Sebelum Menjauhkan Gadget pada Anak, Baca Ini Dulu


“No Gadget, sampai anak kita masuk SMA ya. Pokoknya, jauhkan gadget dari anak dan nggak boleh pakai gadget saat bersama anak dengan alasan apapun.”

Kurang lebih begitu kesepakatan yang saya buat dengan suami, ketika nanti kami memiliki anak. Karena yang ada di benak saya, pengenalan gadget terlalu dini itu bisa merusak siklus perkembangan anak. Banyak contoh anak-anak yang menurut saya agak menyimpang dari siklus mereka seharusnya.

Sebut saja si A, di usia 4 tahun yang seharusnya aktif belajar bermain dan bergerak, malah diam tiduran di sofa sambil main game di gadgetnya. Atau sebut saja si B yang berusia 9 tahun. Saat seusianya, saya pasti seru banget tuh main petak umpet atau benteng-bentengan bersama teman-teman. Lalu, apa yang dilakukan si B? dia lebih suka diam di rumah, main game menggunakan gadget nya. menurut saya ini agak “luar biasa” ya, mereka jadi jarang bergerak dan kurang aktif.

Saya agak keras untuk menjauhkan penggunaan gadget ini, karena efek “autis” yang ditimbulkan cukup meresahkan. Saya kuatir gadget membuat kecanduan pada anak dan membuat anak menjadi anti sosial.

Saya lebih baik mengajak anak main di luar, entah itu main layangan, main engkle, atau jalan-jalan ke kebun binatang daripada memberikan gadget pada anak. Yang pasti main di luar membuat anak lebih aktif dan lebih sehat daripada memberikan gadget. Toh, jaman saya dulu – hidup tanpa gadget pun, saya masih baik-baik saja.

Kekuatiran efek negative penggunaan gadget pada anak sudah menutup pikiran saya, dan menarik kesimpulan : Gagdet itu berbahaya untuk anak-anak. Tapi itu sebelum saya mengikuti acara seminar parenting bersama Samsung Galaxy Tab A yang diselenggarakan oleh Mommies Daily dan Samsung Indonesia.

“Jadikan Gadget Teman si Kecil Bersama Samsung Galaxy Tab A”

Tema dari seminar ini membuat saya merasa tertantang untuk mengetahui alasan menjadikan gadget teman anak. Agak nggak terima nih, ceritanya. Haha.9

Dalam seminar tersebut dijelaskan bahwa di era teknologi seperti sekaran ini semua anak harus memahami perkembangan teknologi. Teknologi diciptakan untuk mempermudah kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Gadget adalah salah satu hasil perkembangan teknologi itu sendiri, seperti handphone atau tablet.

“Gadget jika diulik lebih dalam bisa menjadi media belajar yang sangat menyenangkan untuk anak. Tentunya, dengan pengawasan dari orang tua dan orang yang ada di dekat anak. Orang tua tetap menjadi akses kontrol disini.”, ujar Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, pakar psikolog anak dan keluarga.

Memang, di era teknologi seperti saat ini agak mustahil untuk menjauhkan anak dari gadget. Apa iya, saya tega membiarkan anak saya gaptek (gagap teknologi). Apalagi sebagai calon generasi Z yang dikenal sebagai digital native alias penduduk asli di ranah digital, untuk bisa survive harus memahami dan terbiasa dengan penggunaan teknologi ini.

Contoh kecil saja. Tugas sekolah yang diberikan pada murid-murid sekarang itu levelnya lebih susah daripada jaman saya dulu. Saya akui itu. Pengalaman mengajar les privat untuk anak SD dan SMP, membuat saya kewalahan karena tingkat penjelasannya lebih rumit. Dan jujur, saya memang terbantu dari gadget milik saya sendiri. Saya bisa mencari beberapa referensi dan memudahkan saya untuk menjelaskan cara mengerjakan persoalan tugas sekolah mereka.

“Tugas-tugas anak SD sekarang makin susah lho. Tapi, untung ada internet. Kalau di rumah, anak saya bisa browsing internet untuk menyelesaikan tugas dari gadgetnya.”,ujar ibu dari salah satu murid les saya.

Pemikiran saya tentang gadget membawa dampak buruk pada anak perlahan memudar. Yah, agar anak bisa mengikuti perkembangan teknologi, suka atau tidak suka, anak saya nanti memang perlu berkawan dengan gadget. Kalau menunggu sampai SMA, rasanya kelamaan deh. Bisa kuper dong anak saya nanti. No..no..

Selain itu, sebagai calon ibu (saya lagi hamil) yang bekerja, mungkin nanti saya akan menghabiskan waktu lebih banyak di kantor dibandingkan di rumah. Jauh dengan anak tentu akan menimbulkan kekuatiran tersendiri. Rasa-rasanya sih, gadget lah yang akan menjadi dewa penolong saya untuk bisa keep in touch dengan anak.

2

Menurut psikolog Anna Surti Ariani, tablet dan smartphone juga memiliki banyak efek postif bagi anak. Misalnya internet, email, pesan teks, kamera dan semua hal yang bisa mempermudah komunikasi antara anak terhadap orang di sekitarnya.

