Tiga Tahun Pasca Operasi Caesar


Kalau boleh memilih, tentu saya akan pilih melahirkan secara normal. Tapi saat itu, saya lebih ingin bayi lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun tidak bisa dengan cara melahirkan normal.

Tepat tiga tahun sudah, sejak terakhir saya operasi caesar dan anak saya lahir ke dunia. Alhamdulillah, anak saya tumbuh dengan baik. Hubungan antara saya dan anak saya juga baik, meskipun saya lebih sering bekerja di luar rumah. Dia tetap dekat, dan nurut dengan kata-kata saya dan suami.

Lalu apa yang saya rasakan sekarang, setelah tiga tahun pasca caesar?

  • Saya sering capek. Dulu, saya bisa kegiatan aktif banget selama sehari full dalam kondisi yang fit. Sejak melahirkan, kondisi badan saya tidak sekuat dulu. Kalau kerja di kantor, saya sering ngos-ngos an kalau lagi aktif. Ada yang bilang, sekali operasi caesar itu sama seperti tiga kali lahiran normal ya?
  • Muncul keloid di bekas sayatan operasi. Mungkin karena saya tidak rajin mengoles salep nya ya. Tapi well, keloid ini tidak berbahaya meskipun cukup mengganggu. Apalagi kalau ada rambut yang tumbuh di sekelilingnya. Rasanya gatel banget dan kalau digaruk, keloid nya berasa nyut-nyut an. Buru-buru saya harus cabut rambut itu, untuk meredakan gatal.
  • Di punggung – tepatnya tulang belakang – bekas suntikan bius terasa linu, kalau lagi capek banget. Linu nya terpusat di satu titik. Semriwing, seperti apa ya… Well, sulit dijelaskan. Yang pasti tidak terlalu mengganggu tapi cukup menjadi alarm bahwa saya harus segera istirahat.
  • Berat bedan masih nimbun 7 – 10 kg, belum luntur. Haha. Apakah ini efek operasi caesar? Nggak tahu sih ya, karena ada beberapa temen saya yang melahirkan dengan operasi caesar juga, tapi cling…sudah langsing lagi sekarang.

Saya nggak tahu, apakah ini juga terjadi di ibu-ibu yang melahirkan normal atau melalui caesar juga. Tapi, ini yang saya rasakan. Memang, tidak bisa dipungkiri ketika kita memiliki anak – semuanya tidak akan bisa sama lagi seperti dulu. Bentuk badan berubah, daya tahan tubuh juga berubah, dan prioritas-prioritas hidup ikut berubah juga.

Saya tidak mendukung operasi caesar ya. Biar bagaimanapun Tuhan sudah menciptakan jalan keluar bayi dari rahim. Tapi kalaupun ada ibu-ibu yang diharuskan dan terpaksa operasi caesar, saya hanya ingin bilang…. Jalani saja. Jangan dipikir terlalu berat. Kalau saya bisa menjalaninya dengan baik, kalian pasti bisa juga.

Tentunya setiap ibu punya pengalaman yang berbeda pasca operasi caesar ya. Jadi, bagaimana dengan pengalaman ibu-ibu lain nya? Sharing yuk disini. 🙂

Skippy Penyelamat Sahur Hari Ini!


Pagi ini saya nyaris telat bangun sahur. Biasanya, jam 4 pagi suami sudah bangunin saya. Eh, karena saya masih ngantuk banget jadinya tidur lagi deh. Begitu bangun.. Subhanallah! Sepuluh menit lagi imsak!

Karena suami paling nggak bisa kalau puasa tanpa makan dan minum di waktu sahur, jadilah saya cari-cari makanan yang siap santap di kulkas. Aha, ada roti tawar. Tengok ke atas meja makan, ada selai kacang dari Skippy. Gerak cepat, saya langsung oleskan selai ke atas roti tawar untuk dua porsi. Dalam lima menit hap! Setelahnya, langsung minum segelas air putih hangat dari dispenser.

Alhamdulillah, pas imsak perut kami sudah terisi.

Continue reading “Skippy Penyelamat Sahur Hari Ini!”

Cerita Dibalik Nasi Bungkus


Masakan di Jakarta, nggak ada yang enak! Yang mahal juga belum tentu enak.

