Eksotisme Jember


Perjalanan ke Jember, baru satu kali. Oke, seharusnya dua kali. Tapi kunjungan pertama saat itu, saya dalam keadaan merem alias ketiduran di mobil, jadi skip aja. :p

Awalnya, diajak berkunjung ke kota Jember, ekspresi saya biasa-biasa aja. Tapi, bapak mencoba meyakinkan. “Ayo, ikut aja. Kamu pasti suka.”. Dan, berangkatlah kita ke kota asal prol tape ini. Dan…..

WAOWW… AJIB….

Oke. Bisa dibilang, Jember hanyalah kota kecil di ujung sanaaa (ujung timur Jawa). Perjalanan panjang, ditempuh dalam waktu 5 jam dari Surabaya. Dan, dari namanya “Jember”, sudah nggak terlalu menarik di telinga. Tapi, jangan salah. Begitu Anda menginjakkan kaki di kota Jember, rasanya nggak bakalan pengin pulang. Sebanding lah ya, sama perjuangan menuju kesana. (nggak berjuang-berjuang banget sih, kan naik kendaraan dan saya bolak-balik tidur. tau-tau dibangunin pas uda mau masuk ke kota jember)

Kenapa?

Jember menyediakan semua eksotisme alam yang belum tentu dimiliki oleh kota-kota lain. Mau yang adem-adem, bisa melancong ke Gunung. Ada Gunung Ijen, bagian dari pegunungan Iyang. Mau menikmati laut, ada pantai tanjung papuma dengan keindahan pasir putih nya. Hawanya? Sejuk! Seriusan deh, buat saya Jember ini memiliki nikmat suasana yang pas. Nggak panas banget. Dan, nggak dingin banget. Airnya pun sejuk. Eksotisme alam terlengkap yang pernah saya kunjungi.

Dan, makanan disini harganya masih murah bro. Bayangkan, saya bisa menikmati semangkuk sop iga (full daging) + sepiring nasi + minum (es jeruk), hanya dengan 12 ribu saja. Rasanya juga enaknyoo…unni… Bandingin dong sama disini (red.Jakarta), sop iga nya bisa 30 ribu (lebih) kali (dengan ukuran daging yang sama). Dan, Saya sempatkan untuk beli oleh-oleh prol tape, di salah satu toko oleh-oleh. Saya pikir, harga nya 40 – 50 ribu. Standard harga roti di Surabaya. Ehh.. tau nggak si.. ternyata harga untuk prol tape yang sedang, cuma 13 ribu sajo. Saya beli yang ukuran biasa, karena kalau terlalu banyak rasanya agak eneg. Mungkin, karena murah nya ini ya, saya semakin cinta sama Jember. Hohoho. Di Jakarta, semua mahal men. (really)

Penduduknya? Sesaat, saya sempat agak bingung membedakan antara logat jember dengan logat madura. Karena, hampir sama ya? Dan, cerita dari kakak yang sudah beberapa bulan tinggal di Jember, mayoritas penduduknya memang orang madura. Temen kuliah saya yang asal Jember, logatnya juga memper-memper sama logat madura (maap ya beni, hehe).  Saya juga nggak tahu kenapa, orang madura bisa berdomisili di Jember. (Nanti kalau sudah tahu, saya kabarilah). Tapi, orang maduranya di Jember termasuk orang-orang Madura yang halus. Jadi jangan kuatir. Cuma, saya tetep agak kurang paham artinya, kalau mereka ngomong dengan sesama. (oke, skip.)

Cuma… jangan cari mall disini bro. Jember tempat yang oke, buat orang-orang yang pengin cari ketenangan. Termasuk saya. Jauh dari macet, jauh dari panas, jauh dari berjubel nya orang-orang, pokoknya jauh dari ruwet-ruwet lah. Saya main ke pantai papuma. Di perjalanan ke sana, ada gunung (entah gunung entah bukit, yang pasti tanah yang menjulang tinggi dengan jalan berkelok-kelok, naik-turun), dengan pemandangan kanan-kiri berupa sawah tembakau. Sampai pantai, menikmati laut dengan semilir ombak yang ehmmm…. Makan ikan bakar.  Di sekitarya itu Hijau… Dan segaar… Di sekitar situ, juga ada beberapa rumah yang halamannya dipakau untuk menjemur daun tembakau. Benar-benar nuansa yang alami.

“Bapak dulu sempet ngerjakan proyek lama di Jember. Itu, tiang-tiang listrik di pinggir-pinggir situ, bapak yang ngerjakan.”, kenang bapak. Saya takjub berkali-kali. Mungkin karena pertama kali ya, jadi agak heboh. (maaf, yang menganggap saya agak berlebihan). Bolehlah ya..suatu saat investasi disini. Buat tempat singgah. Seenggaknya punya tempat dengan nuansa alam yang oke. Suatu saat nanti… amin!

Sayangnya, eh sayang… saya cuma semalam disana. Kenangan kota jember, masih terasa. Dan, sekarang saya sudah kembali ke ibu kota. Kalau dipikir-pikir, Jember dan Jakarta sama-sama diawali huruf “J”. Tapi, keadaannya bertolak belakang 180 derajat. Jember buat tempat istirahat, Jakarta buat tempat cari duwit. Hahaha.

Hidup Jember!

Advertisements

4 thoughts on “Eksotisme Jember

  1. Imay Saputri Amanda

    sudah berkunjung ke jember yaa.. wahh saya sbg orang jember bangga lhoo jember dipuji-puji.. hehe.. aku ga sengaja ni baca blog kamu.. oh iya mbak, aku mau ngasih info nih, kalo jember tuh diistilahkan sbg budaya Pendhalungan karna bahasanya campuran bahasa Jawa yang dimadurakan ato bahasa Madura yang dijawakan.. kalo pengen tau lebih jauh ttg bahasanya orang jember, coba deh baca blog ini http://jemberbanget.com/2009/08/06/bahasa-jemberan/ .. disitu ngejelasin bahasa jemberan + contoh kata2nya.. :))

    Like

    Reply
    1. rewinnita Post author

      prol tape ya… enak lhoo.. tp ya itu, kan manisnya dari manis tape, jadi kalau kebanyakan agak eneg. hohooh. Ntar kalau uda ready gambar nya, ku upload deh. hehehe.

      Like

      Reply

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s