Roti Harum, Primadona Legendaris Dari Klaten


Selain keripik HAPPY khas Ngawi, makanan favorit legendaris lain yang saya suka adalah Roti Harum dari Klaten. Bentuknya bulat dengan olesan cream di bagian tengah. Rasanya manis, tapi tidak terlalu manis. Sepintas mirip roti sisir, tapi tekstur roti nya di bagian luar lebih kasar, tidak berminyak, tapi lembut dibagian dalam nya.

Continue reading “Roti Harum, Primadona Legendaris Dari Klaten”

Mencicipi Keripik Tempe HAPPY Khas Ngawi


Keripik Tempe HAPPY ini sudah jadi idola seluruh keluarga. Mertua saya selalu membawa keripik tempe HAPPY ini kemanapun sebagai oleh-oleh. Keripiknya tipis, dengan balutan tepung yang tidak terlalu berlebihan, tidak berminyak, dan rasanya gurih sekali.

Tidak ada varian apapun, hanya ada satu jenis yaitu keripik tempe ini saja. Teksturnya renyah, tapi tidak keras. Untuk orang-orang tua atau anak-anak kecil yang giginya tidak kuat, tetap bisa menikmati keripik tempe ini. Mungkin ini salah satu alasan mertua saya sangat suka dengan keripik tempe ini, dari orang tua hingga anak kecil bisa menikmatinya.

Continue reading “Mencicipi Keripik Tempe HAPPY Khas Ngawi”

Akhir Tahun Yang Ditunggu


Dalam setahun, selain bulan Ramadhan – bulan yang saya rindukan adalah bulan Desember. Hawanya enak. Karena di Indonesia, setiap bulan Desember biasanya akan sejuk – dingin efek dari musim hujan. Yang membuat suasana hati dan pikiran juga adem.

Khusus di tahun ini, saya sangat-sangat menyambut bulan Desember dengan antusias. Karena bulan ini, saya ingin menghabiskan cuti di penghujung tahun bersama keluarga. Saya ingin menjadi ibu yang setiap hari memandikan anak, menyuapi anak, belajar dan bermain bersama anak. Dan, ini bisa saya lakukan full time dengan damai saat cuti atau hari libur saja.

Terlebih, anak saya sekarang semakin besar dan semakin manja sama ibunya. Ya, saya. Beberapa bulan terakhir, anak saya nggak bisa tidur kalau saya belum pulang kerja. Semalam apapun saya pulang, pasti ditungguin. Karena, dia baru bisa tidur kalau sudah saya peluk. Kadang, bangun tidur badan saya jadi pegel karena semalaman meluk anak terus.

Begitu juga dengan aktivitas makan. Makan pagi, siang, sore, atau malam. Anak saya sudah makan banyak lho. Hehe. (Akhirnya setelah dua tahun puasa – tutup mulut). Dan, makannya akan lebih banyak lagi kalau saya suapin dengan formasi harus lengkap bersama papanya juga. Kalau sudah begitu, bisa lahap banget makannya, sampai separuh porsi soto ayam Lamongan pun habis dimakan.

Endingnya, memang untuk anak sih. Anak saya sedang mengalami masa pertumbuhan di usia balita nya. Semua yang ada di sekeliling, dianalisa dan diserap dengan cepat. Pada fase ini saya ingin ada disampingnya untuk menemaninya belajar, dan saya baru bisa lakukan dengan damai di akhir tahun!

Lalu, bagaimana dengan agenda akhir tahun kalian?

Pendaftaran MBA di Institut Teknologi Bandung (BLEMBA)


Menuju penghujung semester pertama, saya menjadi mahasiswa kembali. Yeay! Dengan tugas yang alhamdulillah – melimpah dan membuat hati bahagia. Ya, saya melanjutkan ke jenjang S2 dengan program Business Leadership Executive – MBA (BLEMBA) di SBM – ITB Jakarta. Informasi lengkap apa itu BLEMBA-ITB bisa diakses disini. Saya masuk ke dalam angkatan BLEMBA 26.

