Ternyata Ada,



Ternyata ada, orang yang nggak asik diajak kemana-mana,
Ternyata ada, orang yang kalo diajak suka kasi jawaban nggak pasti,
Ternyata ada, orang yang ditungguin tapi nggak ngerasa kalo ditunggu
Ternyata ada, orang yang suka gantungin keputusan.
Ternyata ada, orang yang punya uang tapi ngakunya ngga punya uang
Ternyata ada, orang yang tenggelam dalam dunia nya sendiri dan nggak mikirin perasaan orang lain
Ternyata ada, orang benar-benar hanya terhanyut dengan dunianya sendiri.

Ternyata ada , orang yang di depan ngomong A dan di belakang ngomong B.

Ternyata ada, orang yang di depan ngaku kawan, tapi di belakang dianggap lawan.

Ternyata ada, orang yang ngaku temen tapi ternyata ngerasa tertekan.

Ternyata ada, orang yang nglucu dan sumpah ya… nggak lucu banget.

Ternyata ada, orang yang nggak akan pernah tahu kalau nggak dikasih tahu.

Ternyata ada, orang yang nggak sadar kalau nggak dibangunin.

Ternyata ada, orang yang harus dituntun terus menerus.

Ternyata ada, orang yang cashing nya baik tapi hatinya busuk.

Ternyata ada, orang yang udah dipercaya sepenuh hati tapi malah nusuk-nusuk.

Ternyata ada, orang yang udah dibela-belain setengah mati, tapi malah nyakitin hati.

Ternyata ada, orang yang menghitung-hitung nilai kebaikan dan mencoba membalas setiap kebaikan yang udah diterima. Lalu, menganggapnya IMPAS.

Ternyata ada, orang yang terombang-ambing antara ketakutan dan ingin berontak, tapi malah jadinya aneh banget.

Ternyata ada,

Ternyata ada,,
Ternyata ada,,

Antara kasian, dan kasian. Sayangnya, rasa kasian itu udah tertutup. Sayangnya, udah males mau percaya lagi. Sayangnya, udah nggak bisa dan nggak mau dekat lagi sama orang begitu.

Ternyata ada orang yang punya karakter yang nggak saya banget. Kalau saya api , mungkin doi adalah…… plastik. Siap dibakar kapanpun ketika saya meledak. Sayangnya, saya nggak punya daya dan upaya untuk membakar teman sendiri. Karena itu, saya nggak pernah biarkan api itu menyala terlalu panas. Mencoba melindungi, tapi doi malah ngerasa terbakar. Maaf lho ya. Maaf, teman itu bukan itu.

Masalahnya , ternyata ada…. dan ternyata dekat sekali… Rasanya?? Nggak nyangka. Seperti ditampar dari lelap, dan bangun karena kaget luar biasa. Sampai sekarang, masih nggak percaya. Tapi, kembali lagi. Masalahnya, ini fakta dan nyata sekali. Mencoba mengabaikan insting, dan percaya dengan seorang teman yang lebih nyata di depan mata. Tapi, malah kebobolan. Dan tertipu. Masak, saya harus pakai insting juga untuk mencari teman baik?

Benci? Nggak bisa lah ya. Teman itu nggak pernah benci dan nggak boleh benci dengan teman sendiri. Bagaimana pun, orang itu pernah menjadi teman baik. Sekarang masih baik? Rasa-rasanya sudah enggak. Nggak apa. Nggak ada manusia yang sempurna. Tapi, ketidak sempurnaannya itu terlalu mengganggu dan mengusik lho ya. Anggap saja, sedang belajar menjadi manusia dewasa. Belajar menerima kekurangan orang lain. Saya juga nggak sempurna kok. Semoga Allah selalu melindungi dia dan saya, dan semua orang dari sifat dan sikap sedemikian. Amin.

Dan, pertanyaannya kenapa harus setelah jadi teman? Hahaha. Karena, nggak ada yang namanya memutuskan teman. Dan, nggak ada yang namanya mantan teman. Jadi, jaga jarak saja dulu. Mungkin, setelah ngerasa kehilangan baru sadar betapa pentingnya seorang teman.

Advertisements

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s