Biaya Bulanan di Apartemen Jakarta (2017)


Yang nyinyir bilang, “ahh…tinggal di apartemen pasti mahal!”, angkat tangan!

Saya pun sebelumnya juga angkat tangan lho. Tapi setelah mengalami tinggal di apartemen, perlahan tangannya saya turunin.

Mau tau kenapa?

Baca ini dulu ya. Hehe.

Biaya Tinggal di Apartemen Jakarta

Prinsip saya kembali lagi, “biaya hidup mengikuti gaya hidup”. Mau tinggal dimanapun, kalau gaya hidup kita biasa-biasa aja. Biaya hidup pun akan biasa-biasa aja. Begitu juga sebaliknya. Tinggal di rumah sendiri tapi gaya hidup nya hura-hura, ya jatuhnya biaya hidup akan “hura-hura” juga. Bukan begitu?

Yang pasti tinggal di rumah lebih enak daripada tinggal di apartemen. Tapi tidak menjamin, tinggal di apartemen akan lebih mahal daripada tinggal di rumah. Harus agak putar otak sedikit, biar tinggal di apartemen tidak membuat rekening jebol. Kalau tergerus arus gaya hidup ibu kota yang semua serba gampang untuk dibeli, ya siap-siap tutup rekening deh. Hehe.

Yang perlu diperhatikan kalau mau tinggal di apartemen adalah lokasi, kebersihan, dan kenyamanan. Semua itu akan sebanding dengan biaya yang harus kita bayar. Kalau mau apartemen yang “wow”, bisa ke Jakpus, atau Jaksel yang sudah agak ke tengah. Apartemen mentereng, yang selalu bikin saya sesak napas setiap melihat harganya.

Saya sendiri lebih suka tinggal di daerah yang biasa-biasa aja. Mungkin dari luar tampak semrawut (emang semrawut sih haha), tapi ketika sudah dijalani, Alhamdulillah, kami enjoy – enjoy aja. Kalau mau tinggal di apartemen yang lebih baik dari ini pun sebenarnya bisa, tapi buat apa? Inget, semakin bagus apartemennya, maintanance-nya akan semakin mahal. Toh, kami belum berencana akan menetap dimana. 

Saya tinggal di apartemen pinggiran Jakarta. Belum bisa dibilang apartemen juga, karena tempatnya super padat. Mirip semi-semi rumah susun. Yah, semua apartemen itu kan pada dasarnya rumah susun kan? haha. Alhamdulillah, kami betah. Kami akrab dengan security di tower ini, dengan mbak-mbak laundry, dengan ibu-ibu penjual warteg. Semuanya ramah.

Saya tinggal bersama suami dan anak bayi usia 10 bulan, di sebuah apartemen seluas 28 m2 dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 balkon super mini, dan sudah lengkap dengan furniture. Saya masih sewa disini.  Haha! Tapi saya merasa beruntung, karena mendapat kamar dengan interior yang lengkap, bagus, modern minimalis, dan sudah full furnished. Kesan pertama terasa bagus dan rapi. Paling nggak, saya cukup bawa koper aja lah. Thanks Ocha! (yang punya apartemen) And, thanks Dita udah kasih info apartemen ini. hehe.

Kami tidak pakai mobil pribadi disini, karena parkirannya susah dan macet luar biasa. Daripada mobil didorong-dorong di parkiran, lalu berakhir dengan macet di tengah jalan, mending kami naik taksi online saja. Setelah dihitung-hitung, ini salah satu cara kami untuk berhemat.  Lagipula, kami  jarang pergi kemana-mana juga di Jakarta.

Lalu berapa biaya hidup tinggal di apartemen Jakarta? Untuk tinggal di apartemen yang saya tempati, biaya operasional yang dikeluarkan kira-kira sebagai berikut :

1.       Maintanance apartemen

Sekitar 4 jt an per tahun, tapi sekarang ini mulai naik jadi 4,5 juta an / tahun. Ini dihitung berdasarkan luas apartemen per sqm. Semakin luas apartemen kamu, semakin mahal bayarnya. Ini sama seperti untuk bayar biaya keamanan, bayar sampah, biaya kebersihan (OB), bayar pemadam kebakaran, bayar teknisi kalau ada bangunan yang rusak, atau saluran mampet, bayar TV Kabel, dan lain-lain.

2.       Sewa parkir motor

Biaya nya 75ribu / bulan. Mau dibayar langsung untuk 1 tahun juga bisa kok. Biasanya saya bayarnya langsung untuk 2 bulan.