Lalu, bagaimana persiapan untuk kuliah MBA di SBM – ITB ini? Well, persiapan yang saya lakukan seperti mau daftar kuliah pada umumnya sih. Yaitu, melakukan pendaftaran dengan menyertakan persyaratan administrasi, lalu mengikuti beberapa tes seperti :

  1. Tes TPA
  2. Tes Toefl
  3. Tes interview

Soal-soal test TPA ada sekitar 250 soal, sementara soal test TOEFL ada sekitar 140 soal. Kedua test ini dilakukan dalam satu hari saat weekend! Pagi test TPA, lalu siangnya test Toefl. Susah? Nggak kok. Lebih cocok disebut bisa dikerjakan tapi waktunya yang sangat-sangat terbatas. Jadi, kalau mau persiapan banget menghadapi TPA ini, simulasi mengerjakan banyak soal dengan diberi batasan waktu. Soal-soalnya matematika dasar, dan logika. Bisa browsing di google atau cari buku soal-soal TPA di toko buku. Soalnya mirip-mirip itu.

Saya belajar nggak? Ya, saya belajar, tapi nggak sekeras dan serajin belajar seperti persiapan S1 dulu. Karena waktu saya terpecah untuk bekerja, dan mengurus suami – anak. Kondisi kalian ada yang sama seperti saya? Yuk mari. Saya belajar di waktu yang sangat terbatas, saat subuh selama dua jam setiap hari. Saya mulai belajar mengerjakan soal-soal dari H-2 bulan sebelum tes ini. Ditambah sempat sakit herpes selama dua minggu, jadi nggak full dua bulan juga belajarnya.

Tapi ini cara saya. Kalau kalian memang sudah merasa yakin bisa melalui tes ini, ya santai aja. Nggak usah belajar. Temen-temen kuliah saya, banyak kok yang nggak belajar tapi lolos aja tuh tes nya. haha. Yang pasti, makan dan minum yang cukup sebelum ujian karena dijamin laper. Dan, untuk peserta ujian ini – pihak kampus tidak menyediakan konsumsi ya!

Tes Interview

Tes interview dilakukan 2 minggu setelah dinyatakan lulus tes TPA & Toefl. Harusnya, jeda cuma seminggu dari tes TPA & TOEFL, tapi diundur oleh pihak ITB.

Situasi tes interview nya sendiri adalah tanya jawab dengan satu orang dosen. Saya bersama empat orang lain dikumpulkan dalam satu ruangan. Lalu diberikan artikel tentang situasi perusahaan di tahun 1940 an yang sedang bermasalah. Selanjutnya, kami diminta untuk memahami artikel tersebut dan menjelaskan solusi apa yang bisa diberikan. Dosen akan menanyakan satu per satu pendapat kami dan memberi catatan kecil.

Waktu nya kurang lebih dua jam. Tapi suasananya santai sekali. Profesor yang memberikan pertanyaan terkait artikel tersebut juga sangat cooperatif dan open minded. Saya juga seneng, karena bertemu dengan empat temen baru yang pinter dan asik.

Pengumuman & Bayar Membayar

Apakah semua yang daftar pasti diterima? Awalnya, saya pikir iya. Ternyata, engga. Proses seleksi tersebut menggunakan sistem gugur. Dari 300 an orang yang daftar, untuk angkatan saya yang diterima hanya 50 orang. Ditambah ada 10 an limpahan pendaftar dari semester sebelumnya yang masuk ke waiting list. Jadi, kalau kita masuk ke waiting list – artinya diterima tapi mulai kuliah di semester berikutnya.

Hasil diterima atau tidaknya, diumumkan kurang lebih satu – dua minggu setelah tes interview melalui email. Lalu dilanjutkan dengan menyelesaikan urusan keuangan. Membayar confirmation fee 10 juta dan iuran semester pertama. Urusan pembayaran ini wajib diselesaikan lebih dulu, sebelum benar-benar bisa kuliah disini.

