Cerita Dibalik Nasi Bungkus


Masakan di Jakarta, nggak ada yang enak! Yang mahal juga belum tentu enak.

Semua perantau pasti merasakan apa yang saya rasakan pertama kali saat hijrah ke ibu kota. Apalagi perantau asal Surabaya. 🙂

Bermula dari sembilan tahun yang lalu, sejak saya merantau ke Jakarta. Berat badan langsung turun drastis 5 kg dalam waktu 2 bulan. Well, untuk ukuran badan dengan berat 55 kg menuju 50 kg itu sangat terlihat loh. Berat badan turun karena lidah saya sulit menyesuaikan dengan cita rasa masakan yang ada di ibu kota ini. Nggak ada yang bener-bener enak.

Nasi campur rasanya hambar. Soto ayam kok pakai tomat? Pecel lele, sambalnya terlalu manis. Ketoprak, saus kacangnya terlalu -kacang- banget. Gado-gado kok dimakan pakai nasi? Bubur ayam kok kerupuknya jadi satu sama buburnya sih? Dan banyak ketidak biasaan yang terjadi terutama urusan makanan.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai dan harus terbiasa dengan ketidak sedap an makanan yang ada disini. Dan berangsur-angsur menggendut. Artinya, saya mulai nyaman dengan ketoprak, soto betawi, soto bogor, bubur ayam, mie ayam, dan nasi goreng kambing. Serta masakan-masakan pinggir jalan murah meriah lainnya, yang kadang rasanya ancur banget juga bisa saya telan. *Applause!

Itu saya, tapi tidak dengan suami. “Orang-orang disini, jual makanan bukan karena jago masak. Tapi karena faktor ekonomi aja.”, kata suami setiap kali kesal beli makanan yang nggak enak. Meskipun sudah menginjak tahun ke-empat di Jakarta, suami saya tetap tidak nyaman dengan masakan khas ibu kota ini. Satu-satunya cara untuk menghibur suami adalah dengan hoka hoka bento di kala weekend, atau masak sendiri di rumah. lol.

Bekal Makan siang : Sambal orek tempe + Paru goreng. Paru goreng kesukaan suami, dan sambal orek tempe kesukaan saya.

Untungnya, saya bisa dan suka masak. Sampai sekarang, memasak menjadi agenda menarik buat saya di waktu luang. Apalagi kalau lagi banyak kerjaan di kantor, saya menghilangkan stress dengan memasak. Ketika memasak, saya lupa segala keruwetan hidup ini. Yang saya ingat hanya, bagaimana cara memasak yang enak untuk saya dan suami. Memasak buat saya adalah agenda penghiburan hati yang murah, enak (kalau berhasil), dan bisa bikin kenyang.

Setiap pagi, kalau lagi nggak capek – saya selalu sempatkan untuk masak. Masak untuk sarapan sekaligus untuk makan siang. Jadi, seringnya saya bawa bekal ke kantor. Lumayan, penghematan juga kan.


Bekal Makan Siang : Nasi + Ayam suwir rebusan soto. Ayam model begini, favorit suami banget.

Satu hal lagi yang paling menyenangkan dari memasak adalah… ketika masakan saya bisa dinikmati oleh suami dan orang lain. Dan menjadi makanan favoritnya. Sampai suatu ketika, “Disini nggak ada nasi bungkus seperti di rungkut ya?”, tanya suami. Hmm.. selain nasi bungkus isi nasi uduk atau nasi kuning, tiada lagi. Ya kan? Sementara, nasi bungkus yang dimaksud suami saya adalah, nasi dengan lauk mie , ayam suwir, timun, tempe, dan sambal orek.

Beberapa waktu kemudian, saya pengen banget makan sego sambel mak yeye. Di Jakarta nggak ada makanan surgawi ini. Dan, tiada mungkin saya terbang ke Surabaya buat makan sego sambel mak yeye doang kan? Harga sego sambel sama ongkos transport-nya, berat sebelah Jendral!

Buat yang belum tahu, sego sambel mak yeye. Bentuk penampakannya seperti ini. Sambelnya melimpah ruah, dan yang sulit dilupa adalah iwak pe nya! Saya ambil gambarnya dari IDNTimes / Surabaya Foodies.

