Roti Harum, Primadona Legendaris Dari Klaten


Selain keripik HAPPY khas Ngawi, makanan favorit legendaris lain yang saya suka adalah Roti Harum dari Klaten. Bentuknya bulat dengan olesan cream di bagian tengah. Rasanya manis, tapi tidak terlalu manis. Sepintas mirip roti sisir, tapi tekstur roti nya di bagian luar lebih kasar, tidak berminyak, tapi lembut dibagian dalam nya.

Continue reading “Roti Harum, Primadona Legendaris Dari Klaten”

Mencicipi Keripik Tempe HAPPY Khas Ngawi


Keripik Tempe HAPPY ini sudah jadi idola seluruh keluarga. Mertua saya selalu membawa keripik tempe HAPPY ini kemanapun sebagai oleh-oleh. Keripiknya tipis, dengan balutan tepung yang tidak terlalu berlebihan, tidak berminyak, dan rasanya gurih sekali.

Tidak ada varian apapun, hanya ada satu jenis yaitu keripik tempe ini saja. Teksturnya renyah, tapi tidak keras. Untuk orang-orang tua atau anak-anak kecil yang giginya tidak kuat, tetap bisa menikmati keripik tempe ini. Mungkin ini salah satu alasan mertua saya sangat suka dengan keripik tempe ini, dari orang tua hingga anak kecil bisa menikmatinya.

Continue reading “Mencicipi Keripik Tempe HAPPY Khas Ngawi”

Telor Dadar Kornet


Telor dadar kornet sudah jadi menu wajib yang selalu dihidangkan seminggu sekali buat saya dan suami. Gampang banget, dan cepat hanya 10 menit untuk membuat telor dadar ini. Selain enak dan cepat, di dalam telor dadar kornet ini juga mengandung banyak protein yang bisa mencukupi gizi selama bulan puasa. Cocok banget deh buat kalian yang pengen sahur cepet tapi tetep sehat.

Dan bikin telor dadar ini, nggak perlu bisa masak. Nggak perlu peralatan canggih. Pakai wadah biasa aja untuk mengocok, dan kalian yang nge-kos plus tiada kompor bisa pakai reskuker untuk memanggang telor nya. Ikutin aja resep saya ini, pasti bisa. Saya bisa bikin sambil merem ngantuk loh. Yuk!

Bahan :

  • 1 butir – Telor ayam
  • 1 sachet kornet
  • 1 siung bawang putih, geprek cincang halus
  • 3 buah cabe rawit, cincang kasar
  • 1/2 sdt – kaldu jamur Totole
  • 2 sdm – Minyak goreng

Cara membuat :

  1. Kocok telur ayam bersama dengan kornet, bawang putih, cabe rawit, & kaldu jamur.
  2. Panaskan minyak goreng dalam wajan
  3. Masukkan kocokan telur ke dalam wajan, dan goreng dengan api kecil agar telor matang seluruhnya. Setelah 3 menit, balik telornya dan jangan terlalu sering digoyang-goyang supaya tidak hancur. Biarkan matang selama 2 menit. (Total goreng telur hanya perlu 5 menit)
  4. Matikan api, dan angkat telurnya. Lalu sajikan bersama nasi putih dalam keadaan hangat.

Untuk bawang-bawangannya sendiri, bisa combine juga dengan bawang bombay atau daun bawang. Kalau pakai bombay akan lebih enak karena ada rasa sedikit gurih manis.

Selamat mencoba!

NB : Saya akan berikan hasil foto telor dadar kornet asli buatan saya yang lebih proper soon ya!

Warung Bebek Madura Jadi Tempat Andalan Untuk Berbuka


Untuk ukuran ibukota, mencari warung bebek yang enak itu sulitnya luar biasa. Cukup mengesalkan untuk saya, pendatang dari Surabaya yang memiliki puluhan warung bebek istimewa. Disini, saya sering kali dikecewakan dengan tekstur daging bebeknya yang alot, nasi nya yang keras, sambalnya yang NO banget, dan dijual dengan harga yang mahal pula. Bertumpuk-tumpuk keselnya kan? Karena itu, saya lebih memilih makanan lain daripada makan bebek di Jakarta.

Itu dulu sebelum saya bertemu dengan warung Nasi Bebek Pedas Khas Madura ini. Sekarang, ini menjadi warung bebek langganan saya. Lokasinya, berada di pinggir jalan. Sederhana, beratap terpal dan ditutup kain dengan 1 meja & 6/7 bangku untuk pelanggan. Penampakannya khas warung-warung pinggir jalan seperti pada umumnya.

Biarpun kalau hujan tetep kebocoran, saya tetep cinta sama warung bebek ini.

Meskipun sederhana, warung ini sudah menjadi tempat favorit saya untuk berbuka puasa sejak tahun lalu loh. Andalan banget, terutama saat saya harus pulang kantor lebih larut dan belum sempat masak. Saya bisa langsung singgah di warung bebek ini dan membungkus dua porsi untuk saya dan suami. Oups, suami saya yang lumayan kritis soal makanan-pun jatuh cinta dengan bebek ini. Bisa bayangkan, enaknya bebek ini?

Minimalis tapi tetap manis. Mas nya. lol

Bukan cuma saya aja yang jatuh cinta sama bebek ini, temen-temen kantor pun juga dibuat mabok kepayang dengannya. Nggak heran, tiap kali lembur sampai malam – singgah di warung bebek ini adalah pelipur lelah kami semua. Tempatnya juga tidak jauh, kira-kira 100 meter dari kantor.