Sidang Terbuka & Penerimaan Mahasiswa Baru MBA – SBM ITB

Kami diwajibkan mengikuti sidang terbuka Magister & Doctoral ITB di Bandung selama 1 hari. Acaranya cuma setengah harian sih, tapi karena ada effort Jakarta – Bandung, otomatis harus meluangkan satu hari penuh. Dalam sidang terbuka ini, kami dikumpulkan bersama semua mahasiswa baru pascasarjana & doctoral yang ada di ITB. Acaranya resmi protokoler, jadi harus rapi dan pakai jas almamater.

Seminggu setelahnya, ada acara penerimaan mahasiswa baru yang diselenggarakan oleh pihak SBM – ITB sendiri di Jakarta untuk mahasiswa MBA dari semua program. Acaranya diselenggarakan di Ancol pada hari Sabtu dari pagi sampai sore. Sifatnya wajib diikuti. Dan acaranya sendiri lebih ke pengenalan satu sama lain dan pemaparan program kuliah serta penilaian selama kuliah akan seperti apa. Oiya, di acara ini juga dibagikan materi mata kuliah pertama. Jadi, kita bisa belajar dulu sebelum kuliah dimulai.

Kalau diruntut, dari pendaftaran , mengikuti serangkaian tes, sampai bisa mulai belajar di kelas membutuhkan waktu 2 bulan. Tapi, saya nggak terlalu banyak ijin. Karena untuk tes TPA & Bahasa Inggris dilakukan saat weekend. Saya ijin hanya satu setengah hari kerja, yaitu saat tes interview (1/2 hari) dan mengikuti sidang terbuka di Bandung (1 hari).

Dan, semua komunikasi dari kampus pasti disampaikan melalui email. Mulai dari pendaftaran pertama sampai menjadi mahasiswa sekarang ini. So, sering-sering cek email buat kalian yang akan daftar disini ya.

Tiga Tahun Pasca Operasi Caesar


Kalau boleh memilih, tentu saya akan pilih melahirkan secara normal. Tapi saat itu, saya lebih ingin bayi lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun tidak bisa dengan cara melahirkan normal.

Tepat tiga tahun sudah, sejak terakhir saya operasi caesar dan anak saya lahir ke dunia. Alhamdulillah, anak saya tumbuh dengan baik. Hubungan antara saya dan anak saya juga baik, meskipun saya lebih sering bekerja di luar rumah. Dia tetap dekat, dan nurut dengan kata-kata saya dan suami.

Lalu apa yang saya rasakan sekarang, setelah tiga tahun pasca caesar?

  • Saya sering capek. Dulu, saya bisa kegiatan aktif banget selama sehari full dalam kondisi yang fit. Sejak melahirkan, kondisi badan saya tidak sekuat dulu. Kalau kerja di kantor, saya sering ngos-ngos an kalau lagi aktif. Ada yang bilang, sekali operasi caesar itu sama seperti tiga kali lahiran normal ya?
  • Muncul keloid di bekas sayatan operasi. Mungkin karena saya tidak rajin mengoles salep nya ya. Tapi well, keloid ini tidak berbahaya meskipun cukup mengganggu. Apalagi kalau ada rambut yang tumbuh di sekelilingnya. Rasanya gatel banget dan kalau digaruk, keloid nya berasa nyut-nyut an. Buru-buru saya harus cabut rambut itu, untuk meredakan gatal.
  • Di punggung – tepatnya tulang belakang – bekas suntikan bius terasa linu, kalau lagi capek banget. Linu nya terpusat di satu titik. Semriwing, seperti apa ya… Well, sulit dijelaskan. Yang pasti tidak terlalu mengganggu tapi cukup menjadi alarm bahwa saya harus segera istirahat.
  • Berat bedan masih nimbun 7 – 10 kg, belum luntur. Haha. Apakah ini efek operasi caesar? Nggak tahu sih ya, karena ada beberapa temen saya yang melahirkan dengan operasi caesar juga, tapi cling…sudah langsing lagi sekarang.

