Mengatur Anggaran Rumah Tangga untuk Pasangan Long Distance Marriage


Sejak menerima kenyataan bahwa status saya sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, saya mulai memikirkan dengan amat sangat mengenai anggaran rumah tangga. Terlebih, posisi saya dan suami sedang berjauhan. Ya, kami sedang menjalani apa yang bahasa kerennya disebut Long Distance Marriage. Ini bikin kami semakin sregep cari cara biar sirkulasi keuangan tetap aman terkendali.

LONG-DISTANCE-MARRIAGE

gambar diambil dari sini

Jelas. Pasangan jarak jauh tentu memiliki prioritas keuangan yang berbeda dengan mereka yang berumah tangga dalam satu rumah. Itu juga kembali lagi, di kota mana suami dan istri tinggal. Karena kebutuhan sehari-hari di setiap kota itu berbeda. Mungkin saja, pengeluaran untuk pasangan Long Distance Marriage ini akan lebih besar.

Mungkin saja.

Well.

Tapi kenyataannya, bisa jadi sama saja dengan pasangan yang tinggal satu rumah. Haha. Yah, kata orang Jawa – sawang sinawang lah ya. Kembali lagi ke gaya hidup. Meskipun jauh-jauhan, tapi kalau gaya hidupnya sederhana & down to earth, tetap bisa nabung kok. Percaya deh!

HusbandWifeMoney

gambar diambil dari sini

Kembali lagi. Untuk anggaran keuangan, pada dasarnya sama saja. Yang membuat prioritas keuangan berbeda adalah ada tambahan biaya transportasi alias tiket. Tiket buat apa? Ya, buat ketemuan. Pastikan frekuensi bertemunya mau berapa kali. Misal, seminggu sekali atau sebulan sekali. Nah, kalau mau ketemu kan ada biaya transportasi-nya bro.. untuk beli tiket pesawat, kereta, atau naik delman istimewa kududuk di muka. Semua tiket ini pastinya kudu dibayar kan ya..? Kecuali, ada yang pilih jalan kaki. Ya, monggo…

Kalau kita bisa mengatur anggaran dengan baik dan disiplin, ternyata…oh ternyata… nggak susah-susah banget menjalaninya kok. Beruntung saya dan suami sama-sama bekerja, sehingga kami memiliki dua pendapatan yang bisa digabung. Kami masih bisa beramal, menabung, berinvestasi, dan berhemat. Tapi jangan sampai karena pengin hemat, trus bikin kita jadi kikir & pelit. No. No. No.

Tips saya dalam mengatur anggaran rumah tangga untuk pasangan yang sedang berjauhan, seperti ini :

  1. Buat anggaran rumah tangga dengan jelas. Sejelas-jelasnya. Kalau saya, mungkin tidak detail tapi presentase nya harus jelas. Sekali lagi, pada dasarnya sama saja seperti anggaran rumah tangga pada umumnya. Alokasinya untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, bayar hutang, dan beramal. Salah satu contoh presentase anggaran yang bisa digunakan adalah seperti ini :1

Jika pendapatan total suami dan istri, misalnya : 10 juta. (miissaall lho iniii….mau dimisalkan 1 milyar juga boleh kok). Berarti pembagiannya sebagai berikut :

2

Itu contoh saja ya. Sekali lagi, hanya contoh. Nggak usah baper. 