Semua perantau pasti merasakan apa yang saya rasakan pertama kali saat hijrah ke ibu kota. Apalagi perantau asal Surabaya. 🙂

Bermula dari sembilan tahun yang lalu, sejak saya merantau ke Jakarta. Berat badan langsung turun drastis 5 kg dalam waktu 2 bulan. Well, untuk ukuran badan dengan berat 55 kg menuju 50 kg itu sangat terlihat loh. Berat badan turun karena lidah saya sulit menyesuaikan dengan cita rasa masakan yang ada di ibu kota ini. Nggak ada yang bener-bener enak.

Nasi campur rasanya hambar. Soto ayam kok pakai tomat? Pecel lele, sambalnya terlalu manis. Ketoprak, saus kacangnya terlalu -kacang- banget. Gado-gado kok dimakan pakai nasi? Bubur ayam kok kerupuknya jadi satu sama buburnya sih? Dan banyak ketidak biasaan yang terjadi terutama urusan makanan.

Continue reading “Cerita Dibalik Nasi Bungkus”

3 Days – StayCation di Grand Tjokro Bandung


Bermula dari berhasilnya memperpanjang SIM di Jakarta, kami akhirnya memutuskan tidak jadi pulang ke Surabaya. Karena tidak jadi pulang ke Surabaya, berarti budget yang sudah kami siapkan bisa dipakai untuk yang lain. Pikir punya pikir, ada temen baik saya yang mau nikah di Bandung nih. Sepertinya budget holiday bisa dipakai untuk liburan tipis-tipis di Bandung sekaligus menghadiri acara pernikahan temen saya.

Staycation sebenarnya bukan istilah pas untuk karakter saya dan suami yang suka berpetualang kesana kemari. Karena ada balita yang sedang sangat amat sangat aktif, akhirnya kami memilih untuk menghabiskan waktu di satu tempat saja. StayCation atau Holistay istilah keren-nya. Kalau mau staycation, berarti cari hotelnya yang sudah menawarkan fasilitas lengkap untuk menghabiskan waktu. Ya begitu.

Gambar diambil dari booking.com

Setelah browsing, dan tanya pendapat ke beberapa teman yang kerja dan pernah kuliah di Bandung muncul beberapa pilihan. Hotel Janevalla Bandung, Yellow Hotel, Hotel Aston, dan Hotel Grand Tjokro Bandung. Dari pilihan-pilihan ini, kami memutuskan untuk staycation di Hotel Grand Tjokro Bandung saja. Kenapa? Karena saya cek ada banyak review yang menyebutkan fasilitas bermain untuk anak-anak lumayan lengkap. Dan budgetnya pun masuk akal. Kalau booking jauh-jauh hari bisa dapat harga mulai dari 600ribu an per kamar. Saya sendiri memilih kamar Premier Suite di harga 800 ribu an per malam, karena ukuran kamar lebih luas dan ada bathup nya. Biar anak saya bisa lega lari-larian di dalam kamar dan bisa main air di bathup sepuasnya. And, It works!

Keberangkatan dari Jakarta adalah hari Jumat (hari kerja) sekitar jam 9.30 pagi, dan kami tiba di Hotel Grand Tjokro jam 2 siang. Sempat berhenti 1,5 jam untuk makan siang sebelumnya. Kalau dihitung perjalanan dari Jakarta ke Bandung sekitar 3 jam.

Setibanya sampai di Hotel Grand Tjokro, sambil proses check in – saya diberi minuman air asam jawa. Mungkin karena saya lagi nggak pengen yang asem-asem, jadi berasa aneh di mulut. Proses checkin sekitar 15 menit, tidak lama kemudian kami langsung diantar menuju kamar. Dan, well….kamar persis seperti yang ada di dalam foto review dan 90% sesuai ekspetasi. Yang 10% kenapa? Well…handuk di kamar mandi nggak wangi, dan aromanya seperti rumah bukan di hotel.

Ini dia yang saya cari-cari, kebun binatang mini di dalam hotel!

Karena bocah lagi ON banget, kami langsung ke lantai 10 untuk bermain di outdoor playground. Anak saya happy banget bermain perosotan dan main pasir. Plus, yang saya suka playground ini cukup bertanggung jawab. Karena disediakan keran air dan shower yang bisa dipakai untuk membersihkan badan anak selesai bermain pasir. Keep applause!