Dari situlah terbesit untuk membuat nasi bungkus ala saya sendiri. Terinspirasi dari sego sambel mak yeye dan nasi bungkus keinginan suami. Jadilah nasi bungkus ini. Ya, kunci kelezatan nasi bungkus ini ada di sambel nya. Ehem. Saya lumayan jago bikin sambel dari SD. Ehem. Buat yang mau tahu, resep sambel nya apa? Tinggalin pesan aja di komen ya!

Sebagai uji coba, saya bawa ke kantor untuk ditawarkan ke temen-temen sendiri. Trial error beberapa kali, sampai saya menemukan resep yang pas untuk membuat sambelnya. Kenapa trial error? Karena lidah setiap orang beda-beda kan? Jadi saya harus menemukan resep yang pas di lidah banyak orang. Menunya sederhana sih, nasi, telor dadar, terong goreng, sambal, tempe, dan timun. Biasanya saya suka kasih porsi nasi dan sambalnya melimpah, biar temen-temen saya kenyang nikmat makannya. Sambalnya pun sengaja nggak dibuat pedas, biar nggak sakit perut. Plus, masakan saya semuanya tidak menggunakan micin. Dipastikan pakai minyak baru, jadi aman.

Akhirnya, sampai sekarang (kalau ada waktu) saya akan bawa nasi bungkus ini ke kantor. Nggak banyak, cuma 10 bungkus aja. Walau bisa dijadikan bisnis, tapi saya memilih untuk menyalurkan hobi masak aja dulu. Dan merasakan kebahagiaan ketika temen-temen di kantor makan nasbung, sudah menjadi kepuasan tersendiri buat saya! lol

Saya jualnya murah meriah, tujuh ribu rupiah saja per bungkus. Temen-temen saya happy banget bisa makan enak plus murah. Malah ada yang pengin langganan, bayar di muka untuk satu bulan. Tapi saya tolak, karena nggak setiap hari saya bisa bikin nasi bungkus ini.

Saya bikin nasi bungkus ini dari jam setengah lima pagi, pas Subuh gitu lah. Kurang lebih selama 1 – 2 jam. Sepuluh bungkus doang, lama ya? Maklum, saya kerjain semuanya sendirian. Dan api kompor cuma ada dua. Gantian masaknya. Saya sengaja bikin kemasannya menggunakan kertas bungkus dan daun pisang yang melimpah. Karena daun pisang ini bisa membuat masakan lebih sedap sekaligus membuat masakan lebih tahan lama secara alami.

Suami awalnya kuatir kalau saya malah rugi jualan nasi bungkus ini. Kalau dihitung matematika, mungkin rugi ya. Subhanallah, kenyataannya saya nggak rugi loh. Selalu ada lebihan uang belanja saat pulang kantor. Malah, saya bisa beli reskuker pakai keuntungan jualan nasi bungkus ini. Alhamdulillah. Rejeki bukan kuasa manusia, tapi kuasa Allah.

Tidak semua masakan saya selalu berhasil, seperti aglio olio ini. Bawang putih nya gosong. lol

Meskipun saya bisa masak, nggak jarang masakan saya berakhir tidak sesuai ekspetasi. Seperti spageti aglio olio ini. Atau terong balado yang berakhir terong saus sarden. Yah, kalau hasilnya aneh begini…suami saya tetep makan kok. Daripada berantem sama saya, mending makan ini kan? haha.

Goal nya bikin terong balado, hasilnya terong rasa saus sarden 🙂

Dan hasil masakan-masakan saya lainnya, bisa diakses di instagram @diarymamemo . Resep-resep ada yang saya share di instagram itu, tapi ada beberapa yang saya share di cookpad . Maklum, saya pekerja di luar rumah – sering nggak ada waktu untuk update resep-resepnya.

Selain untuk hobi, saya punya goal lain dengan lebih sering memasak di rumah. Pengennya, ketika anak saya nanti sudah besar dan harus merantau. Ada yang bisa dirindukan dan diceritakan ketika pulang ke rumah. Ya, masakan ibunya. Seperti saya, yang selalu merindukan masakan ibu setiap pulang ke rumah.

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.