Category Archives: Hobi

Drama Lijo Sayur


Saya tanpa Lijo Sayur, mungkin nggak akan bisa masak enak. Dimanapun saya berada, pasti selalu SKSD dengan para lijo sayur. Mulai di Rewwin, ada mbak Tiwik, & Joko. Lalu, di Rungkut ada pak Topi Merah. Dan, sekarang di Jakarta, ada Pak Asep,  Lijo Sayur favorit saya.

Disini, ada banyak banget Lijo. Semua lijo sayur saya sambangi satu per satu. Entah lijo sayur yang mangkal di pinggir jalan, atau lijo sayur yang ada di kios-kios bawah apartemen. Macem-macem aksennya, ada yang orang sunda, tegal, betawi, sampai orang Jawa. Mulai dari yang ramah, suka kasih diskon total belanjaan, lijo yang hobi dandan, dan sampai ada juga yang jutek banget.

Dari banyaknya lijo sayur yang ada disini, salah satu lijo favorit saya adalah Pak Asep asli Sunda. Pak Asep selalu menjual bahan-bahan segar, nggak pernah nginep. Dan lagi, jujur. Seperti Jujur saat menghitung total belanjaan dan memberikan kembalian. Selain itu juga, bisa dipesenin lewat sms. Misal, saya mau masak rawon atau soto. Bisa pesen minta dibawain daging komplit sama bahan-bahan bumbu serta pelengkapnya. Bahkan, saya pernah baru pesen jam 2 pagi lewat sms. Dan, beneran dibawain lho jam 6 pagi nya. Komplit pula.

Nah, dalam dunia per-lijo-an, tawar menawar itu hal yang biasa kan? Sayangnya, saya orangnya nggak hobi nawar. Seringnya, saya nggak punya banyak waktu untuk nawar dan berdebat karena pagi-pagi harus segera masak dan berangkat kerja. Paling cuma nanya, “Boleh kurang pak?”.  Kalau saya keberatan dengan harganya, saya nggak jadi beli. Saya seringnya langsung ambil bahan masakan yang saya perlu, lalu minta hitung. Jarang berdebat soal harga bahan sayur. As simple as that… Toh total belanjaan saya nggak pernah lebih dari 30ribu. 

Saya memang kudet tentang harga-harga bahan makanan di pasar. Saya nggak tahu standard harga pisang berapa. Harga cabe berapa. Harga bawang berapa. Yang pasti saya selalu positive thinking, harga yang dikasih sama lijo sayur pasti udah dihitung. Termasuk ongkos bensin dan tenaga yang dikeluarkan untuk membawa dagangan sayur sampai disini.

Suatu ketika, ada ibu-ibu dengan nada judes datang dan menawar pisang. Yang harga awalnya 15ribu dapat 3 buah, ditawar jadi 8ribu rupiah. Pak Asep sudah bilang, ga dapet kalau 8ribu. Modalnya aja lebih dari itu. Tapi ibu ini tetep keukeh dengan juteknya mau ambil pisang itu tapi bayarnya cuma 8ribu. Perdebatan seru dimulai, antara pak Asep yang nggak mau nurunin harga dan ibu-ibu yang mau langsung ambil pisang itu.

Saya pura-pura cuek, walaupun dalam hati kezel juga dengan sikap ibu ini.

Kalau ga mau harga ini, ke lijo lain aja Bu. Atau sono, ke pasar, mana tahu dapat pisang murah.  Kalian pasti berharap saya ngomong gitu kan? Haha. No..No. Itu saya ucapkan dalam hati aja kok. Berdebat dengan ibu-ibu, sama aja cari mati.

Akhirnya, pisang dikasih ke Ibu itu dengan harga 8ribu. Saya lihat raut pak Asep, yang tampak teraniaya rugi menjual pisangnya.

Hmm.. Langsung muncul banyak pertanyaan dalam pikiran saya. Ada berapa banyak ibu-ibu yang modelnya kayak gini ya? Dan, ada berapa banyak pelanggan pak Asep yang seperti itu? Penghasilan lijo sayur itu berapa ya? Rugi ga sih?

Ah, saya nggak mau berlarut-larut dengan pertanyaan ini. Tentu Pak Asep sudah memperhitungkan, di dunia per-lijo-an pasti akan ada ibu-ibu menyebalkan seperti itu. Drama alot dengan tokoh utama ibu-ibu sudah jadi resiko. Yah, mudah-mudahan kita tidak menjadi ibu-ibu yang demikian yah…

Selesai belanja, saya langsung masuk ke apartemen. Dari kejauhan, Pak Asep teriak. “Mbak, kembaliannya kurang 5ribu nih.”

“Buat pak Asep aja. Ganti in pisang nya ibu itu tadi.”


Advertisements

Masak Hemat dan Sehat, Ini Caranya!


Masak dan makan masakan rumahan itu perlu komitmen dari seisi rumah ya. Karena percuma kalau kita udah masak, tapi ujung-ujungnya tetep “njajan” di luar. Malah jadi boros. Kalau sudah diniatkan masak, ya harus dimakan dan dihabiskan bagaimanapun hasilnya. Bila perlu, masakan kita dibuat bekal juga untuk makan siang. Ada yang masih malu bawa bekal dari rumah?

