Ketika Hasrat Memasak Kembali Muncul….


Setelah beberapa waktu vakum dari dunia masak-memasak, akhirnya sekarang saya memulainya lagi. Walaupun bukan masak masakan heboh ala koki-koki di tipi. Tapi sudah cukup membuat saya bahagia karena saya sudah semangat memasak.

Awal bulan menikah, saya on fire sekali memasak untuk suami. Alhasil, lumayan bisa menaikkan berat badannya barang sekilo – dua kilo. Lalu karena ada panggilan kerjaan yang lumayan menyita waktu, saya meninggalkan segala bentuk wajan, panci, dan alat-alat dapur lain. Termasuk meninggalkan bapak-bapak penjual sayur. Suatu saat kita akan bertemu lagi Pak..

Sekarang? Saya memaksa menyempatkan diri memasak, walaupun hanya akhir pekan. Haha. Di satu sisi saya senang, karena hasrat untuk memasak sudah muncul lagi. Di satu sisi, saya sedih juga karena hasrat itu baru bisa terlaksana di hari Sabtu dan Minggu.

Yang seharusnya pekerjaan rumah tangga ini dilakukan setiap hari, malah bisanya saya Cuma di akhir pekan. Itu pun sudah bersyukur sekali, karena terkadang akhir pekan pun aktivitas memasak masih bisa dikalahkan oleh nglencer dan jalan-jalan. Ujung-ujungnya sampai rumah sudah capek. Lagu lama..

Untungnya, (masih untung) saya dan suami sedang tidak berada di satu kota. Perasaan bersalah karena tidak memasak sedikit bisa dikaburkan. Tapi tetap, ketika saya pulang atau suami berkunjung – saya akan selalu pasang badan untuk memasak. Hehe.

Jujur, memang tidak mudah menjalani peran wanita karir sekaligus melakukan pekerjaan rumah tangga.  Ada satu yang terpaksa “dikalahkan”, karena badan saya Cuma satu dan waktu yang saya punya hanya 1 x 24 jam dikali 7 hari. Dan, lebih dari separuh waktu saya sudah habis untuk kerja selama lima hari.

Kadang, saya iri mampus dengan mereka-mereka yang bisa mendalami perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Karena mereka punya waktu penuh untuk mengabdi pada keluarga dan totalitas merawat keluarganya dengan baik. Bisa memasak setiap pagi, menyiapkan bekal makan siang, bersih-bersih dan menata rumah, mencuci dan menyetrika baju. Setiap malam menemani anak-anak belajar.  Walaupun mirip-mirip babu, tapi ini pekerjaan yang selalu saya idam-idamkan. Hehe.

Tapi karena keadaan dan lain hal, saat ini saya belum bisa meluangkan waktu sepenuhnya (malah adoh-adohan) untuk keluarga. Saya dan suami pun sepakat untuk saling bertoleransi. Saling menghormati dan tetap sadar dengan hak dan kewajibannya masing-masing. Yang pasti, tetap penuh cinta. Ahay…

Jadi, sembari memasak – saya memikirkan ini. Kapan ya, saya bisa totalitas ada di rumah dan selalu ada untuk suami?

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s