Burung Kertas


Burung kertas itu lucu ya. Origami membuat kertas menjadi bukan sekedar kertas. Aku masih ingat itu, tiga tahun lalu kau mengatakan itu. Di pinggiran kota Alexa, sebuah toko kecil, menjual berbagai kertas, dan kau memilih satu bungkus kertas bercorak polkadot warna-warni. Seperti anak kecil yang baru mendapat permen, nuansa hatimu bisa menjadi bahagia sekali. Hanya karena kertas origami.

Begitu juga sebaliknya, dahimu seketika berkerut, saat kau tahu bahwa itu adalah bungkus terakhir dari kertas favoritmu. Sebungkus hanya isi 50, masih kurang banyak. Ahh..!

Dan, aku paling suka setiap sudut bibirmu saat kau sedang kesal dan mengumpat. Kau selalu mengumpat saat tidak mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, pada akhirnya kau selalu mendapatkan semua yang kamu mau. Dengan cara apapun.

Burung kertas itu pun sebenarnya bukan punyamu kan? Kau merebutnya dari anak kecil di taman itu. Dasar gadis aneh. Semaunya sendiri.

Hahaha… akhirnya aku bisa! Terimakasih ya adik kecil, ini untukmu.  Setelah kau buat dia menangis dan kau paksa untuk mengajarimu cara membuat burung kertas, sekarang kau berikan burung kertas karya pertamamu padanya. Untuk gadis 18 tahun sepertimu, bukankah sikapmu itu sangat kekanak-kanak an sekali. Kenapa kau tidak bilang terus terang saja jika ingin belajar membuat burung kertas. Kenapa harus membuatnya menangis dulu.

Sejak itu, hari-harimu tidak pernah lepas dari membuat burung kertas. Satu hari tiga burung kertas, katamu dengan semangat. Entah sudah berapa banyak burung kertas yang kau buat. Dan aku tidak habis pikir, dimana kau akan menyimpan burung-burung itu. Hey, kau bahkan belum berterima kasih pada anak kecil itu. Kau masih berhutang budi padanya.

“Wahh…! Raka, kau benar-benar gila.. sampai kapan kau akan membuat burung-burung kertas itu?”, Robi menepuk bahuku, membuat konsentrasiku buyar. Sahabatku sekaligus musuhku itu sudah seperti jailangkung. Datang tanpa jemput, pulang tanpa antar. Robi memandangi toples-toples yang berjejer rapi di sisi ranjang tidurku. Toples-toples yang sudah terisi penuh oleh burung kertas yang kubuat.

“Apakah projekmu membuat sejuta burung kertas sudah berhasil, hah?”, tanyanya lagi. Dia merapikan burung-burung kertas yang baru saja kubuat dan memasukkannya ke dalam toples. Toples terakhir yang baru terisi seperempatnya.

“Hey Raka. Toples yang terakhir ini, buatku saja ya. Sebentar lagi, pacarku ulang tahun. Dia pasti senang, kalau mendapat kado setoples burung kertas.” Aku saja baru tahu kalau Robi sudah punya pacar lagi. Seminggu yang lalu, dia baru saja menangis padaku karena diselingkuhi oleh pacarnya.

“Jangan mimpi. Buat saja sendiri.”, kusahut toples dalam tangannya. Toples kesepuluh yang belum terisi penuh, kutata di sisi ranjang. Butuh berapa lama lagi untuk memenuhi toples itu.

“Hey… pelit sekali. Kau kan bisa buat lagi. Toples ini, buatku saja ya? Ya? Ayolah… ”, bujuknya.

“Tidak.”

“Haish.. sudah kuduga. Sifat pelitmu dari dulu memang tidak pernah berubah. ini yang membuatmu dijauhi para gadis.”, kepalaku mendadak pening. Robi sialan ini ternyata baru menjitakku. Nyaris saja toples ini kulempar padanya. Setoples burung kertas. Tapi sayang sekali kalau kalau toples ini pecah. Haha. Mungkin aku memang sudah gila. Kau berhasil menularkan kegilaanmu pada burung kertas padaku. Kau pun juga berhasil mendapatkanku. Kau mendapatkan apa yang kamu mau. Semuanya. Kau puas kan sekarang?

“Raka.. Dia sudah pergi. Kau tidak bisa seperti ini terus. Keluar dan carilah gadis lain. Aku yakin kau pasti bisa. Owhh… Kau ingat? Waktu sekolah dulu, kau adalah murid paling tampan dan pintar. Kau seorang idola! Ada banyak gadis yang mengejarmu. Sampai aku dimanfaatkan oleh mereka, untuk mendekatimu. Kau ingat kan? Sarah, Maya, Risa, Santi, siapa lagi namanya. Ahh.. Hubungi saja salah satu dari mereka. Aku yakin, kau bisa berkencan dan merasakan cinta lagi.”. Sepertinya Robi tahu kalau aku tidak terlalu suka dia mengungkit-ungkit kepergianmu lagi. Aku tahu dia sebenarnya kuatir, tapi aku juga tidak bisa berhenti membuat burung kertas ini. Seperti aku yang belum bisa berhenti melupakanmu.

“Aku tidak sepertimu, playboy kampung.”, bantal besar di depanku langsung tepat mendarat di wajahnya. Haha. Muka bodohnya itu lucu sekali. Apalagi yang bisa kulempar ke dia.

Ahh… Sudah cukup membuat burung kertas hari ini.

-ita, 14 Februari 2013-

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s