Tahun Baru, Langit Biru


Kalau diingat-ingat, tahun 2018 adalah tahun yang sulit tapi ternyata bisa saya lewati dengan hati yang bahagia. Ada banyak hal yang membuat saya bangga bisa melalui tahun 2018. Diantaranya, saya bersyukur karena di tahun kemarin saya diberi kesempatan untuk memiliki pekerjaan baru sekaligus rumah baru. Kesempatan yang bukan hanya untuk diterima begitu saja, tapi juga harus diperjuangkan.

Well, menempati rumah baru (mungkin) terkesan -wah- ya. Tapi buat temen-temen yang sudah mengalami, bagaimana liku-liku membeli rumah baru tentu tahu bagaimana rasanya. Memang -wah- :

  • Wah, mulai bayar cicilan KPR
  • Wah, mulai bayar listrik dan air
  • Wah, mulai bayar iuran RT
  • Wah, mulai nyicil beli perabot
  • Wah, wah, dan masih banyak wah lain nya.

Tapi diantara semua wah-wah-wah yang mendebarkan kantong ini, saya tetap bersyukur. Wah, Allah masih berbaik hati memberikan saya kenikmatan menempati rumah di atas tanah dalam bumi ciptaan-Nya ini. 🙂

Lalu pekerjaan baru. Ha ha. Satu hal, yang saya jarang bahas di blog. Bukan apa-apa, karena rata-rata pekerjaan yang saya lakukan adalah pekerjaan yang bersifat rahasia. Tidak boleh diceritakan ke siapapun, termasuk ke suami sendiri.

Tapi saya bisa cerita secara garis besar, saya bekerja di perusahaan Start up di bagian pengembangan bisnis. Pertama kalinya bekerja di perusahaan start up, rasanya benar-benar berbeda dibandingkan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Tantangannya lebih seru, dan banyak kejutan yang penuh perjuangan. Tapi, saya bersyukur sekali karena saya bisa mengerjakan semuanya dengan bahagia. Bahagia dengan teman-teman millenials yang super unique, sekaligus bahagia dengan pekerjaan nya.

Dua hal di atas adalah kesempatan baru yang mulai saya perjuangkan di tahun 2018.

Bisa dibilang, selama tahun 2018…. Tuhan memberikan banyak hujan dan petir. Mendung dan kelabu saling berpautan. Ada fase dimana saya merasa bimbang, apakah titik yang saya tuju itu benar? Apakah proses menuju kesana itu sudah benar? Apakah pilihan yang saya ambil sekarang adalah pilihan yang benar?

Penghujung 2018… Kebimbangan itu sirna. Hujan dan petir mulai mereda. Saya sekarang bisa mengintip biru nya langit dibalik awan kelabu. Tahun 2019, saya ingin menikmati langit biru seutuhnya. Tersenyum, tetap bahagia, dan semakin percaya, Tuhan selalu melihat semua perjuangan yang kita lakukan. Dimana ada kemauan, disitu Tuhan akan memberi jalan.

 

 

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s