Tekstur bebeknya empuk sekali, dan dimasak dengan bumbu rempah madura asli. Warna bumbunya kehitaman, hasil dari proses memasak yang matang dan maksimal. Gurih dan nikmat bumbu pedasnya. Sambalnya meskipun menggigit di mulut, tetap nyaman di perut dan tidak membuat serik di tenggorokan.

Penampilan nya amburadul, tapi rasanya MANTUL. Serundeng kelapanya, asoy geboy.

Kemarin, saya dan suami berbuka puasa disini dengan lauk ayam. Karena bebeknya sudah habis duluan. Toh, ayam madura ini juga sama dasyatnya dengan bebek. Ayamnya menggunakan ayam petelor yang bertulang besar. “Lebih gurih mbak, daripada ayam biasa.”, kata penjualnya (saya lupa namanya) dengan aksen Madura yang kental. Harganya ramah loh, untuk ayam madura dengan nasi dijual dengan harga Rp.14.000,- , sementara lauk bebek dengan nasi dijual dengan harga Rp.16.000,-. Tambah nasi & sambel, gratis. lol.

Sebenernya saya nggak mau share warung bebek ini sih, nanti makin ramai dan bisa-bisa saya nggak kebagian bebek lagi. Haha. (pelit). Tapi, karena ini bulan Ramadhan, saya mau berbaik hati sama kalian semua. Buat yang mau tau kelezatan bebek dan ayam Madura ini, atau mau menikmati kesyahduan ngobrol santai di warung bebek sederhana ini… Letaknya ada di jalan letjen suprapto – cempaka putih. Persis terletak di depan dealer Yamaha dan di samping masjid Universitas Yarsi. Hanya ada satu warung kok, jadi gampang banget nyarinya.

Selamat mencari, dan Selamat menjalankan ibadah puasa hari kedua ya!

Wisata “Njajan” di Monas


Kami bersama tetangga seberang apartemen (nggak ada angin atau hujan tiba-tiba) meluncur ke Monas. Paling nggak, ini lah yang terealisasi setelah batalnya agenda ke Pasar Jatinegara dan berenang di pagi hari karena tergoda nyaman nya bantal dan kasur. Sekalian ajak si bumil & calon ayah, suami, dan anak kecil untuk menengok Monas. Tinggal di Jakarta tapi belum singgah ke Monas, rasanya belum sah ya.

bty
HALO MONAS..!! (Muka saya gede banget ya? Ya udah sih… hehe.)

Ini kedua kalinya saya ke Monas, sejak tahun 2013. Belum lama banget sih. Tapi jujur, dibanding empat tahun lalu, area Monas sekarang jauh lebih bersih dan rapi. Para penjual makanan dikumpulkan dalam satu area baru, foodcourt.

Continue reading “Wisata “Njajan” di Monas”

Nikmatnya Pallu Basa Serigala


Antara soto daging, dan coto Makassar. Begitulah lidah saya mendeskripsikan rasa Pallu basa ini. Sepintas memang, Pallu basa mirip dengan Coto Makassar. Tapi irisan dagingnya seperti irisan daging ala soto yang pernah saya coba. Yang tidak bisa dibandingkan dengan coto Makassar dan soto daging, adalah taburan kelapa parut yang disangrai serta kuahnya yang kental menggigit, dan berasa sampai di perut.

cof
Dagingnya sih IYES, tapi telur nya NO (karena saya nggak suka telor mentah)

Saya bisa merasakan ketumbar, jinten, asam jawa, pala, dan gula merah di dalam kuah pallubasa ini. Aroma rempah-rempahnya begitu kuat, dan bikin makin lapar. Serius, kalau ada kesempatan ke Makassar lain waktu, saya pasti akan makan Pallu basa ini lagi. Nagih bos!

cof
Parutan Kelapa. Kacang Mente yang hampir selalu ada di semua tempat makan di Makassar

Continue reading “Nikmatnya Pallu Basa Serigala”

[REVIEW] Tergoda Kelezatan si Ratu Rendang


Anak kecil di rumah udah mulai menolak makan-makanan bayi. Maunya, makanan yang dimakan papa & ibunya. Makanan orang dewasa. Tiap saya dan suami makan, pasti ada aja tingkah rusuhnya pengen ikutan makan. Ya akhirnya, kami suapi makanan yang kami makan, setelah pinggir-pinggirin cabe di piring, biar nggak ikut ke-makan sama anak kecil ini. Lumayanlah, bisa bikin anak kecil ini mau makan sampai beberapa suap.

Well, saya memang bisa masak sendiri, tapi nggak setiap hari, karena saya harus kerja dan kadang sudah lelah ketika sampai di rumah. Setiap nggak masak, dan mau beli makan di luar jadi mikir banget. Mikir, makanan yang nggak pakai MSG atau pengawet apa ya? Cari yang bersih, dan nggak pedes juga, supaya anak kecil ini bisa ikutan makan.

raturendang_rewinnita

Beberapa waktu yang lalu saya kepikiran dengan menu rendang. Mana tahu, anak kecil ini mau makan pakai rendang. Siapa sih yang nggak suka makan rendang? Bayangin makan rendang sama nasi panas aja udah bikin ngiler ya. Hehe.

Continue reading “[REVIEW] Tergoda Kelezatan si Ratu Rendang”