amin. Semoga ada malaikat lewat.

Nb :

Trus saya ngapain? Saya angon sapi, ayam, bebek aja di desa. Bertani padi, jagung, lombok. Buka kolam ikan. Gantiin para juragan petani dan peternak yang ada disana. :p. Memberikan asupan makanan pokok lokal dengan harga dibawah normal tapi kualitas maksimal pada negeri sendiri. Kalau kamu, mau ngapain?