Saya nggak tahu, apakah ini juga terjadi di ibu-ibu yang melahirkan normal atau melalui caesar juga. Tapi, ini yang saya rasakan. Memang, tidak bisa dipungkiri ketika kita memiliki anak – semuanya tidak akan bisa sama lagi seperti dulu. Bentuk badan berubah, daya tahan tubuh juga berubah, dan prioritas-prioritas hidup ikut berubah juga.

Saya tidak mendukung operasi caesar ya. Biar bagaimanapun Tuhan sudah menciptakan jalan keluar bayi dari rahim. Tapi kalaupun ada ibu-ibu yang diharuskan dan terpaksa operasi caesar, saya hanya ingin bilang…. Jalani saja. Jangan dipikir terlalu berat. Kalau saya bisa menjalaninya dengan baik, kalian pasti bisa juga.

Tentunya setiap ibu punya pengalaman yang berbeda pasca operasi caesar ya. Jadi, bagaimana dengan pengalaman ibu-ibu lain nya? Sharing yuk disini. 🙂

PRAY


What doesn’t kill me gonna leave a scar.
It’s true.
But.. Well..
i need more scars to make me stronger.

Every night before I sleep, I always pray and ask God to make me stronger.. even stronger and stronger. Don’t let me down.

Don’t let me give up even for a second.

Don’t let me hurt others.

And this is the way God make me stronger. He give what I want and what I need. If you really want to be stronger..then you have to be more pushed down. You have to be more stabbed from any side. You have to be more hurted by others.

This is the way God make me stronger.

I love You, God..

Telor Dadar Kornet


Telor dadar kornet sudah jadi menu wajib yang selalu dihidangkan seminggu sekali buat saya dan suami. Gampang banget, dan cepat hanya 10 menit untuk membuat telor dadar ini. Selain enak dan cepat, di dalam telor dadar kornet ini juga mengandung banyak protein yang bisa mencukupi gizi selama bulan puasa. Cocok banget deh buat kalian yang pengen sahur cepet tapi tetep sehat.

Dan bikin telor dadar ini, nggak perlu bisa masak. Nggak perlu peralatan canggih. Pakai wadah biasa aja untuk mengocok, dan kalian yang nge-kos plus tiada kompor bisa pakai reskuker untuk memanggang telor nya. Ikutin aja resep saya ini, pasti bisa. Saya bisa bikin sambil merem ngantuk loh. Yuk!

Bahan :

  • 1 butir – Telor ayam
  • 1 sachet kornet
  • 1 siung bawang putih, geprek cincang halus
  • 3 buah cabe rawit, cincang kasar
  • 1/2 sdt – kaldu jamur Totole
  • 2 sdm – Minyak goreng

Cara membuat :

  1. Kocok telur ayam bersama dengan kornet, bawang putih, cabe rawit, & kaldu jamur.
  2. Panaskan minyak goreng dalam wajan
  3. Masukkan kocokan telur ke dalam wajan, dan goreng dengan api kecil agar telor matang seluruhnya. Setelah 3 menit, balik telornya dan jangan terlalu sering digoyang-goyang supaya tidak hancur. Biarkan matang selama 2 menit. (Total goreng telur hanya perlu 5 menit)
  4. Matikan api, dan angkat telurnya. Lalu sajikan bersama nasi putih dalam keadaan hangat.

Untuk bawang-bawangannya sendiri, bisa combine juga dengan bawang bombay atau daun bawang. Kalau pakai bombay akan lebih enak karena ada rasa sedikit gurih manis.

Selamat mencoba!

NB : Saya akan berikan hasil foto telor dadar kornet asli buatan saya yang lebih proper soon ya!