PRAY


What doesn’t kill me gonna leave a scar.
It’s true.
But.. Well..
i need more scars to make me stronger.

Every night before I sleep, I always pray and ask God to make me stronger.. even stronger and stronger. Don’t let me down.

Don’t let me give up even for a second.

Don’t let me hurt others.

And this is the way God make me stronger. He give what I want and what I need. If you really want to be stronger..then you have to be more pushed down. You have to be more stabbed from any side. You have to be more hurted by others.

This is the way God make me stronger.

I love You, God..

Burung Kertas


Burung kertas itu lucu ya. Origami membuat kertas menjadi bukan sekedar kertas. Aku masih ingat itu, tiga tahun lalu kau mengatakan itu. Di pinggiran kota Alexa, sebuah toko kecil, menjual berbagai kertas, dan kau memilih satu bungkus kertas bercorak polkadot warna-warni. Seperti anak kecil yang baru mendapat permen, nuansa hatimu bisa menjadi bahagia sekali. Hanya karena kertas origami.

Begitu juga sebaliknya, dahimu seketika berkerut, saat kau tahu bahwa itu adalah bungkus terakhir dari kertas favoritmu. Sebungkus hanya isi 50, masih kurang banyak. Ahh..!

Dan, aku paling suka setiap sudut bibirmu saat kau sedang kesal dan mengumpat. Kau selalu mengumpat saat tidak mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, pada akhirnya kau selalu mendapatkan semua yang kamu mau. Dengan cara apapun.

Burung kertas itu pun sebenarnya bukan punyamu kan? Kau merebutnya dari anak kecil di taman itu. Dasar gadis aneh. Semaunya sendiri.

Hahaha… akhirnya aku bisa! Terimakasih ya adik kecil, ini untukmu.  Setelah kau buat dia menangis dan kau paksa untuk mengajarimu cara membuat burung kertas, sekarang kau berikan burung kertas karya pertamamu padanya. Untuk gadis 18 tahun sepertimu, bukankah sikapmu itu sangat kekanak-kanak an sekali. Kenapa kau tidak bilang terus terang saja jika ingin belajar membuat burung kertas. Kenapa harus membuatnya menangis dulu.

Sejak itu, hari-harimu tidak pernah lepas dari membuat burung kertas. Satu hari tiga burung kertas, katamu dengan semangat. Entah sudah berapa banyak burung kertas yang kau buat. Dan aku tidak habis pikir, dimana kau akan menyimpan burung-burung itu. Hey, kau bahkan belum berterima kasih pada anak kecil itu. Kau masih berhutang budi padanya.

“Wahh…! Raka, kau benar-benar gila.. sampai kapan kau akan membuat burung-burung kertas itu?”, Robi menepuk bahuku, membuat konsentrasiku buyar. Sahabatku sekaligus musuhku itu sudah seperti jailangkung. Datang tanpa jemput, pulang tanpa antar. Robi memandangi toples-toples yang berjejer rapi di sisi ranjang tidurku. Toples-toples yang sudah terisi penuh oleh burung kertas yang kubuat.

“Apakah projekmu membuat sejuta burung kertas sudah berhasil, hah?”, tanyanya lagi. Dia merapikan burung-burung kertas yang baru saja kubuat dan memasukkannya ke dalam toples. Toples terakhir yang baru terisi seperempatnya.

“Hey Raka. Toples yang terakhir ini, buatku saja ya. Sebentar lagi, pacarku ulang tahun. Dia pasti senang, kalau mendapat kado setoples burung kertas.” Aku saja baru tahu kalau Robi sudah punya pacar lagi. Seminggu yang lalu, dia baru saja menangis padaku karena diselingkuhi oleh pacarnya.

“Jangan mimpi. Buat saja sendiri.”, kusahut toples dalam tangannya. Toples kesepuluh yang belum terisi penuh, kutata di sisi ranjang. Butuh berapa lama lagi untuk memenuhi toples itu.

“Hey… pelit sekali. Kau kan bisa buat lagi. Toples ini, buatku saja ya? Ya? Ayolah… ”, bujuknya.

“Tidak.”

