Iya Boleh, Nak…


Meskipun saya adalah seorang perempuan yang sibuk bekerja dan jarang di rumah, tapi untuk selalu dekat dengan anak adalah wajib hukumnya untuk saya. Waktu bersama anak yang terpenting adalah seberapa bagus kualitasnya meskipun itu tidak lama. Saya akan bahas bagaimana saya dan anak tetap bisa dekat meskipun dalam waktu yang singkat dalam postingan terpisah ya. 

Sebagai orang tua, bisa dibilang saya dan suami sangat kompak dalam mendidik anak. Serunya, kami adalah penganut gaya “bebas berekspresi” pada anak dan langsung memberikan contoh yang sama agar anak bisa bereksplorasi sebanyak-banyak nya di usia emasnya sekarang.

Misalnya, saya dan suami suka dansa lucu-lucu an bersama dengan anak. Lalu, nyanyi-nyanyi seru dengan anak. Menggambar bersama. Tebak kuis berhadiah cium. Shalat berjamaah. Berpelukan. Dan, kami juga suka melakukan kegiatan bersama-sama seperti menyiram tanaman, membuat kue, travelling, bermain dengan binatang, dan banyak hal lainnya lagi. Tidak selama seperti ibu rumah tangga lainnya, tapi waktu saya dan anak sangat berkualitas.

Kami jarang banget melarang ini, melarang itu, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Kecuali untuk hal-hal yang berbahaya seperti main kompor berapi, main colokan listrik, dan menyakiti orang lain. Tapi di luar itu, bebas…

Mau main air, soh…

Mau main tanah, soh…

Main lumpur, soh…

Mau main terjun bebas, soh…

Mau main binatang, soh…

Mau gulung-gulung di jalan, soh…

Karena kami menganggap, itu semua adalah bagian dari masa eksplorasi anak. Dan, kebetulan banget. Anak saya adalah anak yang super aktif alias ora iso meneng. Selalu ada saja tingkahnya yang “di luar dugaan dan ajaib”. Untuk orang-orang yang belum terbiasa dengan Elmo, pasti sudah histeris dan heboh.

Tapi untuk saya dan suami, ala… udah biasa. Biarin aja.. Nggak pa – pa..

Continue reading

Advertisements

Tahun Baru, Langit Biru


Kalau diingat-ingat, tahun 2018 adalah tahun yang sulit tapi ternyata bisa saya lewati dengan hati yang bahagia. Ada banyak hal yang membuat saya bangga bisa melalui tahun 2018. Diantaranya, saya bersyukur karena di tahun kemarin saya diberi kesempatan untuk memiliki pekerjaan baru sekaligus rumah baru. Kesempatan yang bukan hanya untuk diterima begitu saja, tapi juga harus diperjuangkan.

Continue reading

Sekedar Menulis di Akhir Pekan


Mungkin ada di antara kalian yang mengalami apa yang saya rasakan saat ini. Tentang, kehilangan jati diri. Terus terang, beberapa waktu ini, saya merenung tentang siapa diri saya dan akan menjadi apa saya nanti. Saya berkarir, bersuami, dan sekarang status bertambah sebagai seorang ibu. Apakah saya bisa menyeimbangkan pilihan-pilihan ini seperti dulu?

Continue reading

Drama Lijo Sayur


Saya tanpa Lijo Sayur, mungkin nggak akan bisa masak enak. Dimanapun saya berada, pasti selalu SKSD dengan para lijo sayur. Mulai di Rewwin, ada mbak Tiwik, & Joko. Lalu, di Rungkut ada pak Topi Merah. Dan, sekarang di Jakarta, ada Pak Asep,  Lijo Sayur favorit saya.

Disini, ada banyak banget Lijo. Semua lijo sayur saya sambangi satu per satu. Entah lijo sayur yang mangkal di pinggir jalan, atau lijo sayur yang ada di kios-kios bawah apartemen. Macem-macem aksennya, ada yang orang sunda, tegal, betawi, sampai orang Jawa. Mulai dari yang ramah, suka kasih diskon total belanjaan, lijo yang hobi dandan, dan sampai ada juga yang jutek banget.

Continue reading

Masak Hemat dan Sehat, Ini Caranya!


Masak dan makan masakan rumahan itu perlu komitmen dari seisi rumah ya. Karena percuma kalau kita udah masak, tapi ujung-ujungnya tetep “njajan” di luar. Malah jadi boros. Kalau sudah diniatkan masak, ya harus dimakan dan dihabiskan bagaimanapun hasilnya. Bila perlu, masakan kita dibuat bekal juga untuk makan siang. Ada yang masih malu bawa bekal dari rumah?

Beda cerita kalau memang sudah diniatkan akan “njajan” di luar. Biasanya saya dan suami kalau lagi bosen makan masakan rumah, kita akan bikin plan untuk beli makan di luar. Entah itu delivery order, nyobain tempat makan baru, atau makan kenyang di warteg. Kalau sudah begitu, berarti saya akan libur masak sehari. Hitung-hitung refreshing lidah. hehe.

Tentunya, episode “njajan di luar” nggak terlalu lama ya. Frekuensinya paling sebulan sekali atau dua kali, dan ketika ada moment special. Ini adalah cara kami untuk memulai hidup sehat dan hemat. Apalagi kami punya anak yang harus dibiasakan dengan masakan rumahan sejak dini.

Kalau masak sendiri, dengan budget kurang dari 1 juta sudah bisa untuk makan tiga kali sehari selama sebulan.  Bisa dibandingkan, kalau kita makan di luar dengan personil 2 kepala dewasa dan 1 anak kecil. Anggap aja, anak kecil nebeng makan sama kita jadi nggak dihitung. Paling nggak bisa 50ribu – 100 ribu lebih sekali makan. Dengan budget yang sama, hanya bisa untuk 10x makan. Kalau sehari makan 3x, berarti kita cuma bisa makan di luar selama 3 hari. Beda jauh banget kan?

Selain itu, masak sendiri di rumah itu juga lebih sehat. Karena semua bahan-bahan masakan bisa kita pilih sendiri, dan peralatan yang dipakai pun lebih higienis.  Berdasarkan pengalaman masak kalau asal masak, jatuhnya bisa boros. Apalagi kalau doyan belanja di tukang sayur, dan tergoda beli bahan-bahan yang nggak kita butuhkan. Bahan masakan numpuk membusuk di kulkas.  Ujung-ujungnya, bahan makanan itu dibuang. 

Agar masak tidak berujung mubadzir sekaligus bisa beneran hemat, ada tips-tips yang bisa kalian praktekkan di dapur masing-masing. Yuk simak!

Continue reading