Episode

Episode 1 – Burung Kertas

Burung kertas itu lucu ya. Origami membuat kertas menjadi bukan sekedar kertas. Aku masih ingat itu, tiga tahun lalu kau mengatakan itu. Di pinggiran kota Alexa, sebuah toko kecil, menjual berbagai kertas, dan kau memilih satu bungkus kertas bercorak polkadot warna-warni. Seperti anak kecil yang baru mendapat permen, nuansa hatimu bisa menjadi bahagia sekali. Hanya karena kertas origami.

Begitu juga sebaliknya, dahimu seketika berkerut, saat kau tahu bahwa itu adalah bungkus terakhir dari kertas favoritmu. Sebungkus hanya isi 50, masih kurang banyak. Ahh..!

Dan, aku paling suka setiap sudut bibirmu saat kau sedang kesal dan mengumpat. Kau selalu mengumpat saat tidak mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, pada akhirnya kau selalu mendapatkan semua yang kamu mau. Dengan cara apapun.

Burung kertas itu pun sebenarnya bukan punyamu kan? Kau merebutnya dari anak kecil di taman itu. Dasar gadis aneh. Semaunya sendiri.

Hahaha… akhirnya aku bisa! Terimakasih ya adik kecil, ini untukmu.  Setelah kau buat dia menangis dan kau paksa untuk mengajarimu cara membuat burung kertas, sekarang kau berikan burung kertas karya pertamamu padanya. Untuk gadis 18 tahun sepertimu, bukankah sikapmu itu sangat kekanak-kanak an sekali. Kenapa kau tidak bilang terus terang saja jika ingin belajar membuat burung kertas. Kenapa harus membuatnya menangis dulu.

Sejak itu, hari-harimu tidak pernah lepas dari membuat burung kertas. Satu hari tiga burung kertas, katamu dengan semangat. Entah sudah berapa banyak burung kertas yang kau buat. Dan aku tidak habis pikir, dimana kau akan menyimpan burung-burung itu. Hey, kau bahkan belum berterima kasih pada anak kecil itu. Kau masih berhutang budi padanya.

“Wahh…! Raka, kau benar-benar gila.. sampai kapan kau akan membuat burung-burung kertas itu?”, Robi menepuk bahuku, membuat konsentrasiku buyar. Sahabatku sekaligus musuhku itu sudah seperti jailangkung. Datang tanpa jemput, pulang tanpa antar. Robi memandangi toples-toples yang berjejer rapi di sisi ranjang tidurku. Toples-toples yang sudah terisi penuh oleh burung kertas yang kubuat.

“Apakah projekmu membuat sejuta burung kertas sudah berhasil, hah?”, tanyanya lagi. Dia merapikan burung-burung kertas yang baru saja kubuat dan memasukkannya ke dalam toples. Toples terakhir yang baru terisi seperempatnya.

“Hey Raka. Toples yang terakhir ini, buatku saja ya. Sebentar lagi, pacarku ulang tahun. Dia pasti senang, kalau mendapat kado setoples burung kertas.” Aku saja baru tahu kalau Robi sudah punya pacar lagi. Seminggu yang lalu, dia baru saja menangis padaku karena diselingkuhi oleh pacarnya.

“Jangan mimpi. Buat saja sendiri.”, kusahut toples dalam tangannya. Toples kesepuluh yang belum terisi penuh, kutata di sisi ranjang. Butuh berapa lama lagi untuk memenuhi toples itu.

“Hey… pelit sekali. Kau kan bisa buat lagi. Toples ini, buatku saja ya? Ya? Ayolah… ”, bujuknya.

“Tidak.”

“Haish.. sudah kuduga. Sifat pelitmu dari dulu memang tidak pernah berubah. ini yang membuatmu dijauhi para gadis.”, kepalaku mendadak pening. Robi sialan ini ternyata baru menjitakku. Nyaris saja toples ini kulempar padanya. Setoples burung kertas. Tapi sayang sekali kalau kalau toples ini pecah. Haha. Mungkin aku memang sudah gila. Kau berhasil menularkan kegilaanmu pada burung kertas padaku. Kau pun juga berhasil mendapatkanku. Kau mendapatkan apa yang kamu mau. Semuanya. Kau puas kan sekarang?

“Raka.. Dia sudah pergi. Kau tidak bisa seperti ini terus. Keluar dan carilah gadis lain. Aku yakin kau pasti bisa. Owhh… Kau ingat? Waktu sekolah dulu, kau adalah murid paling tampan dan pintar. Kau seorang idola! Ada banyak gadis yang mengejarmu. Sampai aku dimanfaatkan oleh mereka, untuk mendekatimu. Kau ingat kan? Sarah, Maya, Risa, Santi, siapa lagi namanya. Ahh.. Hubungi saja salah satu dari mereka. Aku yakin, kau bisa berkencan dan merasakan cinta lagi.”. Sepertinya Robi tahu kalau aku tidak terlalu suka dia mengungkit-ungkit kepergianmu lagi. Aku tahu dia sebenarnya kuatir, tapi aku juga tidak bisa berhenti membuat burung kertas ini. Seperti aku yang belum bisa berhenti melupakanmu.