“Haish.. sudah kuduga. Sifat pelitmu dari dulu memang tidak pernah berubah. ini yang membuatmu dijauhi para gadis.”, kepalaku mendadak pening. Robi sialan ini ternyata baru menjitakku. Nyaris saja toples ini kulempar padanya. Setoples burung kertas. Tapi sayang sekali kalau kalau toples ini pecah. Haha. Mungkin aku memang sudah gila. Kau berhasil menularkan kegilaanmu pada burung kertas padaku. Kau pun juga berhasil mendapatkanku. Kau mendapatkan apa yang kamu mau. Semuanya. Kau puas kan sekarang?

“Raka.. Dia sudah pergi. Kau tidak bisa seperti ini terus. Keluar dan carilah gadis lain. Aku yakin kau pasti bisa. Owhh… Kau ingat? Waktu sekolah dulu, kau adalah murid paling tampan dan pintar. Kau seorang idola! Ada banyak gadis yang mengejarmu. Sampai aku dimanfaatkan oleh mereka, untuk mendekatimu. Kau ingat kan? Sarah, Maya, Risa, Santi, siapa lagi namanya. Ahh.. Hubungi saja salah satu dari mereka. Aku yakin, kau bisa berkencan dan merasakan cinta lagi.”. Sepertinya Robi tahu kalau aku tidak terlalu suka dia mengungkit-ungkit kepergianmu lagi. Aku tahu dia sebenarnya kuatir, tapi aku juga tidak bisa berhenti membuat burung kertas ini. Seperti aku yang belum bisa berhenti melupakanmu.

“Aku tidak sepertimu, playboy kampung.”, bantal besar di depanku langsung tepat mendarat di wajahnya. Haha. Muka bodohnya itu lucu sekali. Apalagi yang bisa kulempar ke dia.

Ahh… Sudah cukup membuat burung kertas hari ini.

-ita, 14 Februari 2013-

Rainbow Cake Abstrak


Saya dan rainbow cake, apa hubungannya? Hubungan secara langsung, nggak ada. Secara saya nggak terlalu suka kue-kue begitu. Tapi, secara tidak langsung bisa dihubungkan karena weekend kemarin saya baru saja melihat proses pembuatan kue pelangi ini.

Jadi, ceritanya salah satu sepupu saya, Tasia, akan ulang tahun (hari minggu kemarin). Karena itu, si tante (mbak liza) mau bikin kue rainbow untuk perayaan ultah si Tasia. Menarik! Pikir saya. Terlebih, saya hampir selalu gagal bikin kue (*contoh : kue donat atos). Saya pun ikut nimbrung bersama Mbak Liza.

Kue rainbow bikinan Mbak Liza ini, tidak dioven. Tapi, dikukus. Untuk bahan-bahannya sendiri (ehem. seinget saya saja) :

siapkan

-gula dan mentega dikocok pakai mixer sampe mengembang. Serius ya, menggunakan mixer tanpa penyangganya, itu benar-benar bikin lengan pegel bok. Apalagi, harus dikocok sampai mengembang. Sekitar 20 menit an lah. Jadi, jangan remehkan para pembuat kue! Karena sebenarnya, punya lengan lebih kuat dari kita-kita bro.

20130112_101503

-Masukkan TDM. *Semoga namanya ga salah. Fungsinya sebagai pengembang adonan

-Masukkan terigu + susu bubuk.

-Bagi adonan menjadi beberapa bagian. Lalu, pada masing-masing bagian dimasukkan pewarna makanan. Boleh ditambah pewarna makanan yang ada rasanya. Mba Liza sendiri menambahkan warna biru, ijo, merah, dan ungu, tanpa rasa. Setelah itu, diaduk sampai warna merata.

20130112_102224

-Setiap bagian dikukus dalam tempat terpisah. Kira-kira 5 – 10 menit. Dilihat kondisi kue nya udah mateng apa belum. Diulangi terus, sampai semua bagian terkukus. Setelah itu, diangin-anginkan sebentar sampai panasnya hilang.

20130112_102534

Tahap yang paling susah adalah saat menumpuk masing-masing bagian ini. Alamak. Ada satu bgian yang dituang tidak rata ke dalam cetakan saat mau dikukus. Jadinya?? Miring bok. Setelah disusun, jatuhnya beneran miring kayak menara piza. Haha.

