WEDDING


C
Beberapa teman mengira bahwa saya yang menikah. Padahal? Tentu tidak. Hahah. Yang sebenarnya adalah, kakak saya yang menikah. Mungkin, karena kostum yang saya kenakan mirip-mirip sama kostum si brother. Jadi disangka saya yang married.

Pertama kali saya punya saudara ipar, yey! Cantik pula. Heheh. Yang lebih penting adalah kehadirannya yang bisa menempati posisi sebagai saudara perempuan pertama saya. Semacam pengin kasih piagam untuk ipe karena telah berhasil menjadi yang pertama! *ipe = panggilan kehormatan dari saya untuk kakak ipar (hahaha).

C

Nuansa akad nikah yang sederhana dan lucu. Namanya juga baru pertama kali ya di keluarga sini, jadi yang namanya ijab-kabul sampe diulang dua kali. Untuk ga sampe tiga kali ya bro? So far so well lah. Menyambut brother dan ipe di rumah, juga nggak kalah uniknya. Seharusnya, ibu membawakan air minum dan meminumkan ke kedua mempelai sebelum masuk ke dalam rumah. Namanya, unduh mantu. Kalau disini , mempelai nya minum sendiri-sendiri dong. Harusnya, segelas untuk berdua. Ini, segelas hampir dihabisin semua sama si brother. *Cuma bisa geleng-geleng kepala aja saya nya.

Memaknai arti pernikahan. Bisa dibilang, ini pernikahan pertama dalam keluarga dan saya menyaksikan proses nya dari awal sampai akhir. Kadang muncul pikiran, gimana ya rasanya setelah menikah? Hohoho. Ribet nggak sih. Ngurus diri sendiri aja masih belepotan, gimana mau ngurus pendamping?

C

Menikah bagi saya adalah lebih penting dari sekedar memperbanyak keturunan. Ya, saya juga pengin nanti punya baby, yang bisa diuncal-uncal kesana kemari. Tapi lebih dari itu. Yaitu, manusia itu diciptakan berpasangan karena roda kehidupan akan semakin berat di masa mendatang. Masalah silih berganti. Kualitas hidup manusia diuji dengan semakin beratnya beban yang dihadapi. Karena itu, mereka membutuhkan pasangan yang bisa diajak mengarungi kehidupan bersama-sama. Susah-senang dijalani bersama. Bisa saling mengisi satu sama lain. Bisa saling mengerti satu sama lain. Dan, bisa diajak kerjasama untuk gotong royong sebagai sama-sama khalifah dalam sebuah ikatan keluarga.

Nah, untuk mendapatkan calon pendamping yang bisa diajak kerjasama itu memang tidak mudah. Bisa jadi, apa yang dibilang orang-orang itu adalah jodoh. Saya masih nggak paham, prosesi dari menemukan jodoh itu seperti apa. Mungkin, akan terdengar suara “klik” di sini. *tunjuk hati – dada. Sebagai tanda, saat kita bertemu jodoh nanti. Hahaha.

One thought on “WEDDING

  1. Pingback: Being “Crazy – Aunt” | Rewinnita Maretnoningtyas

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s