Tempat untuk bermain pasir ini ada di lantai 10

Lalu saat sarapan, kami dimanjakan dengan varian menu yang lengkap dari menu Indonesia, timur tengah, Japanese, sampai menu western. Jajanan khas Sunda, dan es krim jadul pun ada disini. Palugada banget.
Oya, disediakan spot yang berisi kue, permen, coklat khusus untuk anak-anak. Bahkan anak-anak bisa mendekorasi kue donat kesukaan dengan selai yang sudah disiapkan disana. Ini sudah termasuk fasilitas.

Sayangnya, mungkin karena jenis makanannya banyak – citarasa masakan nya kurang begitu nendang di lidah saya. Kurang sedep gitu. Tapi bukan masalah besar untuk saya, toh apapun variannya inceran saya tetep… Omelet khas Hotel. hehe.

Spiderman GrandTjokroBandung
Ada spiderman saat sarapan!

Indoor playground letaknya dekat dengan restaurant. Sehingga, ketika sarapan pagi tiba – orang tua bisa sarapan dengan lebih tenang sambil mengawasi anak-anaknya bermain di playground. Ketika anak-anak bermain di playground, bisa sambil disuapin juga kan? Anak senang, ortu nyaman.

Selesai menghadiri acara pernikahan temen saya, kami kembali ke hotel dan berenang! Kolam renangnya tidak terlalu luas, tapi cukup untuk mendinginkan hati. Kami berenang di siang bolong, lumayan untuk mengaburkan dinginnya air kolam. Disediakan juga pelampung untuk anak-anak yang bisa disewa seharga 20ribu rupiah.

Elmo suka banget, karena bisa main tepung dan kotor-kotoran lol

Banyak kegiatan yang disediakan untuk mengisi waktu anak-anak biar tidak bosan. Dengan membeli voucher seharga 100ribu, anak bisa mengikuti kelas cooking pizza, memberi makan binatang di mini zoo sampai nonton bioskop sambil makan pop corn. Tapi ya gitu, bayar 100ribu. Saya pikir sudah termasuk fasilitas… 😦

Saya ditawari tiket ini oleh petugas hotel saat sedang sarapan 🙂

Rincian budget yang kami keluarkan untuk liburan bertiga ini adalah sebagai berikut :

  1. Hotel 2 malam: IDR.1.900.000,-
  2. Bensin : IDR.250.000,-
  3. Toll : IDR.250.000,-
  4. Makan siang & malam : IDR.300.000,-

Ya totalnya sekitar 2,7 juta atau bisa dibulatkan jadi 3 juta untuk perjalanan kami bertiga selama 3 hari 2 malam di Bandung. Mahal? Murah? Ya, dicukup-cukupin dengan budgetnya aja.

Kalau Anda ingin berlibur ke Bandung bersama keluarga dan membawa anak-anak umur 2 – 12 tahun, Hotel Grand Tjokro ini adalah pilihan yang pas. Tapi, kalau Anda hanya berdua dengan pasangan atau liburan sendirian, please cari hotel lain aja. Karena hotel ini bener-bener ramai di weekend, ditambah banyak anak kecil, orang tua (kakek nenek paman bibi), dan membuat kesyahduan menginap berkurang.

Jadi saya akan rangkum, plus minus menginap di hotel Grand Tjokro Bandung.

Plus :

  1. Fasilitas lengkap. Ada kolam renang anak-anak, ada kebun binatang mini, taman pasir, bilyard, Playstation, outdoor playground, indoor playground, sampai dengan bioskop mini.
  2. Pilihan makanan banyak, dari A sampai Z ada semua.
  3. Suasana hotelnya cukup bersih & nyaman untuk beristirahat

Minus :

  1. Ramai. Tentunya kurang cocok buat kalian yang mau honeymoon, karena tempat ini kurang syahdu.
  2. Bertempat di lokasi yang macet. Well, kalau mau kemana-mana cari waktu yang pas supaya tidak terjebak kemacetan. Tengok-tengok dulu lah ke luar jendela untuk lihat kondisi. lol
  3. Aroma ruangan agak apek & Handuknya tidak wangi. Masalah teknis minor yang bisa saja terjadi di semua hotel. well.

Gali Potensi Anak sejak Dini Melalui AJT CogTest


Ibuu.. Kipas. Kipas Angin. Emo suka kipas angin.

