Melahirkan Secara Caesar, Sakit?


Divonis harus melahirkan secara Caesar, itu rasanya seperti disambar petir. Sedih banget untuk saya yang sudah optimis akan melahirkan normal. Dokter kandungan pun juga tidak menyangka, karena kondisi saya dan baby dari awal kehamilan sampai usia 9 bulan tergolong sehat dan diprediksi bisa melahirkan secara normal.

Di usia 38 minggu, harusnya, posisi kepala sudah tengkurap ke bawah dan terkunci di dalam pintu panggul. Melihat dari USG posisi kepala baby yang malah menengadah ke atas, saya jadi nggak tega banget. Rupanya, selama beberapa minggu terakhir – perut saya mules dan kencang karena baby terus berusaha untuk masuk panggul. Sayangnya, belum berhasil juga karena ukuran panggul tidak sesuai dengan ukuran kepala baby. Istilah kedokterannya, Cepalo Pelvic Disoroportion (CPD).

Singkat cerita, saya dan suami akhirnya menerima keputusan dokter untuk melahirkan secara caesar. Demi kebaikan si baby.

Saya sendiri rasanya campur-campur, antara kaget, nge-drop,  kuatir, panik, dan lain-lain. Tidak terbesit di pikiran, kalau harus melahirkan secara Caesar.

Sudah terbayang di kepala, rasa sakit yang menyayat saat proses operasi dan pasca operasi Caesar. Lalu, proses penyembuhan yang lebih lama dibanding melahirkan secara normal. Ditambah saya harus segera sembuh dan kembali bugar karena terbatasnya jatah cuti dari kantor. Aduh, campur-campur lah pokoknya.

Dan ternyata operasi caesar itu nggak sesakit yang saya kira.

Suasana operasi jauh dari menyeramkan. Malah sangat fun. Ada tiga dokter spesialis yang ikut hadir, dokter kandungan, dokter anestesi, dan dokter anak. Lalu, ada tiga orang bidan dan tiga orang perawat. Rame ya bok. Untung ruang operasi nya besar. haha.

Cara mereka agar pasien tidak tegang sungguh luar biasa. Suami saya disuruh lihat proses operasi secara utuh. Para dokter sengaja meletakkan radio dan menyetel musik keras-keras. Saya ingat, chanel radio yang diputar adalah DJ FM. hehe.  Lalu mereka nyanyi sambil ngobrol sana-sini. Saya juga ikut rumpik dan nyanyi lho, padahal kondisi perut lagi diedel-edel. Saya dan suami juga disuruh foto-foto selfie. “Bapak boleh foto-foto bebas disini. Silahkan ya. Nggak usah sungkan.”, begitu kata dokter Eston, dokter kandungan yang menangani operasi sesar saya.

Alhamdulillah, selama operasi tidak sakit. Yang saya rasakan di awal cuma suntikan jarum bius di punggung. Itu pun nggak sakit, ya seperti disuntik biasa. “Setelah ini kakinya jadi agak kesemutan ya.”, kata dokter anestesi, yang saya lupa namanya. hehe. Pasrah aja lah pokoknya. Beberapa menit kemudian, separuh badan pinggang ke bawah sudah mati rasa.

 

Ini di-fotoin sama dokter anestesi saat operasi berlangsung (hahaha)

Ini di-fotoin sama dokter anestesi saat operasi berlangsung (hahaha)

“Dok, sakit nggak? Jangan sakit-sakit dong dok.. Saya pengin cepet sembuh.”, tanya saya ke dokter eston. Dokter eston ketawa. “Lha ini, sakit nggak?”. Ternyata saat saya bertanya itu, proses mengedel-edel perut sudah dimulai. Badan saya terasa seperti digoyang-goyang lalu 15 menit baby sudah dikeluarkan. Rupanya, saat badan digoyang-goyang, sebuah alat cungkil besar dimasukkan ke perut saya untuk membuka jalan agar bayi bisa dikeluarkan. Itupun suami yang cerita, saya nggak tahu. Lha wong dibius, kan nggak kerasa apa-apa ya. Yang saya rasain cuma sesak ketiban baby yang ditaruh di dada saat proses IMD.

 

Ini foto dari handphone dokter Eston, dikirim via Whats App

Ini foto dari handphone dokter Eston, dikirim via Whats App. Itu yang di depan, alat cungkil nya. Gede kan? hehe.

 

Saat menunggu efek bius hilang sampai kaki bisa digerakkan lagi pun tidak terlalu lama. Mungkin sekitar 1 jam saya berada di ruang pulih sadar. Karena saya sadar, jadi selama 1 jam itu terasa lama sekali. Boring. hehe. Siangnya saya sudah bisa ketawa-ketiwi dengan keluarga yang menemani di kamar pasien. Oh iya, vertigo saya sempat kambuh beberapa saat setelah dimasuki obat anti nyeri melalui infus pasca operasi caesar. Setelah dibuat tidur, vertigo hilang. Sorenya saya belajar miring kanan dan kiri. Besok paginya saya jalan-jalan. Lalu, besoknya lagi pulang. Total tiga hari dua malam saya dirawat di rumah sakit.

Bagian yang paling menyakitkan saat proses operasi caesar ini sebenarnya justru saat mau pulang. Karena harus BAYAR. hahaha. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendang Sari Surabaya, saya mendapat total tagihan 26 juta an untuk kelas 1. Kerasa ya bos? Iyes lah. Tapi sebanding sama pelayanan, fasilitas, obat dan vitamin. Semuanya sigap dan menyemangati saya agar cepat sembuh.

Nggak terasa 45 hari sudah berlalu sejak operasi. Alhamdulillah saya baik-baik saja. ASI lancar. Masa nifas saya dirapel sama menstruasi jadi agak lama, lebih dari 40 hari. Bekas operasi sudah pudar dan perut kembali rata. Cuma pantat, paha, dan lengan masih kayak sumo. PR banget deh ini.

Tapi di luar semua itu, saya bersyukur karena kondisi baby sehat. Bayi lucu yang mirip banget sama papa-nya adalah kebahagiaan terbesar yang saya rasakan. Alhamdulillah. Suami pun makin sayang dan sabar sama saya. Hehe. Kenapa?

“Ternyata meskipun caesar, dan nggak ngeden, ibu tetap berjuang ya. Ngeri lihat perutmu diedel-edel gitu. Aku kuatir banget kamu kenapa-napa. Alhamdulillah, kamu baik-baik aja.”, gitu kata suami saya. I love you, Mi. SuaMi.

Oh iya, dua hari setelah pulang dari rumah sakit, saya sudah bisa ngepel, nyapu, begadang, dan lain-lain. Bisa dibilang, nggak kayak orang habis melahirkan. Jadi, ini pengalaman saya saat operasi sesar yang jauh dari rasa sakit. Buat kamu, yang terpaksa harus melahirkan sesar juga… Jangan takut ya. Tetap semangat demi kebaikan bersama. Semangat!

signRewinnita

6 thoughts on “Melahirkan Secara Caesar, Sakit?

  1. Q jg 2x lahiran SC di rsia kendangsari ama prof. Budi Santoso
    Bener gk sakiy dan besokannya udah jalan kesana kemari trs plg kerumah gk ada seminggu udah jalan2 ke mall 🙂

    Like

  2. Alhamdulillah sudah melewati masa2 menegangkan itu.. si Emo lahir dg selamat ..mommy sehat wal afiat..
    Rasa ya br kemarin nunguin diluar ruang oprasi..😊

    Like

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s