DIARE & UGD


Kayaknya hampir setiap penyakit yang saya derita baru-baru ini, menjadi bahan yang bisa dipublish di blog. Dewasa ini… (ceilee…) saya kena diare. Dua hari berturut-turut. Dalam satu hari, saya bisa pub sebanyak tiga kali. Dan rasanya…olala.. lemes. Tiga kali sudah jadi indikasi yang nggak bagus dalam sejarah jadwal pub saya. Karena biasanya, sehari cuma sekali. Atau dua hari sekali normalnya. *Jadwal pub tiap orang beda-beda lho ya.

Sebenernya diare yang saya alami ini nggak parah-parah amat. Biasa aja lah. Cuma, ditangani secara tidak biasa. Bayangkan, hanya karena diare saya sampai masuk UGD. Lebay kan ya. Haha. Tapi itu nggak sengaja. Tepat sehari setelah tahun baru, yaitu tanggal 2 Januari kemaren, saya harus meluncur ke Nganjuk untuk menengok nenek yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.

Saya yang kemarin baru bolak-balik ke kamar mandi, merasa sehat kembali. *Pamer otot. Jadi, saya pun santai-santai saja melakukan perjalanan 3 jam ke Nganjuk. Di tengah jalan, owlala… perut-nya bergejolak. Batin saya, ini apa lagi yang mau dikeluarin. Nggak habis-habis isi perutnya nih. *maaf jorok.

Saya coba deskripsikan ya, bagaimana sakitnya perut saat diare itu. Melilitnya lebih dari sakit perut biasa. Bahkan saat proses pub sedang berlangsung, melilit itu nggak kunjung hilang. Perut bagian bawah sampe pantat, kayak diplintir-plintir. Euhh… Sakit brooo… Dan nggak bisa ditahan. Setelah pub biasanya jadi lemes. Nggak nafsu makan. Habis makan dikit, langsung kebelet pub.

Kalau nggak salah, waktu di mobil saya nyemil rambak. Dan, langsung..berr… mules. Jadi berhentilah kita di pom bensin. Dan saya langsung ngacir ke toilet. Untung toiletnya bersih! Airnya bening lagi. Hehe. *Maap, agak sensitip sama toilet kotor. Mau dipaksain kayak apa, kalau toiletnya jorok pasti nggak bisa buang air apapun (besar&kecil).

Setelah sampai di Nganjuk, kita langsung menuju rumah sakit dan syukur kondisi nenek sudah membaik. *Alhamdulillah. Semua lega. Tapi cuma saya deh kayaknya, yang belum lega. Yap. Perut saya mules lagi bung! Untung, di ruang inap nenek ada kamar mandi dalam yang super duper bersih. Wangi lagi! *Nggak penting.

“Ya wis, mumpung di rumah sakit sekalian aja ke dokter buat periksa perutmu.”, kata mami.

“Oke.”, jawab saya santai, karena waktu itu untuk sementara sudah nggak sakit lagi. Tapi antisipasi, kalau nanti sakit perut lagi jadi okelah kita menemui dokter sajo. Dan saya ogah juga kalau sampe di Jakarta, trus tiba-tiba mules lagi.

“Periksa disini ya mbak.”, kata perawat sambil mengarahkan saya menuju ruang UGD. Saya nurut, sambil mikir kenapa harus ke UGD ya?

“Maaf mbak, cuma diare biasa kok.” saya menolak halus.

Perawatnya cuma senyum aja. Sambil nyuruh saya nunggu dokter dateng. Karena disana banyak sodara-sodara berkumpul ria menemani nenek, saya pun jadi bulan-bulanan budhe dan pak dhe.

“Lhoo nyapo we ning kene? koyo wong loro wae,” kata buk-rin. Kakak dari mami, alias budhe.

“Mencret-mencret arek e…”, sahut mami.

“Walah, mbah e loro kok melu-melu loro.”, sahut buk-rin. Lalu datang sodara sepupu dan pak dhe. Dan ruang UGD itu seketika jadi ramai. Bercanda ngalor ngidul. *Ruang UGD serasa milik sendiri dan jadi tempat rumpik deh bok!

Begitu dokter datang, perutnya cuma dipegang-pegang pake stetoskop. Halahhh..paling cuma dua kali pindah tempat di perut.

“Mual nggak?” tanya dokternya.

“Enggak.”

“Mulai kapan sakitnya?”

“Kemarin.”

“Udah berapa kali buang air besar?”

“Lima kali.”

“Saya buatin resep ya mbak.”, kata dokter ramah. Buhhh… nggak sampe tiga menit bro. Udah selese. Hahaha. Saya langsung minum obatnya. Dan seketika diare langsung hilang! Saya cuma minum obatnya dua kali.

Mungkin karena euforia kembali ke kota tercinta (Surabaya) membuat saya lupa diri. Tapi makan juga normal sih, paling…. Oh iya. Saya jadi gila sambel. Segala macam sambel yang pedes nya selangit, saya makan. Termasuk sambel buatan saya sendiri. Lhoo..jangan salah, saya pinter lho nguleg sambel. Hahaha. *lebay. Maklum, disini sambelnya nggak ada yang sip kayak di Surabaya! Jadi penyebab diare ini adalah gara-gara sambel buatan saya sendiri kali ya. Hahaha. Senjata makan tuan , jeh.

Aniway, Begitulah perjalanan sakit diare saya nggak sebenernya ditangani secara lebay. Hahaha. Apapun penanganannya, yang penting sembuh. Oke. Bye-bye diare.

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s