  1. Sedekah saya urutkan di paling awal. Karena, itu bentuk rasa syukur pada Allah yang sudah mencukupkan rejeki kami. Harus di urutan pertama dan langsung disisihkan sesaat setelah gajian. Lebih bagus lagi, kalau sebelum gajian sudah kita pikirkan – mau diberikan pada siapa. Jadi, setelah gajian bisa langsung diberikan. Kalau perlu, sedetik setelah angka di rekening bertambah – langsung pisahkan!
  2. Hutang/Cicilan menjadi prioritas kedua. Karena hutang adalah janji yang harus ditepati. Haha. Setelah bersedekah, mari kita membayar hutang. Saya sendiri berusaha meminimalisir adanya hutang atau cicilan sampai jadi NOL. Daripada duwitnya buat bayar hutang, lebih baik ditabung atau diinvestasikan saja.
  3. Orang tua/ keluarga. Ya, menikah bukan alasan untuk tidak membantu orang tua lagi. Membantu orang tua bisa dengan banyak cara ya. Kalau orang tua masih mampu, anggaran ini bisa disimpan dan dialokasikan untuk sanak saudara yang membutuhkan.
  4. Tabungan dan investasi diprioritaskan setelah hutang dibayar. Karena kami sedang ada target yang harus dicapai dalam 2 – 3 tahun ini, saya agak keras untuk menabung dan investasi tidak boleh kurang dari 25%. Kalau lebih boleh. . Biasanya kalau tidak ada hutang atau cicilan sama sekali, saya tambahkan 10% lagi. Untuk tabungan dan investasi ini, saya pisahkan dari rekening payroll. Biar fokuss… dan nggak kecolek sama apapun dengan alasan apapun.  Kalau numplek jadi satu rekening, banyak amblas nya bro…
  5. Kebutuhan sehari-hari, saya anggarkan 30% dari total penghasilan. Kebutuhan sehari-hari ini, sudah termasuk makan, tempat tinggal, transport untuk ke kantor, dan kebutuhan harian lainnya. Biasanya saya bagi dua lagi dengan suami. Bisa dibagi rata masing-masing 15%. Bisa juga, disesuaikan dengan kebutuhan hidup di kota masing-masing. Biaya hidup paling tinggi tentu mendapatkan persentase yang lebih besar.
  6. Kemudian, untuk tiket transportasi memang harus dianggarkan sendiri. Weitss… meskipun ada anggaran khusus untuk beli tiket, tapi bukan berarti bisa seenaknya. Saya sendiri mematok maksimal 15% untuk beli tiket. Bebas mau naik apa. Mau charter pesawat pribadi pun boleh. (nebeng di sayap-nya….haha). Beli tiket ini kebutuhan yang tidak bisa di-elakkan untuk pasangan LDM. Harus ketemu dong. Apalagi saya termasuk yang agak nggak betah kalau nggak ketemu lebih dari dua minggu. Ya gimana caranya bro dengan alokasi dana segitu bisa untuk membiayai transportasi untuk bertemu. Kalau saya dan suami sih biasanya pesan tiket jauh-jauh hari, atau berburu promo.
  7. Wawasan? Kami berdua juga perlu menambah wawasan dong. Ini bebas sih mau dipakai untuk apa, sesuai hobi masing-masing. Kalau saya, suka hunting buku. Sementara suami, suka game online. Well.. kalau dalam bulan tertentu tidak ada pembelanjaan, ya anggaran ini bisa disimpan. Karena ada satu waktu, suami pengen beli game online yang harganya lumayan. Kadang juga saya pengen belanja buku agak banyak. Simpanan alokasi wawasan bulan-bulan sebelumnya, bisa dipakai untuk ini. Diatur aja lah, asal tidak melebihi anggaran!
  8. Senang-senang. Ini anggaran yang biasa kami gunakan untuk happy-happy berdua saat ketemu. Entah untuk nonton film, traveling, atau untuk beli barang-barang. Bisa juga untuk traktir teman. Bisa juga untuk memberikan angpao ketika ada teman yang menikah.

Tuh, nggak susah kan membuat anggaran untuk pasangan LDM. Oh iya, ini kondisi saat kami belum ada anak yah. Anggaran pasangan LDM setelah memiliki anak, tentu beda lagi. Nanti akan saya share tips mengatur anggaran untuk pasangan LDM yang sudah punya anak. Ya, nanti kalau saya sudah melahirkan dan berhasil mengatur keuangan dengan baik.  Hehe.

Nah, ini cara saya dalam mengatur anggaran rumah tangga. Kalau kalian, gimana?

 

NB: tulisan ini juga dimuat di theurbanmama.com

Advertisements

6 thoughts on “Mengatur Anggaran Rumah Tangga untuk Pasangan Long Distance Marriage

  1. Almazia

    Thank you sharingnya yang cukup detail mbak.. Mau tanya ya, untuk 8 poin anggaran di atas misahin uangnya secara real gmn ya mbak? Uang cash diamplop2in atau dibagi ke beberapa rekening bank?

    Like

    Reply
    1. rewinnita Post author

      Hai Almazia, terimakasih sdh mampir.. hehe. Iya, untuk masing-masing anggaran disitu aku pisahin. Ada yang di amplop, ada yang dipisahkan rekening bank-nya. Jadi ada rekening untuk menabung sendiri. Biasanya aku pilih bank yang potongannya paling sedikit. Rekening untuk kebutuhan sehari-hari disendirikan juga, rekening ini jadi satu sama rekening payroll. Untuk sedekah, langsung ambil cash simpan di amplop. Untuk ortu langsung ditransfer. Untuk tiket & hutang, langsung dibayarkan (transfer). Untuk wawasan & hepi-hepi, diambil cash taruh amplop.

      Gituu.. hehe. Kalau kamu gimana cara simpen duwitnya skrg?

      Like

      Reply

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s