Hidup Normal


Saking bingungnya mau nulis apa, di saat lagi pengin nulis, akhirnya muncul-lah sebuah ide untuk menuliskan tentang hidup saya yang sangat-sangat normal akhir-akhir ini. Ya, Hidup Normal. Well, memang nggak menarik sih. Hidup normal? Ya udah….. Trus kenapaah? Hahaha…

Buat kalian, mungkin nggak ada yang menarik dari Hidup Normal. Tapi, Hidup Normal adalah moment yang sudah lama sangat saya rindukan.

Alhamdulillah, saya sedang menikmati tinggal bersama keluarga. Setiap hari tidur di rumah. Benar-benar menyenangkan. Alhamdulillah.Β  Entah berapa kali, saya akan terus mengucapkan Alhamdulillah dan Alhamdulillah.

*Emang, sebelum-sebelumnya kemana Ita?

*Saya nggak kemana-mana. Disini-sini aja.ohok. mbijuk.

Kalau dihitung-hitung, seperti sudah 3 – 4 tahun nggak tidur di rumah setiap hari. (saya yakin, banyak temen-temen lain yang lebih lama tidak tidur di rumah) Lhoh? Di akhir kuliah, saya tidur di rumah paling cuma seminggu sekali-dua kali aja. Sisanya, tidur di lab kampus. Ya..apalagi kalo bukan demi tugas akhir. Haha.. kalau lihat tulisan-tulisan curhatan tentang tugas akhir, rasanya lucu juga ya. Lain waktu, saya pengin cerita tentang apa yang terjadi saat sedang bergelut mengerjakan tugas akhir itu. *oke, next.*

Setelah tugas akhir selesai, saya langsung lepas landas ke Jakarta. Tepat, 2 minggu setelah sidang selesai. Dan, sejak itu saya semakin merindukan saat-saat tidur di rumah. Ya.. kuliah selesai, saya memang mendapatkan waktu normal selama di Jakarta, tidur malam dan pagi bangun. Waktu normal yang tidak saya dapatkan di masa-masa akhir kuliah. Tapi… jauh dari keluarga. Tidak mengurangi rasa syukur, tapi tetap terasa ada yang kurang. 😦

Hidup Normal seperti ini, bagi saya adalah hadiah luar biasa dari Tuhan. Saya menikmati masakan ibu setiap pagi. Membawa bekal makan siang ke kantor. Selesai kerja, pulang ke rumah. Shalat berjamaah dengan bapak dan ibuk. Cerita banyak hal dan tertawa dengan mereka, sampai akhirnya tidur lelap. Setiap hari.

Saya juga punya kakak perempuan (sekarang). Rasanya punya “mbak” itu benar-benar menyenangkan. Saya bisa sharing baju dan tas, bisa curhat yang hanya bisa diceritakan pada sesama perempuan, dan menanyakan pendapat tentang ini-itu. Dan, “mbak” saya ini bener-bener cewek & cantik. Jadi, sangat membantu saya…ehmm..ya.. saya yang nggak terlalu cewek.

Dan juga ada baby Ken, yang lucu nya ampun-ampun. Sampe pengin saya gigit-gigit pipinya *hanya ungkapan, oke*. Akhirnya, ada bayi di rumah setelah sekian lama! Itu yang mau saya sampaikan. Dan itu menjadi kesenangan tersendiri, karena saya jadi semangat pulang ke rumah (waktu kerja) karena ada Ken!

Saya juga bersenang-senang dengan sahabat-sahabat saya. Ahh.. membicarakan, merayakan, dan menertawakan banyak hal. Saya kembali bisa tertawa yang membuat saya tidak ingin berhenti. Bebas ngobrol apa saja. Menertawakan apapun. Mengalir begitu saja. Melepaskan semua masalah, dan bebas berekspresi.

Dan, saya juga semakin dekat dengan dia. Dia, yang selalu menyayangi saya dimanapun dan bagaimanapun kondisi saya. Bisa mengerti dan memahami saya lebih dari saya sendiri. Yah, setidaknya saya bisa bertemu seminggu sekali. Tidak harus menunggu waktu liburan atau waktu tiket pesawat murah. Ahh.. saya tidak lagi memikirkan harga tiket pesawat atau berburu promo. :p

Teman-teman baru di kantor pun juga sangat membantu. Saya mendapat nuansa dialek Suroboyo-an yang sudah lama tidak terdengar. Lingkungan yang sama enaknya dengan lingkungan di Jakarta. Saya sempat gugup di awal, tapi tidak lama pun mulai terbiasa dengan gaya hidup disini.

Ahh..iya satu lagi. Makanan. Haha.. Tentu saja, dengan harga lebih murah dan rasa lebih enak. Wah..saya gendut? Hihi.. sempat naik 3 kilo, tapi sekarang sudah kembali normal. Shht… semua serba enak disini. Saya masih punya banyak waktu untuk kuliner, jadi tidak perlu terburu-buru.

Macet? Ya.. Bohong kalau saya bilang disini tidak macet. Surabaya kota besar. Dan kota besar pasti ada macet. Tapi seenggaknya, bukan macet konyol. Saya bersyukur karena masyarakat disini cukup sadar diri untuk tertib berlalu lintas. Dan, Alhamdulillah ada si upik yang selalu nemenin saya kemanapun saya pergi. Sejenak, melepaskan diri dari angkot boleh dong? Tapi bukan berarti saya tidak pernah naik angkot disini. Sesekali pun saya masih naik angkot, kangen sama nuansa dempet-dempet an di angkot jakarta. Haha..

Apa semua berjalan lancar? Yang tidak lancar pun juga ada. Tidak enak juga ada. Saya nggak perlu menulis sesuatu yang nggak enak. Karena yang nggak enak disinipun, saya rasakan juga di tempat lain. Jadi, kalau bahas yang nggak enak aja, nggak perlu harus nunggu disini kan.

Inilah, Hidup Normal bagi saya.Β  Ketika saya bisa bersama dengan keluarga, sahabat dan orang yang kita sayangi. Menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang. Yakin, tidak ada apapun yang tidak bisa dihadapi karena kita tidak sendiri. Hikikik… Bagian dari hidup normal saya bukan berarti tidak ada masalah lho ya. Tapi apapun masalah itu, ya dinikmati saja. Enjoy bro~

Jadi, ketahuan deh ya.. kenapa saya jadi jarang nulis akhir-akhir ini? Yya… karena saya sedang sangat menikmati hidup normal ini. Saya baik-baik saja, dan bahagia. Bahagia itu sederhana, bukan? Semoga Kalian juga bahagia dengan apapun yang kalian jalani saat ini ya.

Salam Hidup Normal..!

Advertisements

2 thoughts on “Hidup Normal

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s