“Aku tidak sepertimu, playboy kampung.”, bantal besar di depanku langsung tepat mendarat di wajahnya. Haha. Muka bodohnya itu lucu sekali. Apalagi yang bisa kulempar ke dia.

Ahh… Sudah cukup membuat burung kertas hari ini.

-ita, 14 Februari 2013-

Episode 2 – Bukan

Bukan kamu, bukan tentang itu

Juga bukan tentang pertemuan yang seharusnya tidak berlanjut.

Bukan tentang cerita setelahnya,

Bukan saat aku mengkuatirkanmu,
Atau saat-saat gelisah memikirkanmu

Bukan itu,
Ini tentang yang ada disini,
Lihat dalam-dalam perasaanku.

Antara ingin tapi tak ingin
Antara bebas tak lepas
Juga, antara tak bisa memiliki tapi tak mau kehilangan

Ingin berhenti, tapi hati terus melaju
Memerintah otak dan seluruh organ tubuhku untuk makin terpaut

Ahh…
Jangan buat aku kuatir,
Bukan tak bisa berhenti
Juga bukan karena aku tak sendiri

Hanya satu,
Bebaskanlah perasaanmu padaku.
Yakinkan aku, bahwa ini semua bukan tentang itu.

-Ita  , 25 Nopember 2012-

Episode 2-1 : Surat Terakhir

Mungkin tidak selamanya. Mungkin tidak untuk besok dan seterusnya. Mungkin, di bawah langit sana ada jodoh yang lebih baik menanti kita. Mungkin, kita memang tidak untuk bersama. Mungkin, nanti anak-anak kita akan menggantikan posisimu dan aku dalam suatu hubungan yang lebih baik. Jika tidak, mungkin menjadi sahabat juga tidak terlalu buruk. Atau, jika kita berjauhan dan tidak bertemu lagi, hingga nantinya tidak saling mengenal pun juga tidak akan berdampak apapun. Tapi, kamu sudah membawa dampak besar bagiku di hari kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarin saat kita pertama kali bertemu. Tidak akan ada aku yang hari ini, tanpamu di hariku yang lalu.

Cinta? Jika sampai nanti aku tidak bisa melupakanmu, apakah itu bisa disebut aku mencintaimu? Jika selamanya Cuma kamu yang ada di hatiku, apakah itu artinya aku mencintaimu? Jika nanti kita tidak bersama, dan aku tidak bersama siapapun, apakah karena aku mencintaimu? Jika nanti aku tidak datang ke pernikahanmu, apakah karena cintaku belum bisa merelakanmu? Jika nanti, aku bertemu dengan jodohku, tapi aku masih memikirkanmu, apakah itu yang disebut orang tentang jodoh tidak selalu dengan orang yang kita cintai? Jika nanti, anak-anak kita bertemu, dan mereka saling jatuh hati, apakah itu yang disebut karma cinta? Apakah nanti, jika kita tidak bertemu lagi selamanya, apakah karena itu hukuman atas cintaku padamu? Ah..

Lihatlah, cintaku padamu begitu rumit sekali. Dan kamu pasti akan tersiksa jika seterusnya mencintaiku. Karena itu, aku memutuskan untuk mencintaimu sampai hari ini saja.

love letter

Aku tidak tahu sayang.

Apakah masih ada nanti. Apakah masih ada jika, kalau, dan seandainya. Apakah aku masih memiliki kesempatan.  Yang aku tahu, kesempatanku hanyalah berandai-andai dalam tulisan ini.

Aku hanya tau,

Hidupmu masih panjang. Jadi, lanjutkan hidupmu saja seperti biasanya. Karena kamu masih punya hidup yang biasa dijalani oleh orang-orang lainnya. Bermimpilah, berlarilah menggapai mimpimu, temukan orang terpilih yang bisa mendampingimu, dan cintailah hidupmu. Aku sih masih berharap, cintamu hanya untukku saja. Haha. Tapi cukup sampai hari ini saja. Besok dan seterusnya, kamu harus menemukan cinta yang baru.

Jangan menangis sayang,

Kamu masih ingat kan, aku benci menangis. Karena menangis membuat kita terlihat lemah. Karena menangis, membuat kita ingin dikasihani dan tidak semua orang mau mengasihani kita. Dan sebenarnya, kita tidak butuh dikasihani (Setidaknya, aku tidak menangis di depan banyak orang). Dan aku akan melanggar semua kebiasaanku itu, jika kamu tidak berhenti menangis. (Jika alasan menangismu adalah karena surat ini, maka segera lenyapkan tulisan ini)

Dan,

Terimakasih sayang. Terimakasih karena telah mengajarkanku untuk merasakan cinta sampai hari ini. Hidupku di dunia ini sudah selesai. Mimpi-mimpiku pun sudah selesai. Jangan kuatir, nanti jika aku bertemu dengan Tuhan, aku akan meminta Tuhan untuk selalu membantumu meraih mimpi di dunia sampai selesai. Anggap saja itu sebagai permintaan maafku padamu atas semua salah-salahku.

