Siap terima tantangan jadi Istri?


MarriedHai.. sekarang ini, saya sedang menjalani hari ke-31 menjadi istri. Jadi istri itu, ehm…. Menyenangkan. Haha. Saya menganggap, “menjadi istri” sebagai salah satu tantangan baru. Tantangan, terutama untuk mereka-mereka yang tidak pernah jadi istri sebelumnya. Contohnya, saya. Hehe. Kenapa dijadikan “tantangan”? Buat saya pribadi sih, biar lebih seru jalaninya. Hehehe.

Ini diaa… tantangannya.

  1. Bangun Pagi.

Bangun pagi, shalat subuh, trus tidur lagi. Kadang juga pernah kelewat subuhnya. Biasanya sih gitu.  Witss..itu dulu. Sekarang? Ehmm..ya masih belum 100% berubah sih – tetep kayak gitu. Tantangan nya adalah, gimana caranya bangun tidur lebih pagi dan langsung melek. Nggak pakai tidur lagi. Hufff….

  1. Masak Memasak.

Urusan masak memasak, memang saya suka. Tapi ya gitu, sesuka saya aja. Rasanya pun ikut suka-suka saya. Nah, karena sekarang ada suami – masaknya nggak bisa sesuka-suka dulu lagi. Enak buat saya, bisa jadi eneg buat suami. Repot kan? Haha… Apalagi suami saya suka manis dan saya nggak suka manis. Saya suka pedes banget, suami saya nggak suka pedes banget. Gimana dong? Ya disitu tantangannya.

Kenapa nggak beli makanan jadi aja? Hemm…anggap saja saya sedang menantang diri sendiri untuk memberikan makanan sehat pada keluarga. Dimulai dari suami. Selain saya jamin, masakan saya lebih sehat karena tidak mengandung vetsin, toh dengan masak sendiri bisa menghemat pengeluaran. Terutama untuk suami saya,  yang nggak perlu beli makan siang lagi karena sudah saya siapkan bekal dari rumah. Kecuali weekend, boleh lah kita jajan di luar.

  1. Setrika Baju

Saya notabene yang kalau di rumah nggak pernah setrika baju sendiri, menyetrika baju suami itu jadi tantangan abot . Setrika itu butuh moment dan suasana hati yang tepat, sodara-sodara.  Well, jujur, aktivitas kerumahtanggaan yang paling bikin saya ilfil adalah setrika baju. Apalagi, kalau lihat tumpukan baju yang ngalah-ngalahi gunung..beuhh… bikin mood hancur seketika . Belum kalau pas setrika nya nggak enak (kurang panas, kepanasan atau kabel mencuat) berasa horror. Belum kalau posisi nyetrika nya nggak enak, atau nggak ada pewangi pakaian, atau nggak ada alas setrika, dan….lain-lain. Ya..banyak alasan untuk meninggalkan momok-momok itu. (red. momok = tumpukan baju yang belum diserika)

Kenapa nggak dibawa ke laundry aja? Saya bayangin ya, baju suami saya dipegang-pegang sama mbak-mbak laundry itu jadi gemes sendiri lho. Gak terimo! Saya nggak akan membiarkan mbak-mbak itu menyentuh baju suami saya. Huhh… (lebay, abaikan please). Cuma baju gitu aja kok pakai dibawa ke laundry? Sepele. Sepele. No. Jadi, selama saya bisa – saya setrika baju suami sendiri. Merdeka!

  1. Bagi waktu

Kalau ini agak berat. Gimana caranya bisa jadi istri sekaligus bekerja sekaligus jadi mahasiswi lagi. Nah lho. Pusing? Iyes. Apalagi untuk manten anyaran macam ini ya. Pengennya ketemu sama suami terus, tapi apa daya karena ada kerjaan dan ada jadwal kuliah – kudu bersabar dulu. Lebay? Pasti kalian pikir, udah serumah kan kita bisa ketemu nanti-nanti. Tapi faktanya, itu sungguh membuat hati tersiksa bung! Bisa bayangkan, saya pulang lebih malam dari suami? Yaa..suami saya memang nggak pernah komplain. Tetap terjaga meskipun dia ngantuk berat, nungguin saya pulang, bukain pintu, dan menyambut saya dengan pelukan – tsaahh… ini istrinya siapa? suaminya siapa? Era 2015, istri menunggu suami pulang sudah mulai terbalik jadi suami yang menunggu istri pulang. Huhuhu….

  1. Menahan ego

Menurut saya, ini level lebih berat dari sebelumnya. Saya dan suami punya ego masing-masing. Butuh adaptasi dan pengertian yang luar biasa. Perbedaan umur yang jauh, antara saya dan suami mungkin membawa keuntungan tersendiri dalam tantangan ini. Ya, saya belajar berpikir lebih dewasa karena ada suami. Dan, suami lebih belajar menahan ego dan sabar menghadapi saya yang masih kecil ini. (lebih kecil umurnya).

Sebenernya masih banyak tantangan-tantangan lain, seperti mengatur keuangan, bersosialisasi sama tetangga, (pengen ikut arisan deh… #Lhoh) menyalurkan hobi travelling sama suami, menjaga silahturrahmi dengan mertua dan saudara-saudara, dan banyak hal lain.Yang pasti, life after married ini jadi tantangan baru dalam hidup saya. Amazing & really challenging!  Bismillah.

One thought on “Siap terima tantangan jadi Istri?

  1. Paling ngakak.. setrika kaya momok..hahahha
    saya pun begitu,melipat baju adalah momok…hahahaha

    Seruu juga kan jadi istri.. dan bayangkan kalo ketambahan anak 1 buah… plus ngurus suami plus kuliah plus bekerja… *pusing duluan…hehehe

    Masuk ke era 2015, suami menunggu istri…. kadang saya juga seperti itu.. hiks..

    Satu hal lagi….

    Semangat!!!!!!!!

    Like

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s