Standard Beda Rasa


uda lulus?

uda kerja?

uda nikah?

uda punya anak?

dst…

zzz…zzzz….zzzz……..

 

—————————pertanyaan standard buat orang-orang standard———————

 

Hidup jadi terasa boring banget, kalo semua orang selalu melontarkan pertanyaan2 yang terasa mendikte sekali. Seolah-olah, hidup memang harus berjalan seperti itu. Padahal, setiap orang memiliki warnanya sendiri.

 

Orang2 yang tidak pernah kuliah, bagaimana mereka menjawab pertanyaan,

“sudah lulus?”

Saya rasa, tanpa menjawab pertanyaan itu pun, hidup mereka sudah sangat baik. Bahkan lebih baik dibanding dengan mereka yang bisa  menjawabnya. Ga usah jauh2 sih, temen bapak saya, sekolah hanya sampai kelas 2 SD.  Baginya, bisa berhitung dan membaca itu sudah cukup. Selebihnya, hanya soal sekeras apa kita bekerja dan mendapatkan hak selayak-layaknya. Hasilnya? Oww… temen bapak saya ini, punya 3 mobil, 1 mobil box, dua toko grosir besar, rumah besar,  dan beberapa petak tanah. Entah sudah berapa kali, dia pergi haji.

Lalu?

Bisa dilihat kan, tanpa menjawab pertanyaan itu, dia berhasil menjawab pertanyaan kedua.

“sudah kerja?”

jawabannya…. ya bisa kita jawab sendiri lah, berdasarkan cerita saya di atas.

 

“kapan nikah?”,

di dalam agama saya, menikah adalah suatu kewajiban. Apa tujuan menikah? —menjaga diri dari zina, mempunyai keturunan—- Tapi menurut saya, kewajiban itu cukup fleksibel. Dan, saya yakin Tuhan tidak pernah mempersulit umat Nya.

Ada cerita dari seorang teman cewek. Di usianya yang ke-25 atau 26 gitu, dia divonis terkena mioma. MIOMA UTERI adalah tumor jinak otot rahim disertai jaringan ikatnya sehingga dalam bentuk padat karena

jaringan ikatnya dominan, dan lunak karena otot rahimnya dominan Dan, karena dokter merasa mioma yang dideritanya sangat parah, maka miom itu harus diangkat. Dan efeknya, 90% dia divonis tidak bisa memiliki keturunan. Pernikahan yang berlangsung tiga bulan lagi pun, ia batalkan. Karena, dia merasa calon suaminya berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya dan bisa memberikan keluarga nya keturunan. Apalagi, calon suaminya itu berasal dari keluarga terpandang di kota itu.

Dan, dia pun memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Menurutnya, jauh lebih baik mengangkat anak-anak jalanan dan anak-anak yatim piatu.

Bagaimana dia menjawab pertanyaan, “sudah menikah?”

Dia berhasil melompati satu pertanyaan itu dengan menjawab, “saya tidak menikah. tapi saya punya banyak anak jalanan yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri di rumah.”

 

Saya tidak suka didikte dengan pertanyaan2 seperti itu. Kalau anda memang suka, ya itu memang hak Anda. Tiap orang memiliki jalan hidupnya masing.

Saya lebih memilih hidup dengan beda rasa. Cukup dengan dua pertanyaan.

“Sudah sampai mana kamu mengejar mimpimu?”

“So, what next?”

Saya akan menjawabnya dengan berbagai rasa dan warna! Capcus cing..!

 

 

Terimakasih sudah membaca.... ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s