Mengetahui potensi anak sejak dini, adalah keharusan bagi orang tua. Begitu juga dengan saya. Well, mungkin saya sibuk bekerja di luar rumah. Tapi bukan berarti perhatian saya terhadap tumbuh kembang dan mengetahui potensi anak di rumah, menjadi gugur dong ya. Sebagai seorang ibu, saya sangat peka dan kritis terhadap kemampuan anak saya sekecil apapun.

Salah satu cara yang saya lakukan untuk mengetahui potensi anak adalah dengan melihat kebiasaan dan kesukaannya. Anak saya itu suka sekali dengan kipas, spinner, kincir angin, kincir air, roda, dan segala hal yang bisa berputar. Lalu, saya dan suami coba membelikan barang-barang di atas (versi murah meriah nya lho ya). Tidak hanya untuk dimainkan, tapi juga untuk dibongkar. Well, kami tidak berharap barang tersebut akan kembali ke bentuk semula sih. Tapi setidaknya, dia tahu bagaimana sebuah kipas angin itu terbentuk dan komponen penyusun nya apa saja.

Continue reading “Gali Potensi Anak sejak Dini Melalui AJT CogTest”

My journey to Healthier Life


This year, 2019, I have decided to start my journey to better health. Well, Healthy living does not mean being super skinny or really ripped with muscles and defined abs. I believe being healthy means being whole, balanced and full of life. It involves having a wellness and self-care practice that is physically, emotionally and spiritually fulfilling.

However, as I have gotten older and wiser I realize that those things are just one piece of the puzzle.  There is so much more to a healthy lifestyle. I just counting days to be thirty. I remind my self every time, my attitude defines outlook going forward. I can choose to be stressed and anxious about a certain age, or i can choose to be grateful and open to another year of life on this earth. And yes, I choose number two, open my another life with a healthier life. I’ve learned there are many ways to practice self-care. I get to decide how best to prioritize my mind, body, and spirit.

Continue reading “My journey to Healthier Life”

Iya Boleh, Nak…


Meskipun saya adalah seorang perempuan yang sibuk bekerja dan jarang di rumah, tapi untuk selalu dekat dengan anak adalah wajib hukumnya untuk saya. Waktu bersama anak yang terpenting adalah seberapa bagus kualitasnya meskipun itu tidak lama. Saya akan bahas bagaimana saya dan anak tetap bisa dekat meskipun dalam waktu yang singkat dalam postingan terpisah ya. 

Sebagai orang tua, bisa dibilang saya dan suami sangat kompak dalam mendidik anak. Serunya, kami adalah penganut gaya “bebas berekspresi” pada anak dan langsung memberikan contoh yang sama agar anak bisa bereksplorasi sebanyak-banyak nya di usia emasnya sekarang.

Misalnya, saya dan suami suka dansa lucu-lucu an bersama dengan anak. Lalu, nyanyi-nyanyi seru dengan anak. Menggambar bersama. Tebak kuis berhadiah cium. Shalat berjamaah. Berpelukan. Dan, kami juga suka melakukan kegiatan bersama-sama seperti menyiram tanaman, membuat kue, travelling, bermain dengan binatang, dan banyak hal lainnya lagi. Tidak selama seperti ibu rumah tangga lainnya, tapi waktu saya dan anak sangat berkualitas.

Kami jarang banget melarang ini, melarang itu, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Kecuali untuk hal-hal yang berbahaya seperti main kompor berapi, main colokan listrik, dan menyakiti orang lain. Tapi di luar itu, bebas…

Mau main air, soh…

Mau main tanah, soh…

Main lumpur, soh…

Mau main terjun bebas, soh…

Mau main binatang, soh…

Mau gulung-gulung di jalan, soh…

Karena kami menganggap, itu semua adalah bagian dari masa eksplorasi anak. Dan, kebetulan banget. Anak saya adalah anak yang super aktif alias ora iso meneng. Selalu ada saja tingkahnya yang “di luar dugaan dan ajaib”. Untuk orang-orang yang belum terbiasa dengan Elmo, pasti sudah histeris dan heboh.

Tapi untuk saya dan suami, ala… udah biasa. Biarin aja.. Nggak pa – pa..

Continue reading “Iya Boleh, Nak…”