Prosa Penjilat


Surabaya, 29 Desember 2014

Kita tidak sedang bernostalgia dengan masa lalu. Saya disini, sekarang. Hanya saja, kejadian ini seperti bukan sekali dua kali.

Hingga, saya bergelut dengan rasa penasaran dan menengok ke belakang. Ya sesekali membongkar masa lalu. Dan ternyata, memang sudah pernah terjadi disana. Dan, hati saya tergelitik.

Ah..lagi-lagi ini…
Ini tentang cerita berujung pada kegagalan atau mungkin tentang mengelabui.

Mengatakan “ya” pada tidak, dan mengatakan “tidak” pada ya.
Berputar dalam satu lingkaran yang sama.
“Bagaimana lagi, kami juga membutuhkannya untuk hidup.”, begitu kata mereka.

Saya ingin sekali berbaur, mencicipi bagaimana kondisi yang disebut “menyenangkan hati orang lain”.Tapi terlalu jijik melihat ekspresi-ekspresi yang bukan sebenarnya.
Tapi saya tidak mau jijik melihat diri saya sendiri.
Sungguh, ingin tanpa harus ikut menjijikkan. 

Pada akhirnya yang tidak berkubu dan memilih diam akan dicap -tidak berperasaan-pengkhianat.
Haha.. Sudah biasa-

Sulit. Antara kasihan dan terenyuh..
Tapi, ingin menolong dengan apa. Ahh.. Anda mengerti rasanya?
Ini masih tentang rasa jijik itu.

Sedangkan saya masih tetap berjalan pada garis yang mereka bilang “terlalu keras“.
Tidak apa. Sungguh.
Saya cuma berharap bertemu pada dunia yang lama dicari.
Apa Adanya.

 

Salam Apa-Adanya,

Rewinnita Maretnoningtyas

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s