Dalam acara talkshow yang diadakan di Letter D Cuisine & Bar, Jakarta Selatan ini, dipaparkan banyak tips agar orang tua bisa memaksimalkan penggunaan gadget. Mengenalkan gadget pada anak sejak dini sah-sah saja, asalkan :

  1. Ada aturan main yang jelas. Kapan mereka boleh memegang gadget. Berapa lama waktu mereka berinteraksi dengan gadget.
  2. Dampingi mereka saat memegang gadget.
  3. Pilih gadget yang tidak hanya bisa menjadi alat bantu untuk kita sebagai orangtua modern yang super aktif, namun juga yang sangat memahami kekhawatiran orangtua dengan dampak negatif jika anaknya terlalu asik bermain dengan gadget.

Aplikasi dan game yang ada di dalam gadget juga bisa menjadi alternatif atau sarana hiburan yang murah meriah. Jika diteliti lebih dalam, banyak game populer yang diambil dari pelajaran sehari-hari, misal Angry Birds yang mengusung hukum pegas dalam Fisika.

Dan, semua syarat-syarat ini ternyata sudah dijawab oleh Samsung Galaxy Tab A, dengan fitur Kids Mode nya. Saya sempat pegang sebentar produk Samsung Galaxy Tab A ini, dan bereksplorasi dengan aplikasi kids mode buatan Samsung ini.

4

Di bawah kampanye #BeTabAfamily, SAMSUNG GALAXY TAB A 2016 ini mendukung aktivitas aman anak saat bermain tablet. Mas Seto Anggoro, Product Marketing Manager PT Samsung Electronics Indonesia menjelaskan kelebihan dari fitur-fitur dari Kids Mode ini. Gadget yang memang didesain sebagai tablet untuk keluarga ini dilengkapi dengan Kids Mode 4.0, area gambar untuk anak jadi lebih luas dan leluasa. Yang  terpenting, ada fitur Parental Control yang dapat mengunci aplikasi dan membatasi waktu penggunaan. Fitur ini memudahkan orang tua dalam memonitor ketertarikan dan perkembangan si kecil. Selain itu orang tua juga bisa setting timer untuk membatasi waktu penggunaan tablet agar anak tidak kebablasan terlalu lama bermain dengan gadgetnya.

5

Sementara itu, untuk bentuk desain dari Samsung Galaxy Tab A ini memang cukup ramping dan lebih mungil dari tablet pada umumnya. Tebalnya hanya 8,7 mm dan beratnya ringan, hanya 289 gram. Cocok dipakai anak-anak dan tidak memberatkan. Selain itu Galaxy Tab A ini juga didesain anti licin, sehingga tidak mudah jatuh saat dipakai oleh anak-anak. Galaxy Tab A ini juga sudah Mendukung Teknologi LTE 4G. menurut saya, ini harus ada di setiap gadget. Karena untuk menikmati layanan cepat internet 4G seperti sekarang ini, tentu gadget harus mendukung 4G juga. Salah satunya untuk browsing internet, download dan upload file.

6

Rasa-rasanya gadget ini cukup membantu ya. Mungkin nanti, kalau anak saya sudah lahir dan cukup besar, bisa jadi alternative gadget yang bisa saya berikan. Masih lamaa…haha. Nah, jika para mommy tertarik untuk memberikan gadget ini pada anak, SAMSUNG GALAXY TAB A6 sudah beredar di pasaran dengan harga Rp 2.499.000.

7

Tentunya, saya pribadi tidak menelan mentah-mentah semua penjelasan dari acara talkshow ini. Ada batasan-batasan yang nanti akan saya terapkan pada anak, menyesuaikan kondisi dan lingkungan tumbuh kembang. Batasan itu diantaranya :

  1. Saya tetap tidak akan memberikan gadget pada anak terlalu dini, sampai dia cukup umur dan paham cara menggunakannya. Lebih baik, dia bermain di luar atau di taman bermain bersama teman-teman, atau saya gantikan dengan memberikan permainan lain yang bisa membuatnya banyak bergerak dan aktif. Ya, mungkin saya harus ekstra mengawasi karena anak akan lebih sering main di luar.
  2. Jika sudah saatnya mengenalkan gadget, saya akan membatasi waktunya. Mungkin hanya boleh pegang gadget selama weekend dan tidak lebih dari 1 jam. Dengan beberapa aplikasi yang sudah saya pilihkan dan dirasa bisa menstimulus perkembangan otak anak. Dan saya pun harus ada di sampingnya, saat anak menggunakan gadget ini.
  3. Jika anak semakin besar, dan kebutuhan belajar dirasa perlu menggunakan gadget. Saya akan memberikan gadget pada anak, dengan batasan waktu tertentu. Si anak tetap melaksanakan tanggung jawabnya yang lain. Dan, ada jam-jam tertentu dimana kami sekeluarga tidak boleh pakai gadget, seperti jam makan, jam solat, saat jalan-jalan, atau saat kumpul keluarga. Tentu saya akan berusaha mendampingi anak saat mereka berinteraksi dengan gadgetnya. Bukan apa-apa, saya juga ingin belajar dan mengikuti perkembangan.

Ini batasan gadget versi saya untuk anak kelak. Bagaimana dengan para mommy? Share yuk disini.. 🙂

signRewinnita

2 thoughts on “Sebelum Menjauhkan Gadget pada Anak, Baca Ini Dulu

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s