Sekotak Kardus Masa Lalu


Ini bukan kiasan. Beneran, ada sekotak kardus yang isinya sisa-sisa barang pindahan saya dari Jakarta. Yes.Β  Almost a year ago, dan barang itu baru sampai di saya sekarang. Ceritanya, kerdus itu saya titipkan ke budhe. Walau sekerdus, tapi cukup besar, jadi agak sulit untuk dibawa lewat ekspedisi. Kata lainnya, ngirit. Kalau ada budhe yang mau pulang ke Nganjuk dan bawa mobil, lebih enak dititipin aja ke mobilnya. Dan, kemarin saya ambil kerdus itu di Nganjuk, pas 40 harian mbah tri. Ya, 40 hari yang lalu, kami berduka – karena Mbah Tri (satu-satunya) dipanggil Allah.

Melihat barang-barang ini, rasanya langsung mak cess… Bagaimana saya dulu dengan sejuta semangat berangkat ke ibu kota. Dan baru sebentar, saya memutuskan untuk pulang lagi. Ahh… πŸ™‚ Ilmu saya masih cupu. Cupu banget. Tapi nggak apa – waktu itu harapan saya bisa bersama dia yang nanti akan menjadi teman hidup saya selamanya – lebih besar dibanding mimpi-mimpi saya.

Dan ternyata Tuhan punya rencana sendiri. Saya mungkin sedih, karena sudah meletakkan mimpi saya. Saya mungkin juga sedih, karena mimpi baru yang sudah saya susun – harus berhenti. Saya mungkin sedih, karena dia pun mungkin memiliki harapan yang sama. Dan, sedih juga – karena harapan itu kini mungkin berjalan sendiri-sendiri.

Saya ambil satu per satu barang di kardus itu, selain reskuker kesayangan – juga ada mug-mug tanpa pegangan (pegangannya patah semua), juga ada sprei dan handuk mini. Dan, saya menemukan buku diary. Haha. Saya masih nulis diary lho. Terakhir tulis di pertengahan tahun 2013. Dengan tekad akan pulang. Kembali lagi ya, tekad untuk pulang itu sudah sedemikian bulat nya. Bulat. Oke, bulat. Tanpa sisi sudut.

Saya belajar – dan dididik oleh Surabaya, untuk kembali berjuang. Seperti slogan Surabaya, kota Perjuangan. Hidup itu harus diperjuangkan. *membara*. Kamu pun sudah saya perjuangkan, hampir 6 tahun. Tidak bersama kamu pun juga salah satu bentuk perjuangan saya menjadi iklash.

Sekarang, saya ingin membereskan kardus dengan berbagai barang sisa-sisa peninggalan di jaman perantau dulu. Sedih? Ya jelas sedih. Tapi bagian terpenting – bukan di “sedih” nya. Tapi, setelahnya ini mau apa. Saya mau memperjuangkan yang lain. Mau memperjuangkan mimpi yang sempat tertunda. Mau menumbuhkan rasa yang sudah lama mati. Mau membuka hati untuk berbagi. Mau…mau…mau…. banyak lah mau nya! Yuk – Mari.. ^_^

 

Surabaya, 30/09/2008 – 30 July 2014.

Terimakasih untuk 2129 hari yang luar biasa bersamamu.

2 thoughts on “Sekotak Kardus Masa Lalu

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s