Beda cerita kalau memang sudah diniatkan akan “njajan” di luar. Biasanya saya dan suami kalau lagi bosen makan masakan rumah, kita akan bikin plan untuk beli makan di luar. Entah itu delivery order, nyobain tempat makan baru, atau makan kenyang di warteg. Kalau sudah begitu, berarti saya akan libur masak sehari. Hitung-hitung refreshing lidah. hehe.

Tentunya, episode “njajan di luar” nggak terlalu lama ya. Frekuensinya paling sebulan sekali atau dua kali, dan ketika ada moment special. Ini adalah cara kami untuk memulai hidup sehat dan hemat. Apalagi kami punya anak yang harus dibiasakan dengan masakan rumahan sejak dini.

Kalau masak sendiri, dengan budget kurang dari 1 juta sudah bisa untuk makan tiga kali sehari selama sebulan.  Bisa dibandingkan, kalau kita makan di luar dengan personil 2 kepala dewasa dan 1 anak kecil. Anggap aja, anak kecil nebeng makan sama kita jadi nggak dihitung. Paling nggak bisa 50ribu – 100 ribu lebih sekali makan. Dengan budget yang sama, hanya bisa untuk 10x makan. Kalau sehari makan 3x, berarti kita cuma bisa makan di luar selama 3 hari. Beda jauh banget kan?

Selain itu, masak sendiri di rumah itu juga lebih sehat. Karena semua bahan-bahan masakan bisa kita pilih sendiri, dan peralatan yang dipakai pun lebih higienis.  Berdasarkan pengalaman masak kalau asal masak, jatuhnya bisa boros. Apalagi kalau doyan belanja di tukang sayur, dan tergoda beli bahan-bahan yang nggak kita butuhkan. Bahan masakan numpuk membusuk di kulkas.  Ujung-ujungnya, bahan makanan itu dibuang. 

Agar masak tidak berujung mubadzir sekaligus bisa beneran hemat, ada tips-tips yang bisa kalian praktekkan di dapur masing-masing. Yuk simak!

Continue reading

Gagal Bikin Kue? Beli ke Qker aja!


Jujur sampai sekarang nih, saya kagum dengan temen dan sodara yang jago bikin kue. Saya suka amazing, bagaimana mereka sabar banget bikin kue yang bisa memakan waktu beberapa jam itu. Ngaduk-aduk adonan pakai mixer. Trust me, pakai mixer itu melelahkan Guys. Saya pernah coba. Asli bikin lengan pegel! itu kalau hasilnya langsung OKE, tapi kalau nggak? Pengen nangis…

koki

Saya pernah bikin kue sendiri, itu pun satu jenis doang. Sebut saja, kue donat. (haha, emang bikin donat sih). Saya baru berhasil bikin donat kentang yang empuk, setelah tiga kali gagal lho. Itupun donat nya nggak seenak donat jco atau dunkin donut. Donat pinggir jalan, masih lebih enak daripada donat bikinan saya. Haha.

Continue reading

Wisata “Njajan” di Monas


Kami bersama tetangga seberang apartemen (nggak ada angin atau hujan tiba-tiba) meluncur ke Monas. Paling nggak, ini lah yang terealisasi setelah batalnya agenda ke Pasar Jatinegara dan berenang di pagi hari karena tergoda nyaman nya bantal dan kasur. Sekalian ajak si bumil & calon ayah, suami, dan anak kecil untuk menengok Monas. Tinggal di Jakarta tapi belum singgah ke Monas, rasanya belum sah ya.

bty

HALO MONAS..!! (Muka saya gede banget ya? Ya udah sih… hehe.)

Ini kedua kalinya saya ke Monas, sejak tahun 2013. Belum lama banget sih. Tapi jujur, dibanding empat tahun lalu, area Monas sekarang jauh lebih bersih dan rapi. Para penjual makanan dikumpulkan dalam satu area baru, foodcourt.

Continue reading

Nikmatnya Pallu Basa Serigala


Antara soto daging, dan coto Makassar. Begitulah lidah saya mendeskripsikan rasa Pallu basa ini. Sepintas memang, Pallu basa mirip dengan Coto Makassar. Tapi irisan dagingnya seperti irisan daging ala soto yang pernah saya coba. Yang tidak bisa dibandingkan dengan coto Makassar dan soto daging, adalah taburan kelapa parut yang disangrai serta kuahnya yang kental menggigit, dan berasa sampai di perut.

cof

Dagingnya sih IYES, tapi telur nya NO (karena saya nggak suka telor mentah)

Saya bisa merasakan ketumbar, jinten, asam jawa, pala, dan gula merah di dalam kuah pallubasa ini. Aroma rempah-rempahnya begitu kuat, dan bikin makin lapar. Serius, kalau ada kesempatan ke Makassar lain waktu, saya pasti akan makan Pallu basa ini lagi. Nagih bos!

cof

Parutan Kelapa. Kacang Mente yang hampir selalu ada di semua tempat makan di Makassar

Continue reading