Sampai jumpa lagi sayang, di kehidupan yang lain. Selamat melanjutkan hidup.

Solo, 27 Desember 1998

Rina yang mencintaimu dari pertama kali bertemu sampai hari ini.

Episode 3 : Selamat Ulang Tahun 

Selamat ulang tahun,

Ehmm… entahlah aku bingung apakah harus mengucapkan selamat atau tidak. Karena, bertambahnya umur semakin mendekatkan kita pada kematian. Jika aku mengucapkan selamat, berarti sama halnya aku mendoakanmu selamat menuju kematian. Tapi jika tidak, rasanya hambar sekali. Beberapa orang di dalam agamaku juga menganggap , ucapan selamat ulang tahun itu tidak dianjurkan. Mirip yahudi mungkin. Ahh… Anggap saja, ucapan selamatku ini sebagai ungkapan semangat untukmu agar lebih baik lagi di hari-hari selanjutnya. *shht…aku tidak ingin menggagalkan perasaan bahagia di hari spesialmu ini.

Selamat ya,

Menjalani 24 tahun dalam hidupmu, tidak mudah bukan? Tapi tidak sulit juga kan? Lihat ada begitu banyak keajaiban Tuhan yang telah diberikan padamu. Keajaiban yang terjadi hingga kamu bisa berada di titik sekarang ini. Maka, banyak-banyak bersyukurlah padaNya. Oiya, jangan lupakan orang –orang di sekelilingmu yang mencintaimu dan juga membencimu. Karena mereka adalah satu bagian penting dalam skenario yang membuatmu bisa seperti sekarang. Berterimakasihlah (juga) pada mereka semua, tanpa terkecuali.

Bagaimana rasanya?

Jangan terlalu senang dulu , ingat masih banyak daftar mimpi yang belum tercapai. Tapi, jangan lupa selalu bersyukur atas apa yang telah kamu capai. Tuhan merencanakan sesuatu untukmu, dan rencana itu baru bisa terwujud kalau kamu mau diajak bekerja sama. Jadi jangan pernah jauh dari-Nya. Jika mereka berpegang padamu, maka Tuhan adalah satu-satunya pegangan yang bisa kamu andalkan. Jangan pernah percaya siapapun kecuali Dia. Sudah berkali-kali dikhianati sama yang lain, masih belum kapok juga?

tumblr_kr87kj9Li31qzy5cxo1_500_large

Dalam tahun-tahun berikutnya, apa yang ingin kamu lakukan?

Ahh..biar kamu saja yang tahu. Seperti biasa, orang lain tidak perlu tahu kesedihan-kesedihanmu. Mereka cukup tahu, bahwa kamu baik-baik saja. Apapun yang akan kamu lakukan di masa yang akan datang, semoga bisa berjalan sesuai dengan keinginan dan kebutuhanmu.

Selama kamu ingat, bahwa kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri. Selama kamu paham bahwa kamu harus segiat mungkin untuk mencapai tujuanmu. Selama kamu sadar bahwa menjadi sandaran membutuhkan jiwa yang kuat dan tidak mudah patah. Selama itulah, kamu harus terus bertahan dan berusaha menjadi yang terbaik.

Hadiah? Kue? Lilin? Kado? Maaf ya, tidak ada satupun diantara itu yang kuberikan padamu.

Tapi, ada banyak doa yang ingin kusampaikan pada Tuhan untukmu. Berminat untuk mendengarkannya? Ini doaku.

Kalaupun kematian semakin dekat denganmu, semoga kamu memasukinya dalam keadaan yang terbaik. Tapi aku masih ingin bersamamu di dunia ini. Semoga Tuhan tidak buru-buru mengambilmu, karena menurutku tugasmu disini belum selesai. Jadilah dewasa, bijaksana, dan tidak mudah menyerah. Terbanglah lebih tinggi lagi, dan raih semua mimpimu. Semoga kamu selalu sehat dan semoga berkah Tuhan menghujanimu dengan rejeki yang halal. Semoga mereka yang mencintaimu selalu diberi kemudahan. Dan semoga mereka yang membencimu semakin membuatmu kuat. Amin.

Tahun depan, aku akan mendoakanmu dengan doa-doa yang lain. Selalu. (Ehm, kenapa mesti menunggu tahun depan? Aku akan mendoakanmu setiap saat selamanya). Untukmu yang bertambah umur di hari ini.

Bandung, 26 Maret 2013

Rewinnita Maretnoningtyas

Sophia Rose

 

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s