Di antara masing-masing bagian itu, bisa dioleskan krim (*kocokan mentega putih dan gula) atau selai. Terus, baru ditumpuk sama bagian yang lain. Setelah itu, bebas menghias!

20130112_110307

Menghias ngga segampang mennghias wajah bro. Mengoleskan krim ke seluruh permukaan kue sampai jadi mulus dan rapi itu ternyata sulittt gilak. Belepotan kemana-mana. Dan, jadinya abstrak! awwkk… Kreasi rainbow cake dari mbak liza dan saya adalah, setelah berhasil menumpuk kue dengan miring , mengoleskan krim sampai belepotan, lalu ditambah permen coklat. Jadi, sebenernya yang bikin menarik itu ya…. permen coklat sama coklatnya. hahaha.

20130112_121122

But so far, i get an experience from this. Dan, untuk pertama kalinya saya cicip rainbow cake ini.Yumm… rasanya kayak…roti kukus. Hahaha. namanya juga dikukus. Oke. Salam rain-bow!

Nanosatelit, Saatnya yang Muda yang Beraksi


Mengapa nanosatelit, identik dengan para muda mudi? Karena, mayoritas peminatnya adalah para mahasiswa (dan muda). Nanosatelit sesuai dengan nama depannya, “nano” yang berarti ukuran nya sangat kecil sekali. Nano itu, adiknya Mili (*ada milimeter, ada nanometer). Sedangkan, satelit ya… yang seperti sudah kita ketahui selama ini lah. (*ciyee padahal bingung jelasinnya).

Oke. Saya sedang mencari perbedaan nanosatelit dengan mormalsatelit yang ada sekarang. Yang pasti selain ukuran. Bagi penggemar dunia persatelitan, mengawali dengan nanosatelit bisa menjadi pilihan yang bagus. Siapa tahu kan ya, pengin bikin satelit. Dibuat dari yang nano-nano dulu lah, (small size). Dalam pengerjaannya, nanosatelit bisa menghabiskan dana total sekitar 2 – 3 milyar rupiah.  Tuh, duwit segitu mungkin bisa beli rumah + mobil + perabot isinya + modal kawin + beranak pinak. Bisa dibilang lebih murah ya, karena dibandingin bikin satelit yang normal, bisa menghabiskan dana sekitar 1 – 3 Triliun.

Buat para generasi muda, mungkin cuma mereka-mereka yang basic nya milyuner baru bisa bikin satelit sampe persis mengangkasa. Coba Paris Hilton mau bikin satelit ya? *Secara doski tajir berlebihan gitu bok, tapi urusan apa juga seorang Paris Hilton bikin satelit. Karena itu, para muda-mudi ini digandeng oleh instansi pemerintah untuk membuat nanosatelit. Bener sih, kalau pemerintah ikut campur kaki-tangan buat project ini karena hasil dari pembuatan nanosatelit bisa digunakan untuk kepentingan negara beserta rakyatnya. *Hahaha. Getok tongkat ala raja.

Kenapa muda-mudi? Karena yang muda masih punya semangat tinggi buat bikin sesuatu. Dan saya sebagai salah satu generasi muda juga merasakan itu. Apalagi kalau sasarannya mahasiwa, beuhh…loyalitasnya lebih dapet. Ditambah, yang nyuruh dosen. “Kerjakan, atau nilai jadi C.” Udah deh, pasti jalan tuh… *Itu sih ngancem.

Yah, buat para muda-mudi, satelit itu menjadi salah satu alat komunikasi yang penting. Karena dengan satelit, kita bisa melihat pergerakan bangsa-bangsa di dunia. Semua data bisa kita dapat, video-voice-teks, atau apapun bisa ditranmisikan lewat satelit real time. Jadi kebayang dong ya? Saat ini, saya sedang mencari informasi teknis berkaitan dengan nanosatelit. Hadeeuh…in english semua ya bok referensi nya. Ada yang punya dalam bahasa Indonesia? Saya lagi cinta mati sama bahasa ini. Monggo kita saling share. Yuk ah.