Teman Baik yang Hilang


Awalnya, saya berpikir tidak ada yang salah menjalin hubungan pertemanan dengan siapa saja, laki-laki atau perempuan. Memang tidak ada yang salah kan? Apa yang salah memiliki teman ngobrol? Tidak ada. Tapi bisa “beda cerita” dan tiba-tiba menjadi salah, kalau kita sudah menikah.

Sampai sekarang pun, saya masih memiliki banyak teman khususnya cowok. Saya lebih nyaman ngobrol dengan cowok dibandingkan cewek. Ini udah dari dulu banget.  Lebih seru, dan anti baper. Sementara, hubungan pertemanan saya dengan beberapa teman cewek, tidak banyak yang berhasil dan selalu berujung baper. Dan, ketika sudah berteman, kami betul-betul akan berteman seolah untuk selamanya. Dan buat saya, berteman dengan siapa saja itu penting, untuk menambah wawasan. Untuk menambah referensi bagaimana cara memandang suatu kehidupan.

Saya bersyukur, karena suami saya adalah orang yang berpikiran terbuka dan menerima semua teman-teman saya. Saya pun juga demikian. Sehingga, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Kami bisa saling bertukar cerita, dan mendapat pandangan bagaimana menyikapi suatu keadaan. Dan, suami mengajarkan pada saya untuk tidak kolot dan bisa berpikir lebih dewasa. Sehingga tidak sampai muncul prasangka buruk. Kami tahu kok batasannya sampai dimana dalam menjalin pertemanan.

Sesuai prinsip, kalau kamu menerima saya berarti kamu juga harus menerima semua orang yang ada di sekeliling saya. Entah itu keluarga, teman, dan juga musuh (kalau ada).

Ternyata tidak semua memiliki pikiran yang sama seperti kami. Tidak semua bisa menerima hubungan pertemanan. Tidak semua memenuhi komitmen “menerima satu paket” secara utuh. Alih-alih  menjaga perasaan pasangan, akhirnya hubungan pertemanan menjadi renggang dan berakhir begitu saja. Saya yakin, banyak yang mengalami ini.

Bagaimana rasanya? Rasanya sedih karena tidak diterima dalam satu paket bagian dari kehidupan teman sendiri. Lebay? Haha.

Membahas hubungan pertemanan itu memang membuat saya jadi lebay. Gimana nggak lebay, karena saya sangat mencintai teman-teman baik saya, yang sudah susah payah menerima saya apa adanya. Menerima saya, yang tidak mudah untuk dimengerti jalan pikirannya. Menerima saya, di kondisi yang paling terpuruk. Menerima saya, di saat orang-orang lain (mungkin) mengabaikan saya.

Jika ilmu pengetahuan bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku maka aku lebih memilih untuk menjadi bodoh saja.

-Patrick Star-

(SpongeBob Squarepants)

Tapi sekali lagi, semua akan berbeda jika kita sudah menikah. Meskipun saya masih belum bisa memahami apa yang salah dari pertemanan ini.  Tapi, ada perasaan yang tidak boleh diabaikan, dan terimalah bahwa semua tidak bisa lagi sama.

Sesekali, akan muncul rasa kehilangan teman.

Rasa kehilangan itu wajar. Tapi, daripada memikirkan teman yang  hilang, saya lebih suka bersyukur dengan keluarga kecil saya. Betapa saya sangat mencintai suami dan anak saya. Betapa kehadiran mereka sudah lebih dari cukup membuat hari-hari saya bahagia. Betapa dan betapa Tuhan sudah begitu baik memberikan segala kemudahan untuk kami.

Teman akan selalu datang dan pergi. Tapi, keluarga akan selalu di hati. Bukan begitu?

Dan, teman?

Haha. Mau gimana? Ya nggak gimana-gimana lah. Ini sesuatu yang sudah bukan di area kita, dan harus mau merenggangkan untuk menjaga perasaan. Tenang aja, teman nggak akan kemana. Ntar juga ketemu lagi. Paling kalau ketemu di jalan, tinggal jitak kepalanya. Sombong lu!

Dan, saya?

Saya selalu ada sebagai teman dan untuk teman!

:))

signature

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s