Aroma Masa Lalu


Memikirkan masa lalu itu seperti bergulat dengan rindu. Ingin kembali, tapi tidak ingin terluka lagi.

Aku masih ingat aroma tubuhmu yang bisa kutebak dari kilometer seratus. Aku sangat menikmati waktu demi waktu yang bergulir karena aromamu yang mendamaikan ini. Sampai akhirnya kau tertawa, ketika aku memberanikan diri untuk bertanya, “Pakai parfum apa?”

Sejak itu, aromamu tertinggal dimana-mana dengan sengaja. Ada aromamu diantara oleh-oleh kain tenun khas lombok, ada juga aromamu dibalik tas handphone, dan pada dua baju hitam yang kukenakan saat kita nonton di bioskop yang salah.

“Kamu mau? Ini parfumku.”, sebotol parfum kamu sodorkan, sesaat setelah kutanya beli parfum dimana.

Dahimu mengernyit, ketika aku menolak untuk menyentuhnya. “Kenapa?”

Aku menggeleng, “Terimakasih, aku tidak mau terkena pelet parfum.”, candaku. Yah, aku tidak mau situasi ini menjadi terlalu serius.

“Memang itu yang aku mau.”, senyum itu lagi. Menggodaku lagi. Dan aku harus mengalihkan pandanganku lagi, agar aku tidak terjebak lagi.

Ya, lagi, lagi, dan lagi.

Bintang-bintang di luar menjadi saksi perjalanan kita malam ini. Di dalam mobil scarlet mu, diam-diam aku berharap waktu berhenti.

“Aku ingin lebih dari sekedar jatuh cinta.”, gumamku

“Kamu jatuh cinta sama aku aja belum, udah minta lebih. Gimana sih?”

“Ha ha. Gimana kalau aku jatuh cinta beneran sama kamu?”

“Kita jalani aja, mengalir seperti air.”

“Tapi hatiku sudah terisi satu nama sejak empat tahun yang lalu. Kamu juga kan? Ya kan?” Godaku. Lalu, aku tersenyum geli mendengar kata-kataku sendiri. Kami sama-sama tahu ada kehidupan lain disana. Tapi selama tiga bulan terakhir, kami lebih memilih untuk mengurung hubungan tanpa nama ini disini. Seolah, tidak ada yang perlu terluka jika kami bersama.

“Ada nggak sih, cara agar namaku aja yang ada disana?”, Sial, aku digoda lagi, dengan ekspresi yang sama. Tampan, menggoda, dan bikin deg-deg an.

“Ada. Tapi aku harus ngosongin hati dulu.”,

“Kalau gitu, jangan deh.”

Belum sempat aku bertanya kenapa, kamu sudah menyahut. “Aku belum pantas menjadi satu-satunya di hatimu.”

Selalu begitu.

Kamu yang mengaku mengagumiku diam-diam sejak empat tahun yang lalu, kamu yang ingin selalu ada di sisiku, kamu yang selalu berandai untuk selamanya, kamu yang nyaman denganku, tapi kamu juga yang selalu mengakhiri seolah untuk selamanya, tanpa aku tahu kapan kisah ini dimulai. Lucunya, membuatku patah hati untuk hubungan yang tidak pernah aku miliki.

“Maaf.”, Aku bisa melihat sorotan matamu mulai meneduh. Seolah kamu bisa mengintip kesedihan yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Seperti biasa, aku harus pura-pura acuh. Untuk mengaburkan air mata, yang aku sendiri juga tidak tahu alasannya.

“Besok, kita jalan lagi?”, ajakmu.

Lagi? Menikmati malam syahdu berdua denganmu lagi? Menghirup aroma parfummu lagi? Mengulang percakapan ini lagi?

“Boleh. Tapi bukan besok.”

“Kenapa? “

“Jawabannya ada disini.”, kuserahkan sebuah undangan untuknya, bertuliskan Our Wedding.

Sebelum pintu mobil kututup, kita berjabat tangan. “Kalau nggak sibuk, dateng ya!”, ujarku. Menyepakati sebuah keputusan untuk tidak bertemu lagi dengan rasa yang sama. Aku bisa melihat sorot terluka dari matamu. Malam itu kutinggalkan kamu, dan semua aromamu persis di depan rumahku.

NB : Ini cerita fiksi yang sudah lama sekali saya buat, dan ada di draft blog selama dua tahun terakhir. Mau upload agak ragu-ragu, kuatir menimbulkan interprestasi yang salah. Yang pasti, ini tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi saya. Hanya sekedar menulis, berkhayal, mengisi waktu gelisah di malam hari saat mata tidak mau diajak lelap. Semoga menghibur! 🙂

Advertisements

Posted by

Hi! Welcome to my world! I'm a wife , mother of a son, and a business leader in my 30’s and loving it! I am on a journey to be the best I can be…now, tomorrow, and every day in between. What we do today and choices we make affect our tomorrows. Come join me on this journey! Rewinnita Maretnoningtyas

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.