Marah? Tulislah.


Beberapa saat lalu, saya baru saja membaca buku berjudul “The Winner’s Attitude” karya Libertus S. Pane. Di dalam buku tersebut berisi 12 prinsip membangun semangat dan keberhasilan di dunia kerja. Yang membuat saya tertarik bukan dari topik global yang dibicarakan di buku itu. Tapi, tentang salah satu sub bagian yang membicarakan tentang komunikasi merasakan.

Komunikasi yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya ketika kita sedang dalam kondisi sangat marah dan emosional sekali. Marah, kalau dipendam malah jadi penyakit. Mau disampaikan langsung ke subject yang bersangkutan, bisa bikin kisruh. Mau dilimpahkan ke orang lain? Emang mereka salah apa cuy?

Libertus S.Pane menyarankan untuk menulis. Lhah, lagi marah kok malah disuruh nulis?? Agak konyol mungkin ya, bagi orang-orang yang ogah nulis. Tapi, kalau dipikir-pikir ada benernya juga lho. Berikut, potongan tulisan yang saya baca.

Inilah kisah seorang sahabat ” Saya pernah sangat kecewa dengan satu hal. Atasan saya membuat keputusan yang sangat tidak adil,. Kepala rasanya hampir meledak. Emosi teraduk-aduk. Saya lantas menulis surat. Saya tujukan kepada atasan saya. Saya menumpahkan seluruh kekesalan saya. Betapa sakitnya diperlakukan tidak adil. Sekalipun tidak menggunakan kataa kasar, rasanya nada kalimat saya sudah sangat keras.”

Setelah selesai membuat suratnya, ia membacanya dalam hati dengan degup jantung yang tidak beraturan. Konon., giginya seperti bergemeretak, tangan mengepal. Lalum apakah sahabat tersebut mengirimkannya kepada atasannya?

Tidak.

Selesai membaca surat tersebut, ia memejamkan matanya sejenak. Mendengarkan degup jantungnya. Ia mencoba menjaga jarak dengan masalah yang ia tulis, dengan memikirkan topik lain. Ia ingat ibunya yang sudah beruban dan keriput. Ia mengakui bahwa ia adalah manusia biasa. Ia membayangkan kembali, bahwa atasannya juga manusia biasa., yang bisa khilaf. Ia kemudian meremas suratnya, dan membakarnya.

Hasilnya? Perasaannya begitu plong. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada kekesalan di wajah. Dan, ia telah memenangkan kembali kekalutannya. Dan, yang terpenting adalah tidak ada yang tersakiti oleh kemarahannya.

Kekuatan menulis ternyata amazing banget ya! Yah, kebetulan saya suka menulis. Terkadang untuk hal-hal tertentu yang begitu menyiksa batin, saya sampaikan lewat tulisan. Hanya dengan itu, saya bisa merasa lega tanpa menyakiti siapa-siapa. Setelah itu, saya simpan. Dan suatu saat, saya bisa ketawa-ketawa sendiri membaca tulisan-tulisan itu.

Muncul perasaan lega, “Ya Ampun…konyol banget. Untung ga ada yang tahu.”, setelahnya, tulisan-tulisan itu akan jadi nggak penting lagi. Sobek dan buang. Nggak cuma ketika kita marah, tapi juga ketika kita sedih, galau, atau mungkin ketika kita terjebak dalam suatu tekanan , ya semacam stress gitu. Dengan menulis, kita bisa mengekspresikan berbagai perasaan. DanΒ  1 benefit lagi, kita mem-flash back tulisan kita. Istilahnya, me-reka ulang apa yang kita rasain dengan membaca tulisan itu lagi. Bener nggak sih perasaan itu, kalau misalnya dibaca sama subject yang bersangkutan gimana ya, kalau misalnya sampai dilihat orang lain efek nya apa ya.

Kadang kan, ada tuh orang yang habis marah-marah trus nyesel. Nah, dengan cara ini setidaknya kita terhindar dari penyesalan. Hehehe. (Yup, karena saya adalah orang yang selalu merasa menyesal setelah marah-marah nggak jelas. Dan, mungkin karena sekarang jadi keranjingan nulis, jadi saya jarang marah-marah. Dan emosi lebih terjaga. -dibandingin yang dulu-dulu lah- hehehe.)

Mari menulis kawan!

One thought on “Marah? Tulislah.

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s