3.       Listrik & air

300 – 700 ribu per bulan. Barang elektronik yang ada di tempat saya, ada kulkas, dispenser, setrika, dan AC. Paling banyak kena 700ribu an. Memang, dan memang, tagihan listrik antara apartemen dan rumah itu berbeda. Apartemen pasti lebih mahal. Kenapa? Karena ada proses pemeliharaan dan operasional yang membutuhkan biaya tambahan. Misalnya tarif listrik dari PLN Rp 1.120 per kilowatthour (kWh). Lalu tagihan dari apartemen menjadi Rp 1.600 per kWh , itu karena pihak pengelola harus merubah tegangan menengah dari PLN menjadi tegangan rendah sesuai dengan kebutuhan apartemen, istilahnya biaya trafo. Itulah kenapa tarif listrik apartemen lebih mahal dibandingkan tarif listrik untuk rumah. Makanya! Ini salah satu yang perlu putar otak untuk meminimalisir penggunaan barang elektronik yang tidak perlu.

4.       Laundry

Oiya, Karena tempatnya kecil, nggak ada space untuk taruh mesin cuci. Kalau mau cuci pakai tangan, Cuma muat untuk baju-baju bayi aja. Dan jumlahnya nggak bisa banyak, karena balkon nya super mini. Jadi, mau nggak mau harus laundry terutama untuk baju-baju yang ukurannya besar. Harganya 5000 – 6500 per kilo. Laundrynya bisa dijemput dan diantar ke kamar. Cukup sms aja, nanti tim laundrynya akan dateng. Dan, ada banyak banget tempat laundry di apartemen. Banyak pilihan, mau laundry pakai koin, binatu, atau laundry kiloan.

5. Makan

Kalau untuk makan, minum, dan lain-lain, kembali lagi ke “yang dimakan” itu apa. Di lantai dasar, banyak kios makanan yang jual. Harganya mulai dari 15ribu – tidak terhingga. Ya, kamu bisa dapat harga 15ribu se porsi, dengan menu rumahan. Tapi lauknya sederhana ya. Oiya, ada kios yang jual sayur-sayuran juga lho di bawah. Jadi, semacam pasar mini gitu. hehe. Saya biasanya kepikiran besok mau masak apa gitu, saya sms ke ibu penjual sayur malemnya. Besok tinggal ambil deh di kios sayuran itu. Untuk harga sayuran memang lebih mahal dibanding harga sayur di pasar ya, karena mereka kan harus bayar sewa kios juga. Tapi tetep, saya lebih suka masak sendiri, jatuhnya lebih murah dan sehat dibandingkan beli makanan jadi. Setiap belanja biasanya habis  30 – 50 ribu. Untuk makan saya , suami, dan anak bayi dalam satu hari (3x makan).

6. Belanja Bulanan

Berapa ya nominalnya? Haha. Tiap orang beda-beda lah ya. Di bawah lantai basement ada supermarket farmer. Pas letaknya ada di dalam mall super sederhana. Saya biasa beli sabun, odol, disitu. Setiap weekend sering ada Diskon ayam kampung fresh, atau daging giling fresh juga banyak diskon. Meskipun kecil, kami suka sama mall ini, karena nggak menye-menye. Isinya lengkap, tepat sasaran, dengan harga yang affordable. Ada Chatime, Breadtalk, hokben, KFC, Matahari, Ace Hardware, Meccanism Shop, toko baju anak-anak, salon, spa, tempat main anak-anak, foodcourt, bank BTN, BCA, BNI, dan lain-lain.

Nah, kurang lebih segitu biaya operasional bulanan-nya ya.

Gimana? Mahal? Murah?

Tergantung income juga yaa…

Kalau gajinya milyaran rupiah, angka ini mah bagaikan butiran debu, sekali bersin langsung kebayar! Haha.

Oiya, mesti dipikirkan juga biaya transport untuk ke kantor (kalau kamu ngantor). Maunya sih cari yang super deket dari kantor, kalau bisa jalan kaki nyampe. Tapi apa daya, kantornya di tengah kota. Banyak sih apartemen di deket kantor, tapi harganya bikin saya sesek napas. Jadi, boleh-boleh aja cari apartemen yang minggir, tapi jangan jauh-jauh banget lah. Minimal, dekat stasiun kereta, atau lokasinya dilewati transportasi umum.

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s