Buryam Penyatu Semangat


Suatu ketika pulang ke Surabayah, dan main main ke kampus dengan merekah. Merekah? Ya, sama mas ali , dipti, dan mas ajiz. Β Kebetulan mas ajiz juga lagi pulang. Setelah, semaleman nginep di lab, besok paginya kita melancong mencari sarapan. Rekomendasi dari mas Ali, menuju ke arah buryam di daerah Keputih. Di pinggir jalan. (Muterr aeee dekett kampuss jugaaaa). Jadi, beginilah bentuk buryam nya.

Kenapa harus buryam? Karena buryam ini menyatukan memori kita waktu di kampus. Kebiasaan nginep di lab, dan bangun pagi dengan perut kelaparan. Salah satu menu yang nikmat untuk disantap saat itu adalah buryam ini. Mas Ajiz yang awalnya anti buryam pun, akhirnya luluh setelah kita paksa untuk makan! Hahaha. Dan, sekarang dia ketagihan dong… Rasanya, setelah makan buryam ini jadi semangat! Cemugudh!

Dibandingkan buryam di Jakarta, satu topping yang saya suka adalah kacang tanahnya. Kalau di Jakarta, biasanya pakai taburan kacang kedelai. Kalau di Surabaya, pakai taburan kacang tanah. Hemmm…. dan buryam disini disajikan di piring. Hehehe. (Nggak selalu sih, kalau untuk wadah sajiannya. Bisa di mangkok bisa di piring. *kata reta : di gelas juga boleh…). Mari santap buryam penyatu semangatt!!

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s