Menerima Diri Sendiri


Sebagian dari mereka bilang, salah satu hal yang sulit dilakukan adalah mau menerima diri sendiri. Segala yang kita punya, kelebihan hingga kekurangan. Memang bukan sesuatu yang mudah, terutama ketika kita selalu merasa kurang dan kurang.

Rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau. Katanya. Seandainya aku bisa seperti dia. Cantik, pintar, dan popular. Seandainya aku bisa seperti dia, jadi anak orang kaya dan sukses. Seandainya aku bisa seperti dia, dan akan masih banyak kata seandainya, seandainya dan seandainya.

Sekarang, saya mengerti maksud mereka, tentang mau menerima diri sendiri. Segala keadaan yang kita rasakan sekarang, adalah hasil dari usaha kita. Tuhan tidak pernah menyulitkan umatnya. Saya percaya itu. Dan, apapun yang ada sekarang,itu adalah yang terbaik dari usaha yang telah kita lakukan. Jika ingin keadaan yang lebih baik, maka berusahalah lebih baik lagi. Fair kan?

Jika orang lain bisa melebihi kita, itu hanya pandangan dari satu sisi kita saja. Sebenarnya, masih banyak sisi lain dari mereka yang tidak pernah kita lihat. Kalau saya jadi mereka, tentu saja saya tidak akan menunjukkan betapa susahnya bisa berada di titik sekarang ini. Makanya, kata orang Jawa, orang itu cuma bisa sawang sinawang. Yang kelihatan aja yang enak, tapi dibalik itu ada banyak rintangan yang harus dilewati. Jadi kesimpulannya? Semua orang pasti melewati suatu proses “nggak enak” untuk mencapai hidupnya yang sekarang. Jadi? Nggak perlu iri bos!

Dan, lihat betapa Tuhan sudah memberikan kesempurnaan yang seimbang dalam diri kita. Melihat ke bawah sesekali, juga tidak ada salahnya. Malah, lebih seringlah melihat ke bawah ketika kita merasa kurang. Karena, masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih kekurangan dari kita.

Proses pembelajaran itulah yang terus ditempa agar kita mau menerima diri sendiri. Saya gendut, saya tembem, saya pendek, saya nggak cantik, saya juga nggak pinter. Tapi saya masih enak dilihat, saya sehat, saya nggak kerempeng, dan otak saya masih mampu untuk menerima pembelajaran-pembelajaran hidup untuk menjadikan saya pinter. Saya nggak punya uang, tapi saya juga nggak punya hutang. Pede? Harus dong. Ini adalah salah satu cara kita untuk bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan.

Kadang, waktu mendewasakan kita terlalu cepat tentang pelajaran bersyukur. Kata Mario Teguh, maafkanlah dirimu yang sudah lelah melayanimu. Menuruti semua kemauanmu. Berusaha menjadi yang terbaik seperti yang kau inginkah. Maka, cintailah dirimu sendiri.

Tambahan dari saya, terimalah keadaannya. Dan berterimakasihlah, karena Tuhan masih mengijinkannya untuk tetap hidup dan selalu bersamamu.

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s