Tanjung Pinang dan Senang


Hai hai… saya mau menceritakan perjalanan beberapa waktu lalu, di Tanjung Pinang dan Batam. Tanjung Pinang dan Batam merupakan bagian dari kepulauan Riau. Ada begitu banyak mini island disana. Karena itulah, disebut kepulauan Riau.

Saya semakin tertantang ketika mendapat kesempatan untuk melancong kemari. Bertaruh dengan waktu, apakah saya bisa berpergian sendirian menuju pulau kecil di bagian barat Indonesia. Saya bangga dan senang sekali, karena bisa melihat Indonesia dari pulau lain. Dari atas pesawat, pemandangan alam di atas kepulauan Riau ini indahh sekali.

Bintan

Mendarat di Tanjung Pinang adalah pengalaman pertama saya, memasuki bandara yang sederhana. Namanya Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.  Jangan dibayangkan seperti bandara di Jakarta atau di Surabaya, atau di kota-kota besar lain ya. Bandara disini sederhana (sekali lagi). Saya tiba disambut dengan hujan lebat (mirip badai). Para penumpang (termasuk saya) sempat menunggu beberapa waktu di dalam pesawat karena para petugas sedang menyiapkan payung. Payung? Ya, payung. Kalau hujan, pakai payung dong ah. hehe. Setiap penumpang dipinjami payung untuk menuju ruang bandara. Tapi semacam nggak ngefek ya, karena hujan nya deras sekali jadi tetep basah. Hahaha.

hujan

Di dalam ruang bandara, hanya ada satu ruangan. Ya, satu. Untuk mengambil bagasi. Dari dalam ruangan, saya melihat keluar ke arah lapangan. Dan di sepanjang lapangan, saya hanya melihat satu pesawat yang parkir. Ya, pesawat yang tadi saya naiki itu. Hahaha.

Sampai di luar, saya bertemu dengan teman kantor dan memberikan barang yang diminta. Oke, saat itu saya sedang menjadi kurir. Cuman nganterin barang aja kok. Enteng kan? Tidak seenteng dengan bagasi nya bung. Disana hampir nggak ada porter dan troli. Jadi, semua barang yang dari bagasi harus dibawa sendiri. Oke? Dan, saya bawa bagasi seberat 28 kilo.

Tugas selesai saat itu juga. Dari luar, bandara ini bisa dibilang lebih mirip dengan stasiun. Hanya ada satu toko yang menjual makanan. Dan ada beberapa ATM, kecuali ATM BCA. Ruang tunggunya, ya di luar itu. Ada beberapa tempat duduk seperti di stasiun. Tidak terlalu banyak orang, dan suasananya dingin (karena hujan). Dengan nuansa orang-orang di Bandara itu, saya seperti berada di era 70-an. Hahaha. Seru deh.

mtf_XqxsL_178

Awalnya, teman saya berencana untuk melanjutkan perjalanan ke pulau tarempa. Bagian dari kepulauan Riau juga. Tidak berapa lama kemudian……

“Wah, pesawatnya nggak dateng hari ini. Cuaca buruk.”, kata dia.

“Owh, trus diganti kapan?”, tanya saya.

“Belum tau. Nanti di-sms, kata cs nya.”. Jawab dia sambil berlalu. Wow, amazing sekali.

Mobil taksi nya pun memakai jenis sedan tahun 90 an. Yang modelnya masih agak kotak itu lho. Oiya, taksi disana juga jarang yang pakai argo ya. Sekali perjalanan, biasanya langsung dicharge 70 ribu. Termasuk ongkos taksi kami dari bandara menuju pelabuhan.

Tanjung Pinang, punya pelabuhan yang bernama Pelabuhan Sri Bintan Pura. Disana, banyak disediakan speedboat khususnya buat pengunjung yang ingin melanjutkan perjalanan ke Batam. Saya termasuk dari sekian banyak pengunjung, yang berniat ke Pulau Batam.

mtf_XqxsL_183

Perjalanan ke batam, lanjut di tulisan berikutnya.

Salam Kurir.

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s