Kehilangan itu…


apapun yang namanya kehilangan itu, cuma butuh satu solusi, yaitu iklash. Siapa bilang gampang? Nggak gampang bro. Hahaha. Sakit men. Ada prosesnya, tidak sepenuhnya menyenangkan tapi akan sangat kita syukuri nantinya. (*bersyukur kok nunggu nanti, dari sekarang aja deh bersyukurnya. haha)

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN . Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

lagi-belajar-ikhlas

Saya tidak ingat kapan pertama kali saya menangis karena kehilangan. Tapi, saya masih ingat betul rasanya kehilangan binatang peliharaan, yang sangat dan sangat saya sayangi. Kelinci. Ada lima anak kelinci, puca, puci, picu, pici dan pucu. Dari bayi baru lahir sampai usia dua bulan dan lagi lucu-lucunya. Perlahan satu demi satu, mati. Rasanya seperti nggak terima gitu, karena itu pertama kalinya saya meluangkan banyak waktu dan niat buat merawat binatang. Ada yang dimakan kucing, ada yang jatuh ke got, jatuh dari sofa, dan ada yang dibuat mainan sama adik (waktu itu, adik saya kelas 4 SD dan lagi nakal-nakalnya). Dan, pada akhirnya mati semua. Kehilangan kelinci yang terakhir kali karena jatuh dari sofa sampai telinganya keluar darah, adalah moment paling menyesakkan dada. Saya peluk kelinci itu sampai baju saya terkena darahnya dan saya tidak perduli. Dan waktu itu, dia tidak bergerak. Masih bernafas. saya semakin tidak tega melihatnya, terlebih saat kelinci itu cuma bisa terbaring dengan mata yang sayup. Kakinya patah. Badannya lunglai. Saya menangis keras, waktu itu.
Dua bulan memang bukan waktu yang lama, tapi dalam dua bulan itu saya mendapatkan pelajaran penting tentang menyayangi binatang. Terimakasih Tuhan, saya tersadar bahwa apa yang saya cintai tidak pernah benar-benar milik saya. Semua adalah milikmu. Mahlukmu. Titipanmu.

*Memang, sampai sekarang saya tidak lagi memelihara binatang apapun. Dan saya belum ingin merawat apapun. Saya takut nanti nasibnya akan sama. Ujung-ujungnya mati. Ya… Semua mahluk hidup pasti akan mati. Tapi, saya tidak ingin ada yang mati karena saya.

Tangisan kedua adalah saat saya kehilangan cinta pertama saya, dan butuh waktu untuk iklash selama dua tahun lebih. Cieee…dalem lho ini. Saya pikir, saya akan menjadi orang yang paling menderita sedunia karena separuh jiwa seperti hilang. *waktu itu. Berat badan saya juga hilang 8 kilo. Saya tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Saya benar-benar berantakan. Tapi, sekarang saya bersyukur. Malah sangat bersyukur. Karena dari proses kehilangan itu, saya belajar untuk melupakan dan tidak berdiam diri. Dan dari satu kehilangan itu, saya mendapatkan banyak hal hingga sekarang. Saya jadi aktif sekali di kampus, super duper aktif sampai saya merasa lelah dan tidak ada waktu lagi untuk mengingat rasa kehilangan itu. Sampai saya bertemu satu orang yang luar biasa baiknya dan luar biasa hebatnya. Dari empat tahun yang lalu sampai sekarang, kita masih bersama. Tuhan menitipkan separuh jiwa yang lain untuk ada di sisi saya. Dan, Tuhan memberikan pelajaran keras pada saya untuk kuat dan tidak pantang menyerah. Terimakasih, cinta pertamaku. Saya malah berharap kembali pada masa-masa sibuk itu lagi, biar bisa langsing. Kapan lagi bisa selangsing itu?? owhh…47 kilo.. kembalilah padaku…haha

Dan, sekarang saya kehilangan handphone. Dibandingkan dua kehilangan di atas, mungkin handphone ini tidak terlalu berarti. Bisa dibeli dengan uang. Kapanpun. Ini bukan pertama kali nya kan? Saya juga pernah kehilangan sepeda waktu SD. Kehilangan handphone hadiah dari mbah waktu SMA. Dan kehilangan-kehilangan yang lain. Ya, saya teledor tidak mengawasi dan menjaganya dengan baik. Saya menyesal tadi. Saat kehilangan handphone ini, hari ini, pagi ini, semua moment-moment kehilangan yang dulu langsung berputar lagi di kepala. Saya mengingat banyak moment yang hilang dan berlalu begitu saja. Kembali sesak. Saya menangis? ya menangis. Ya, handphone itu sejak lima bulan ini adalah menjadi kesayangan saya. Setidaknya saya punya temen di kos an.

Astagfirullah. Dan, tadi pagi hilang. Saat perjalanan naik kopaja menuju kantor, mungkin jatuh tanpa saya sadari. Maaf ya handphone,, serius deh. Nggak ada niat untuk sengaja menjatuhkanmu. Atau mungkin handphone nya muak dan lari dari dalam tas saya. Mungkin juga, handphone nya sekarang sedang ingin punya pemilik baru. Yang pasti, tidak bisa dihubungi lagi. Mungkin sudah berada di tangan orang yang benar-benar membutuhkan dari saya. Dimanapun dan dengan siapapun handphone itu, semoga memang jodohnya.  *sok bijak sekali ya.

rumus-kehilangan
Lagi-lagi menjalani proses itu jadi nggak mudah kalo diawali dengan tangis ya? Apakah saya lebay? Mungkin iya. Saya menangis lebay untuk sebuah handphone yang mungkin terlalu lebay untuk saya. Ya sudahlah… Bubye my XySIII. Sudah cukup lebay nya. Gadget termewah dan terbaik yang pernah dititipkan kepada saya. Tuhan ingin saya belajar untuk iklash lagi. Dan sepertinya Tuhan marah, karena saya seperti mencintai handphone itu melebihi yang lain. Terimakasih Tuhan, telah mengingatkan saya.

Semua yang ada di dunia itu cuma titipan. Dan sebaik-baiknya kita adalah menjaga titipan itu dengan bijaksana. Kalau kita sudah menjaga dan merawatnya dengan baik, dan setelah itu hilang, berarti sudah saatnya kita harus melepaskan. Namanya juga titipan, boleh dong diambil sewaktu-waktu sama yang punya. Dan satu lagi, kehilangan itu sebenernya nggak kemana-mana, tapi diambil lagi sama Allah. Dan mungkin akan diganti dengan yang lebih baik lagi. Nggak usah disesali, karena itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menjaga titipan itu.

Tuhan, terimakasih ya? Kiriman teman nya sudah datang dari kemarin. Wujudnya manusia. Dan, lebih baik daripada gadget. Lebih multifungsi dan full fiture yang tidak bisa didapat dalam sebuah gadget. Hahaha… Ciptaan-MU memang nggak tertandingi, Tuhan.

*Sekarang, saya pengin samsung galaxy S4. Tapi iphone 6, kayaknya juga keren? Hoey! Tunggu ya.

3 thoughts on “Kehilangan itu…

  1. Pingback: Jalan Kaki ke Kantor « Rewinnita Maretnoningtyas

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s